Trump Pangkas Dana, Bagaimana Nasib Penanganan HIV di Indonesia?

Bimo Aria Fundrika, BBC

Senin, 03 Februari 2025 | 10:50 WIB
Trump Pangkas Dana, Bagaimana Nasib Penanganan HIV di Indonesia?
Ilustrasi HIV. (BBC Indonesia)

Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) khawatir penghentian dana AS akan berdampak pada akses obat HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut Reuters, USAID menginstruksikan mitra dan penerima hibahnya untuk menghentikan kegiatan mulai Selasa (27/01). Ini bagian dari kebijakan Presiden Donald Trump yang membekukan bantuan luar negeri selama tiga bulan. Bahkan, Trump berencana menarik AS dari WHO.

Sebagai donor terbesar, AS menyumbang seperlima anggaran WHO yang mencapai US$6,8 miliar per tahun. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai keluarnya AS tak berdampak besar bagi Indonesia.

Di sisi lain, organisasi nonpemerintah merasakan dampaknya. WHO pun meminta AS memberi pengecualian bagi program penyediaan obat antiretroviral (ARV). Program PEPFAR, yang berjalan di 50 negara, termasuk Indonesia, menjadi sorotan.

Donald Trump [Arsip Kedutaan Besar AS di Italia]
Donald Trump [Arsip Kedutaan Besar AS di Italia]

ARV harus dikonsumsi setiap hari agar HIV tetap terkendali. WHO mencatat, pada akhir 2023, sebanyak 39,9 juta orang di dunia membutuhkannya.

Berbeda dengan beberapa negara Afrika, Indonesia tidak bergantung pada bantuan AS untuk stok ARV.

Meski begitu, Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC), Aditya Wardhana, mengingatkan bahwa banyak komponen program HIV di Indonesia masih didanai donor asing, termasuk AS.

Ia juga menyoroti dampak kebijakan Trump, terutama terkait isu gender, terhadap upaya penanggulangan HIV di Indonesia.

"Dalam pidato inagurasi Trump, dia secara eksplisit mengatakan kebijakan AS hanya mengakui dua gender: laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, program penanggulangan HIV berhubungan erat dengan teman-teman transgender. Prevalensi HIV di Indonesia di transgender cukup tinggi," ujar Aditya.

baca juga

Berdasarkan wawancara dengan pegiat, LSM, dan pengamat kesehatan, BBC News Indonesia berupaya merangkum bagaimana kebijakan Trump mempengaruhi penanggulangan HIV di Indonesia.

Dari Mana Sumber Dana Program HIV di Indonesia?

Laporan tahunan Kementerian Kesehatan mencatat Global Fund sebagai penyumbang utama penanganan HIV di Indonesia.

Pada 2020, sekitar 40,8 persen dana program HIV di Indonesia berasal dari Global Fund. Organisasi ini berfokus pada pemberantasan AIDS, tuberkulosis, dan malaria di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

AS merupakan donor terbesar Global Fund, menyumbang sekitar sepertiga total pendanaannya. Untuk 2023-2025, AS berkomitmen mengalokasikan hingga US$6 miliar.

Selain Global Fund, PEPFAR-USAID juga berkontribusi terhadap program HIV di Indonesia. Pada 2020, proporsinya mencapai 4,8%, menjadikannya donor asing kedua terbesar setelah Global Fund.

Sementara itu, dana dari dalam negeri juga berperan. Pada 2020, APBN menanggung 37,2% pengeluaran program HIV, BPJS 11,2%, sisanya bersumber dari dana daerah.

Di 2024, anggaran kesehatan dalam APBN diproyeksikan mencapai Rp186,4 triliun atau 5,6% dari total APBN, naik 8,1% dari tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC), Aditya Wardhana, kebutuhan ideal untuk program HIV nasional adalah Rp4,8 triliun per tahun.

"Angkanya sebenarnya tidak besar," kata Aditya, yang mendorong agar Indonesia bisa mandiri dalam pendanaan program HIV.

Dampak Pada Penanganan HIV di Indonesia

Ketua Yayasan Spiritia, Daniel Marguari, menegaskan bahwa pendanaan obat HIV di Indonesia bersumber dari APBN.

"Obat HIV ditanggung pemerintah, begitu juga biaya tes HIV," kata Daniel seperti dikutip dari BBC News Indonesia, Rabu (29/01).

Namun, menurutnya, USAID turut mendanai berbagai organisasi di Indonesia yang berfokus pada program pendukung HIV. Kini, organisasi-organisasi tersebut harus menghentikan aktivitasnya sementara akibat kebijakan Trump yang menangguhkan bantuan luar negeri.

