Kolesterol Jahat Masih Tinggi, 80 Persen Pasien Jantung Gagal Capai Target LDL-C

Nur Khotimah | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Minggu, 07 Desember 2025 | 14:16 WIB
Kolesterol Jahat Masih Tinggi, 80 Persen Pasien Jantung Gagal Capai Target LDL-C
Ilustrasi pasien jantung. (Pexels/Towfiqu barbhuiya)
  • Mayoritas pasien penyakit jantung di Indonesia belum mencapai target LDL kolesterol 70 mg/dL, hanya 8,5% mencapai target risiko sangat tinggi 55 mg/dL.
  • Penyebab kegagalan mencapai target meliputi pola hidup, kepatuhan minum obat tidak teratur, dan pilihan dosis obat yang tidak optimal.
  • Inovasi baru hadir berupa tablet kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin, yang mendukung prinsip penurunan LDL kolesterol secepat dan serendah mungkin.

Suara.com - Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia, termasuk di Indonesia. Namun, penurunan kadar kolesterol jahat pada pasien penyakit jantung masih jauh dari target yang direkomendasikan.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD mengatakan mayoritas pasien penyakit jantung belum mencapai target kolesterol jahat atau low-density lipoprotein cholesterol (LDL-C) di angka 70 mg/dL.

"Lebih dari 80% pasien penyakit jantung koroner di Indonesia belum mencapai target LDL-C 70 mg/dL, dan hanya 8,5% yang mencapai target risiko sangat tinggi 55 mg/dL,” kata dr. Ade di Jakarta, Sabtu (29/12/2025).

Padahal, pasien penyakit jantung termasuk kelompok berisiko tinggi mengalami serangan berulang jika kadar LDL-C berada di atas 70 mg/dL.

Health Harvard Edu menjelaskan bahwa angka 70 mg/dL menjadi fokus utama karena penelitian menunjukkan ketika LDL turun di bawah level tersebut, plak di pembuluh darah dapat mengecil dan menjadi lebih stabil. Kondisi ini menurunkan risiko serangan jantung dan stroke.

Bahkan pedoman kesehatan Eropa menyebutkan untuk kadar kolesterol dikatakan benar-benar aman, khususnya bagi mereka yang sangat berisiko tinggi seperti pernah mengalami serangan jantung dan stroke, maka ia harus mencapai target LDL-C di bawah 55 mg/dL.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD dalam Simposium Ilmiah tema “Future Perspectives on Dual-Pathway Strategies in Cardiovascular Risk Reduction” di Jakarta, Sabtu (29/12/2025) (Suara.com/Dini Afrianti)
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD dalam Simposium Ilmiah tema “Future Perspectives on Dual-Pathway Strategies in Cardiovascular Risk Reduction” di Jakarta, Sabtu (29/12/2025) (Suara.com/Dini Afrianti)

Lebih lanjut, dr. Ade mengungkapkan ada banyak faktor yang membuat kadar kolesterol masyarakat Indonesia sulit dikendalikan, mulai dari pola hidup, kepatuhan minum obat, hingga pilihan obat yang tersedia.

"Saat kolesterol tinggi biasanya mereka minum obat. Tapi minumnya hanya satu dua hari, jadi merasa nggak mempan. Padahal obat ini butuh waktu, paling enggak sebulan untuk menurunkan kolesterol," ujarnya.

Dari sisi jenis obat, pilihan dosis yang tersedia di pasaran pun sering kali terlalu kecil atau terlalu besar, sehingga penanganan tidak optimal. Jika dosis terlalu besar, efek sampingnya juga ikut meningkat.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Daewoong menghadirkan Crezet, yaitu tablet kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin dosis 10/5 mg yang menjadi inovasi baru dalam penanganan dislipidemia di Indonesia.

Dislipidemia sendiri merupakan kondisi ketika kadar LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), serta trigliserida berada di level yang tidak normal.

Obat kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin hadir dalam tiga varian dosis, yakni 10/5 mg, 10/10 mg, dan 10/20 mg yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasien, mulai dari risiko sedang, tinggi, hingga sangat tinggi.

"Pedoman ESC (European Society of Cardiology) menekankan prinsip ‘semakin rendah dan semakin cepat, semakin baik’. Artinya, menurunkan LDL-C sedini mungkin, terutama dengan terapi kombinasi, sangat penting untuk pencegahan," jelas dr. Ade.

Obat kombinasi ini dinilai lebih efektif mengurangi penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis akibat penumpukan lemak. Penyempitan inilah yang bisa memicu serangan jantung hingga stroke.

"Kalau ada penyempitan, itu bisa keras namanya kalsifikasi, atau ada soft plak. Dengan minum obat ini, soft plak-nya bisa hilang, jadi pembuluh darah membaik," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jangan Takut MCU! Ini 9 Hal Penting yang Diperiksa dan Artinya

Jangan Takut MCU! Ini 9 Hal Penting yang Diperiksa dan Artinya

Your Say | Sabtu, 06 Desember 2025 | 11:12 WIB

Kabar Baik Pengganti Transplantasi Jantung: Teknologi 'Heart Assist Device' Siap Hadir di Indonesia

Kabar Baik Pengganti Transplantasi Jantung: Teknologi 'Heart Assist Device' Siap Hadir di Indonesia

Health | Senin, 24 November 2025 | 11:08 WIB

Penyakit Jantung Masih Pembunuh Utama, tapi Banyak Kasus Kini Bisa Ditangani Tanpa Operasi Besar

Penyakit Jantung Masih Pembunuh Utama, tapi Banyak Kasus Kini Bisa Ditangani Tanpa Operasi Besar

Health | Jum'at, 07 November 2025 | 13:42 WIB

Terkini

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Gaya Hidup Modern Picu Risiko Penyakit Kronis, Dokter Tekankan Pentingnya Monitoring Berkala

Health | Jum'at, 24 April 2026 | 08:43 WIB

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Jangan Lewat 4,5 Jam! Dokter Ungkap Golden Period Penanganan Stroke yang Bisa Selamatkan Otak

Health | Kamis, 23 April 2026 | 18:14 WIB

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Bukan Sekadar Datang Bulan, Ini Fakta Penting Menstruasi Remaja yang Sering Disalahpahami

Health | Kamis, 23 April 2026 | 16:09 WIB

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Terbukti Bukan Asal Tren: Susu Flyon Direview dan Direkomendasikan Puluhan Dokter

Health | Rabu, 22 April 2026 | 09:00 WIB

Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran

Bukan Sekadar Main Kartu, Domino Kini Diakui sebagai Olahraga Pikiran

Health | Rabu, 22 April 2026 | 09:00 WIB

DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya

DBD Menular atau Tidak Lewat Sentuhan? Simak Fakta-faktanya

Health | Rabu, 22 April 2026 | 06:40 WIB

AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi

AI Masuk Dunia Wellness: Kursi Pijat Canggih Ini Bisa Baca Stres dan Sesuaikan Relaksasi

Health | Selasa, 21 April 2026 | 19:44 WIB

Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi

Penelitian Baru: Salinitas Air Minum Berkontribusi pada Risiko Hipertensi

Health | Selasa, 21 April 2026 | 18:31 WIB

Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?

Lawan PTM dari Rumah: Mengapa Kampanye Generasi Bersih Sehat Vital Bagi Masa Depan Kita?

Health | Senin, 20 April 2026 | 18:55 WIB

Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar

Mengakhiri Ketergantungan Rujukan, Standar Lab Internasional Kini Tersedia Langsung di Makassar

Health | Senin, 20 April 2026 | 09:32 WIB