- Kadar kolesterol tinggi berisiko menyebabkan penyakit jantung dan stroke karena sering kali muncul tanpa gejala klinis yang nyata.
- Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan 39,5 persen penduduk memiliki kadar kolesterol tinggi sehingga deteksi dini sangatlah krusial dilakukan.
- Pencegahan komplikasi kardiovaskular dapat dilakukan melalui pemeriksaan rutin sejak usia 20 tahun serta penerapan pola hidup sehat.
Suara.com - Kolesterol tinggi masih menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke yang kerap luput disadari. Pasalnya, kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala sehingga banyak orang baru mengetahui kadar kolesterolnya sudah tinggi setelah mengalami komplikasi.
Padahal, penyakit kardiovaskular hingga kini masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Karena itu, para ahli menekankan pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara rutin agar risiko penyakit dapat dicegah sejak awal.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC, menjelaskan bahwa kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel sehat, memproduksi hormon, serta membantu pembentukan vitamin D. Namun, jika kadarnya berlebihan, terutama kolesterol LDL (low-density lipoprotein) atau yang dikenal sebagai kolesterol jahat, risiko penyumbatan pembuluh darah akan meningkat.
"Kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh, tetapi jika kadarnya berlebihan dapat menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Kolesterol tinggi juga sering kali tidak bergejala, sehingga banyak pasien baru mengetahui kondisinya setelah terjadi komplikasi," ujar dr. Nancy.
Menurutnya, pengendalian kadar LDL secara optimal dapat membantu menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular di kemudian hari.
Siapa yang Perlu Periksa Kolesterol?
Pemeriksaan kolesterol tidak hanya diperuntukkan bagi orang lanjut usia. dr. Nancy menyarankan setiap orang mulai menjalani pemeriksaan profil lipid sejak usia 20 tahun, terutama jika memiliki faktor risiko seperti obesitas, diabetes, hipertensi, riwayat keluarga dengan penyakit jantung, atau kebiasaan merokok.
Pemeriksaan yang dianjurkan meliputi kadar kolesterol total, LDL, HDL (kolesterol baik), dan trigliserida. Frekuensi pemeriksaan selanjutnya akan disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan faktor risiko masing-masing individu.

Selain pemeriksaan laboratorium, masyarakat juga disarankan melakukan medical check-up secara berkala yang mencakup pemeriksaan gula darah, tekanan darah, hingga kesehatan jantung.
Kadept. Medis Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Reinaldo, mengatakan langkah tersebut penting mengingat tingginya angka kolesterol di Indonesia.
"Menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023 dari Kementerian Kesehatan, sebanyak 39,5 persen penduduk Indonesia memiliki kadar kolesterol yang sudah di atas kategori normal atau termasuk tidak aman. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat rentan terhadap risiko gangguan kesehatan jantung."
Gaya Hidup Berperan Besar
Selain pemeriksaan rutin, perubahan gaya hidup menjadi langkah utama untuk mengendalikan kadar kolesterol. Pola makan rendah lemak jenuh dan lemak trans, memperbanyak konsumsi buah, sayur, serta makanan tinggi serat dapat membantu menjaga kadar kolesterol tetap normal.
Aktivitas fisik juga tidak kalah penting. Dokter merekomendasikan olahraga intensitas sedang setidaknya 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, menghindari rokok, serta membatasi konsumsi alkohol.
Pada kondisi tertentu, terutama jika perubahan gaya hidup belum cukup menurunkan kadar LDL, dokter dapat memberikan terapi obat, seperti statin maupun terapi non-statin, sesuai kondisi masing-masing pasien.