Aditya Wardhana, menilai upaya penanggulangan HIV masih sangat bergantung pada peran LSM. Meskipun APBN menanggung penyediaan obat, banyak LSM, termasuk yang didanai PEPFAR-USAID, bertugas mendampingi penyintas HIV.

"Pemerintah tidak paham betapa sulitnya mendorong komunitas untuk tes dan berobat," ujar Aditya.

Apa Saja Obat HIV  (Unsplash)
Apa Saja Obat HIV (Unsplash)

Ia juga mengkritik ketergantungan pemerintah pada bantuan luar negeri.

"Pemerintah seperti lepas tangan. Mereka berpikir, selama obatnya tersedia, biarkan saja LSM terus mencari dana sendiri," katanya.

Saat ini, anggaran program HIV diperkirakan hanya Rp400 miliar, jauh dari kebutuhan ideal Rp4,8 triliun per tahun menurut IAC. "Angka itu sebenarnya tidak besar," ujar Aditya.

Data Kementerian Kesehatan per akhir 2024 mencatat 503.261 orang hidup dengan HIV di Indonesia, namun hanya 351.378 yang mengetahui statusnya.

Artinya, sekitar 30,18 persen masih belum terdeteksi. Dari jumlah tersebut, hanya 217.482 yang telah mendapatkan pengobatan, menunjukkan lebih dari separuhnya belum mengakses terapi.

Aditya menambahkan, penghentian dana USAID membuat organisasi-organisasi ini tidak bisa beroperasi.

"Kami juga belum tahu apakah ini berdampak pada pembayaran gaji. Program PEPFAR mendanai banyak petugas lapangan, mungkin ada ratusan di Jakarta," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Trump Usulkan Kanada Menjadi Negara Bagian ke-51

Trump Usulkan Kanada Menjadi Negara Bagian ke-51

News | Senin, 03 Februari 2025 | 08:10 WIB

23 Militan Kurdi Tewas di Suriah, Eskalasi Serangan Turki Pasca Trump Menjabat

23 Militan Kurdi Tewas di Suriah, Eskalasi Serangan Turki Pasca Trump Menjabat

News | Minggu, 02 Februari 2025 | 20:40 WIB

Guantanamo Jadi Penjara Migran, Trump Kirim 2 Penerbangan Akhir Pekan Ini

Guantanamo Jadi Penjara Migran, Trump Kirim 2 Penerbangan Akhir Pekan Ini

News | Minggu, 02 Februari 2025 | 17:20 WIB

Terkini

4 Shio yang Makin Hoki Setelah 20 September 2026, Hidup Lancar dan Sesuai Rencana

4 Shio yang Makin Hoki Setelah 20 September 2026, Hidup Lancar dan Sesuai Rencana

Lifestyle | Minggu, 20 September 2026 | 06:47 WIB

Review Plastic Beauty: Sisi Gelap Operasi Plastik yang Dikemas Brutal dan Realistis

Review Plastic Beauty: Sisi Gelap Operasi Plastik yang Dikemas Brutal dan Realistis

Your Say | Minggu, 20 September 2026 | 06:40 WIB

Semarak Pembukaan Asian Games 2026

Semarak Pembukaan Asian Games 2026

Foto | Minggu, 20 September 2026 | 06:00 WIB

Bank BSN Perluas Solusi Keuangan Syariah Berbasis Emas

Bank BSN Perluas Solusi Keuangan Syariah Berbasis Emas

Foto | Minggu, 20 September 2026 | 05:00 WIB

Surya Paloh Desak RUU Pemilu Dikebut: Jangan Tunggu Sampai Tahun Depan

Surya Paloh Desak RUU Pemilu Dikebut: Jangan Tunggu Sampai Tahun Depan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 23:45 WIB

Emil Audero Jadi Penyelamat Rayo Vallecano, 2 Kali Gagalkan Peluang Emas Osasuna

Emil Audero Jadi Penyelamat Rayo Vallecano, 2 Kali Gagalkan Peluang Emas Osasuna

Bola | Sabtu, 19 September 2026 | 23:10 WIB

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan, Pegawai SPPG Bantul Dipanggil BGN

Korban Keracunan MBG Jadi Bahan Candaan, Pegawai SPPG Bantul Dipanggil BGN

News | Sabtu, 19 September 2026 | 23:00 WIB

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jawa Tengah | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:35 WIB

×