- Desa Cibatok 1 Bogor berhasil menekan angka stunting hingga 2,46 persen.
- Program Posyandu Teladan raih penghargaan Posyandu Champion dari Kemenkes RI.
- Kolaborasi multipihak fokus pada pendampingan ibu hamil dan kader kesehatan.
Suara.com - Desa Cibatok 1 Kabupaten Bogor berhasil menurunkan stunting secara signifikan, dari 20 persen menjadi 2,46 persen dalam waktu 2,5 tahun. Angka ini jauh di bawah rerata angka stunting nasional yang masih sebesar 19,8 persen pada 2024.
Penurunan angka stunting di desa tersebut terjadi berkat kolaborasi multipihak antara pemerintah setempat dan pihak swasta melalui program Posyandu Teladan yang digagas sejak 2023 lalu.
Stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan tinggi badan tidak sesuai usia. Penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan nutrisi pada 1.000 hari pertama kehidupan sejak dalam kandungan.
Tak hanya stunting, desa ini juga berhasil menurunkan angka bayi berat lahir rendah (BBLR) dari 37,5 persen menjadi 7,4 persen.
Capaian ini bukan klaim semata. Desa Cibatok 1 telah diakui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sebagai Posyandu Champion pada 26 November 2024.
Program Posyandu Teladan berfokus pada penguatan kapasitas kader kesehatan, disertai perubahan perilaku masyarakat untuk mencegah stunting. Program ini menargetkan ribuan penerima manfaat selama periode 2023 hingga 2025.
Sebanyak 2.017 orang menjadi target program hasil kolaborasi 1000 Days Fund, Yayasan Amanah Bangun Negeri, dan PT Infokes Indonesia. Mereka terdiri dari ibu hamil serta ibu dengan anak bayi di bawah dua tahun (Baduta), yang mendapat kunjungan petugas sebanyak empat hingga lima kali selama 2,5 tahun.
"Setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, sekarang saya lebih percaya diri dalam memberikan penyuluhan kepada sasaran yang datang ke posyandu," ujar Eneng, salah satu kader kesehatan Posyandu Teladan.
Cerita serupa juga datang dari seorang ibu hamil dengan kondisi kekurangan energi kronis (KEK) yang mendapat pendampingan hingga akhirnya melahirkan bayi dengan berat dan tinggi badan normal.
Baca Juga: Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
"Saat hamil saya mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Dari kader posyandu saya mendapat penyuluhan untuk rutin minum tablet tambah darah, cukup istirahat, mengonsumsi protein hewani, dan memeriksakan kehamilan setiap bulan," ujar warga Desa Cibatok 1, Nuzullah.
"Alhamdulillah, saya bisa melahirkan secara normal dengan berat badan bayi 2,9 kilogram dan panjang 49 sentimeter," lanjutnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cibatok 1 Cecep Haeruddin mengatakan waktu 2,5 tahun bukanlah periode yang singkat. Dibutuhkan konsistensi dan komitmen semua pihak untuk mengentaskan stunting, termasuk meneruskan program Posyandu Teladan guna memutus rantai stunting yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
"Pola pendampingan yang dilakukan telah diteruskan melalui kelompok kerja atau satuan petugas yang ada di desa. Harapannya, kader posyandu tetap aktif dan dapat melanjutkan program yang telah terbangun," ungkap Cecep.