- Angka stunting nasional menurun signifikan dari 37,2% pada 2013 menjadi 19,8% pada 2024, sejalan peningkatan kualitas SDM.
- PERSAGI mengadakan edukasi gizi serentak di ribuan sekolah untuk menjadikan siswa sebagai agen perubahan perilaku makan sehat.
- Edukasi gizi menekankan empat pilar Pedoman Gizi Seimbang serta pemahaman nutrisi untuk mencegah kenaikan stunting di masa depan.
Suara.com - Hari Gizi Nasional menjadi pengingat berbagai tantangan bagi dunia kesehatan, salah satunya masalah stunting. Lantaran, angka stunting menunjukkan gambaran pemenuhan gizi bagi anak-anak Indonesia.
Di Indonesia sendiri, angka stunting rupanya sudah menurun selama 10 tahun terakhir. Ketua Umum DPP PERSAGI, Doddy Izwardy mengungkap, angka stunting menurun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 19,8 persen pada 2024.
Doddy mengatakan, penurunan angka ini juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang juga lebih baik. Hal itu berkaitan dengan pemberian makanan yang jauh lebih bergizi.
“Kalau dihitung, penurunannya sekitar 1,3 sampai 1,5 persen per tahun. Ini bukan angka kecil. Dan kenapa stunting ini penting? Karena ini berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas SDM, terutama dari sisi kognitif, lewat makanan yang diberikan,” beber Doddy dalam agenda Edukasi Gizi Serentak di Titik Lokasi Sekolah Seluruh Indonesia, Rabu (21/1/2026).
Dalam menjaga pemenuhan gizi ini, perlu adanya edukasi yang dilakukan, tidak hanya kepada orang tua, tetapi juga anak-anak sekolah. Dalam hal ini, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menggelar edukasi gizi serentak di ribuan sekolah di seluruh Indonesia.
Kegiatan ini tak hanya bertujuan memecahkan rekor, tetapi juga menyiapkan anak-anak sekolah sebagai agent of change atau agen perubahan pola makan sehat di lingkungan keluarga.
Program ini bertujuan untuk mencapai keberhasilan penerapan Pedoman Gizi Seimbang, yang memiliki empat pilar: makan beragam, aktivitas fisik, minum air putih yang cukup, serta konsumsi buah dan sayur.
Dengan program ini, menekankan pemahaman para guru dan anak-anak pemahaman terkait kualitas makan di sekolah. Dengan begitu, kebiasaan makan bergizi tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi dibawa kebiasaannya ke rumah.
Anak-anak didorong memahami bahwa dalam satu piring makan harus ada sumber karbohidrat, protein, serta vitamin dan mineral.
Baca Juga: Ahli Gizi: Pahlawan Super yang Cuma Ditelfon Kalau Badan Sudah Ngeluh Keras
“Jadi jangan sampai anak-anak dan guru berpikir, ‘oh saya sudah dikasih makan, selesai’. Yang kita kejar adalah perubahan perilaku makan. Mudah-mudahan ini membawa mereka jadi agent of change di keluarga,” jelasnya.
Kenapa Anak Sekolah?
Perubahan yang dimulai dari bangku sekolah ini juga tidak sembarangan. Doddy menjelaskan, PERSAGI ingin memutus mata rantai masalah gizi lewat pendekatan yang lebih panjang.
Seperti diketahui, 8.000 hari pertama kehidupan, atau sekitar 19 tahun anak bergelut di bangku sekolah hingga lulus SMA. Dengan pendidikan dari bangku sekolah, pemahaman anak akan gizi ini akan jauh lebih baik. Nantinya itu akan bermanfaat ketika mereka membangun rumah tangga dan memiliki anak.
“Supaya remaja putra-putri ini, sebelum nanti berumah tangga, sudah paham bahwa stunting itu penting, paham sumber makanan seperti apa yang dibutuhkan,” ujar Doddy.
Untuk itu perlu adanya perubahan dan pemahaman sejak dini sehingga pemenuhan gizi anak dapat dengan maksimal. Doddy berharap edukasi yang dilakukan bisa konsisten dan tidak terbaikan. Pasalnya, jika terabaikan, hal ini dikhawatirkan dapat membuat angka stunting kembali naik.