Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi

Yasinta Rahmawati, Fajar Ramadhan

Kamis, 22 Januari 2026 | 12:14 WIB
Fokus Turunkan Stunting, PERSAGI Dorong Edukasi Anak Sekolah tentang Pola Makan Bergizi
Ilustrasi anak sekolah (Freepik)
  • Angka stunting nasional menurun signifikan dari 37,2% pada 2013 menjadi 19,8% pada 2024, sejalan peningkatan kualitas SDM.
  • PERSAGI mengadakan edukasi gizi serentak di ribuan sekolah untuk menjadikan siswa sebagai agen perubahan perilaku makan sehat.
  • Edukasi gizi menekankan empat pilar Pedoman Gizi Seimbang serta pemahaman nutrisi untuk mencegah kenaikan stunting di masa depan.

Suara.com - Hari Gizi Nasional menjadi pengingat berbagai tantangan bagi dunia kesehatan, salah satunya masalah stunting. Lantaran, angka stunting menunjukkan gambaran pemenuhan gizi bagi anak-anak Indonesia.

Di Indonesia sendiri, angka stunting rupanya sudah menurun selama 10 tahun terakhir. Ketua Umum DPP PERSAGI, Doddy Izwardy mengungkap, angka stunting menurun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 19,8 persen pada 2024.

Doddy mengatakan, penurunan angka ini juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang juga lebih baik. Hal itu berkaitan dengan pemberian makanan yang jauh lebih bergizi.

“Kalau dihitung, penurunannya sekitar 1,3 sampai 1,5 persen per tahun. Ini bukan angka kecil. Dan kenapa stunting ini penting? Karena ini berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas SDM, terutama dari sisi kognitif, lewat makanan yang diberikan,” beber Doddy dalam agenda Edukasi Gizi Serentak di Titik Lokasi Sekolah Seluruh Indonesia, Rabu (21/1/2026).

Dalam menjaga pemenuhan gizi ini, perlu adanya edukasi yang dilakukan, tidak hanya kepada orang tua, tetapi juga anak-anak sekolah. Dalam hal ini, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menggelar edukasi gizi serentak di ribuan sekolah di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini tak hanya bertujuan memecahkan rekor, tetapi juga menyiapkan anak-anak sekolah sebagai agent of change atau agen perubahan pola makan sehat di lingkungan keluarga.

Program ini bertujuan untuk mencapai keberhasilan penerapan Pedoman Gizi Seimbang, yang memiliki empat pilar: makan beragam, aktivitas fisik, minum air putih yang cukup, serta konsumsi buah dan sayur.

Dengan program ini, menekankan pemahaman para guru dan anak-anak pemahaman terkait kualitas makan di sekolah. Dengan begitu, kebiasaan makan bergizi tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi dibawa kebiasaannya ke rumah.

Anak-anak didorong memahami bahwa dalam satu piring makan harus ada sumber karbohidrat, protein, serta vitamin dan mineral.

“Jadi jangan sampai anak-anak dan guru berpikir, ‘oh saya sudah dikasih makan, selesai’. Yang kita kejar adalah perubahan perilaku makan. Mudah-mudahan ini membawa mereka jadi agent of change di keluarga,” jelasnya.

Kenapa Anak Sekolah?

Perubahan yang dimulai dari bangku sekolah ini juga tidak sembarangan. Doddy menjelaskan, PERSAGI ingin memutus mata rantai masalah gizi lewat pendekatan yang lebih panjang.

Seperti diketahui, 8.000 hari pertama kehidupan, atau sekitar 19 tahun anak bergelut di bangku sekolah hingga lulus SMA. Dengan pendidikan dari bangku sekolah, pemahaman anak akan gizi ini akan jauh lebih baik. Nantinya itu akan bermanfaat ketika mereka membangun rumah tangga dan memiliki anak.

“Supaya remaja putra-putri ini, sebelum nanti berumah tangga, sudah paham bahwa stunting itu penting, paham sumber makanan seperti apa yang dibutuhkan,” ujar Doddy.

Untuk itu perlu adanya perubahan dan pemahaman sejak dini sehingga pemenuhan gizi anak dapat dengan maksimal. Doddy berharap edukasi yang dilakukan bisa konsisten dan tidak terbaikan. Pasalnya, jika terabaikan, hal ini dikhawatirkan dapat membuat angka stunting kembali naik.

“Kalau edukasi ini terabaikan, kita khawatir kasusnya akan naik lagi,” pungkasnya.

Terkait program yang dijalankan PERSAGI, ini melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55 ribu peserta didik, serta sekitar 18 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Kegiatan tersebut bertujuan memecah rekor MURI, sekaligus mendorong anak menjadi sebagai agent of change atau agen perubahan pola makan sehat di lingkungan keluarga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fakta Penting Stunting dan Upaya Nyata Mengatasinya

Fakta Penting Stunting dan Upaya Nyata Mengatasinya

News | Kamis, 15 Januari 2026 | 15:42 WIB

Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan

Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan

Health | Sabtu, 10 Januari 2026 | 05:49 WIB

Makan Bergizi Gratis Jadi Andalan Tekan Stunting di Tamansari Bogor

Makan Bergizi Gratis Jadi Andalan Tekan Stunting di Tamansari Bogor

Foto | Selasa, 16 Desember 2025 | 20:13 WIB

Terkini

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:57 WIB

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 14:09 WIB

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:10 WIB

Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional

Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional

Health | Selasa, 09 Juni 2026 | 08:05 WIB

Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus

Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 16:48 WIB

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 14:30 WIB

Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya

Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya

Health | Senin, 08 Juni 2026 | 11:00 WIB

Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak

Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak

Health | Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:12 WIB

Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya

Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya

Health | Sabtu, 06 Juni 2026 | 10:23 WIB

Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir

Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir

Health | Sabtu, 06 Juni 2026 | 10:05 WIB