- Pemerintah memperkuat perlindungan anak digital melalui PP TUNAS, namun regulasi saja tidak cukup efektif tanpa peran keluarga.
- Pendekatan pelarangan total media sosial sering gagal karena anak mencari celah; dialog terbuka lebih disarankan pakar.
- Literasi digital harus dimulai di rumah dengan komunikasi terbuka agar anak mampu berpikir kritis menghadapi risiko daring.
Anak perlu dibekali pemahaman bahwa:
- Tidak semua informasi di internet benar.
- Jejak digital bersifat permanen.
- Menghormati orang lain berlaku juga di dunia maya.
- Tidak semua ajakan pertemanan aman.
Sekolah memang mulai memasukkan literasi digital dalam kurikulum. Negara juga berperan sebagai “wasit” agar platform tidak abai terhadap keselamatan pengguna anak. Namun, pendamping pertama dan utama tetaplah keluarga.
Tanpa percakapan yang hangat dan konsisten, aturan hanya menjadi pagar tinggi—yang suatu saat bisa saja dilompati.
Dari Kontrol ke Kepercayaan
Membangun kepercayaan memang lebih sulit dibanding memasang pembatasan. Tapi hasilnya jauh lebih kuat.
Anak yang merasa dipercaya cenderung:
- Lebih terbuka ketika menghadapi masalah online.
- Tidak takut mengaku jika melihat konten yang mengganggu.
- Lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Ruang digital pada akhirnya adalah bagian dari realitas hidup generasi hari ini. Menjauhkan sepenuhnya mungkin terasa aman dalam jangka pendek, tetapi membekali dengan pemahaman akan jauh lebih berdampak dalam jangka panjang.
Di era menuju generasi emas 2045, tantangan terbesar bukan hanya memastikan anak terlindungi dari bahaya internet, tetapi memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, kritis, dan beretika—baik di dunia nyata maupun digital.