Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang

Husna Rahmayunita | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Senin, 16 Februari 2026 | 09:06 WIB
Indonesia Krisis Dokter Jantung Anak, Antrean Operasi Capai Lebih dari 4.000 Orang
Ilustrasi operasi jantung. sejumlah tenaga medis melaksanakan operasi bypass jantung di RSUP Dr. Johannes Leimena, Ambon, Maluku, pada Jumat (3/10/2025) [Suara.com/ANTARA/HO - Kementerian Kesehatan]
  • Antrean operasi jantung anak di Indonesia mencapai lebih dari 4.000 pasien.

  • Indonesia hanya memiliki 100 dokter spesialis jantung anak saat ini.

  • Setiap tahun 45.000 bayi lahir dengan kondisi Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Suara.com - Terbatasnya jumlah dokter spesialis jantung anak di Indonesia membuat antrean operasi jantung mencapai lebih dari 4.000 orang. Padahal setiap tahunnya ada 45.000 anak lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia.

Antrean ini terjadi di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, yang merupakan rumah sakit rujukan nasional penyakit jantung dari berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K), FIHA mengatakan antrean operasi jantung yang mengular ini terjadi akibat terbatasnya jumlah dokter spesialis jantung anak hingga dokter bedah jantung di Indonesia.

"Ada yang tahu nggak berapa jumlah dokter jantung anak di Indonesia? Di Indonesia itu hanya ada 100 orang. Kami (dokter jantung anak) dari PERKI, cuma ada 50 orang," ungkap dr. Oktavia saat menggelar skrining PJB gratis bersama dengan GE HealthCare Indonesia di SD Negeri Makasar 03, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Jumlah ini di luar dari total dokter spesialis jantung di Indonesia yang baru mencapai 2.000 orang. Kurangnya dokter jantung ini juga membuat anak dengan PJB harus ke kota besar seperti di RSJPD Harapan Kita untuk mendapat pengobatan, bahkan jika harus dioperasi tak ayal harus menunggu antrean selama berbulan-bulan hingga tahunan.

Penyakit jantung bawaan adalah kelainan jantung yang diderita seseorang sejak lahir. Tingkat keparahan PJB beragam, mulai dari kelainan ringan mencakup lubang kecil pada jantung. Lalu kelainan berat seperti tidak lengkapnya struktur jantung.

Dokter Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah, dr. Oktavia Lilyasari Sp.JP (K)FIHA Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita di  SDN Negeri Makasar 03, Jakarta, Kamis (12/2/2026). (Suara.com/Dini Afrianti)
Dokter Spesialis Jantung Dan Pembuluh Darah, dr. Oktavia Lilyasari Sp.JP (K)FIHA Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita di SD Negeri Makasar 03, Jakarta, Kamis (12/2/2026). (Suara.com/Dini Afrianti)

"Sehingga makanya, banyak dari anak-anak di seluruh Indonesia itu dikirimnya ke mana? Ke pusat, ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Apalagi kalau kasusnya sudah kompleks," papar dr. Oktavia.

"Itu yang mau dioperasi, antreannya hanya untuk didiskusikan, ini operasinya mau apa, mau kapan operasinya, itu antreannya sudah lebih dari 4.000 orang," lanjut dr. Oktavia.

Ini karena berdasarkan hitung-hitungan di RSJPD Harapan Kita hanya bisa menangani 2.500 kasus penyakit jantung bawaan. Angka ini sangat jauh dari 45.000 anak lahir dengan PJB setiap tahunnya di Indonesia.

Fakta diungkap dr. Oktavia berdasarkan percakapan antara Direktur RSJPD Harapan Kita, dr. Iwan Dakota dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Saat itu dr. Iwan mengatakan gabungan RSJPD Harapan Kita dan rumah sakit di daerah, penanganan PJB maksimal 5.000 kasus per tahun.

"(Menkes bertanya) di luar-luar bisa berapa? Ya ditotal mungkin 5.000 (kasus PJB) sudah pakai bedah dan non-bedah," cerita dia.

"Beliau (Menkes) nanya, kalau kalian (RSJPD Harapan Kita) cuma bisa menjangkau 5.000 kasus, yang lahir dengan PJB 45.000 per tahun, sisanya ke mana? Jawabannya dr. Iwan, itu adalah seleksi alam. Makanya saya bilang itulah yang jadi masalah besar sebenarnya di kita," sambung dr. Oktavia.

Di saat antrean operasi yang lama itu, dr. Oktavia lantas mengungkap fakta mengiris hati lantaran banyaknya kasus yang tidak bisa ditangani karena keterbatasan jumlah dokter dan fasilitas bedah, yaitu adanya 'seleksi alam'.

Selain operasi jantung pada anak yang terlahir dengan PJB, dr. Oktavia juga mengingatkan pentingnya data utuh tentang prevalensi penyakit jantung bawaan pada anak di Indonesia. Inilah sebabnya pentingnya skrining PJB seperti yang digelar Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dan GE HealthCare (GEHC) secara cuma-cuma.

Skrining yang menargetkan siswa sekolah dasar dan santri pondok pesantren, tidak hanya untuk mendeteksi kelainan jantung sejak dini, tetapi juga sebagai langkah awal pengumpulan data skrining PJB secara nasional yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai gambaran PJB di Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa

Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa

Health | Selasa, 10 Februari 2026 | 19:09 WIB

3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan

3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan

Health | Rabu, 28 Januari 2026 | 16:40 WIB

Jalani Operasi Jantung Berisiko, Roberto Carlos Keluar dari Masa Kritis

Jalani Operasi Jantung Berisiko, Roberto Carlos Keluar dari Masa Kritis

Bola | Rabu, 31 Desember 2025 | 19:08 WIB

Terkini

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 12:13 WIB

Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026

Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 11:05 WIB

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 09:20 WIB

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB