Dikembangkan di Indonesia, Teknologi AI Kini Bisa Bantu Dokter Deteksi Risiko Gagal Jantung Kambuh

Vania Rossa

Selasa, 14 Juli 2026 | 22:40 WIB
Dikembangkan di Indonesia, Teknologi AI Kini Bisa Bantu Dokter Deteksi Risiko Gagal Jantung Kambuh
Dr. dr. Rony M. Santoso, Sp.JP, Subsp.K.I(K), FIHA, peneliti utama NAVI-HF sekaligus Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi Kardiovaskular di Primaya Hospital Tangerang. (Suara.com)
baca 10 detik
  • dr. Rony M. Santoso mengembangkan alat NAVI-HF berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi penumpukan cairan paru pada pasien gagal jantung.
  • Alat ini mampu mendeteksi risiko kekambuhan dengan akurasi 86 persen, membantu dokter menentukan kesiapan pasien untuk pulang dari rumah sakit.
  • Inovasi ini bertujuan meningkatkan akurasi diagnosis serta mengurangi angka rawat ulang pasien gagal jantung di fasilitas kesehatan Indonesia.

Suara.com - Gagal jantung masih menjadi salah satu penyakit kardiovaskular dengan angka kematian dan rawat ulang yang tinggi di Indonesia. Banyak pasien harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit hanya beberapa waktu setelah dipulangkan karena kondisi mereka kembali memburuk.

Salah satu penyebabnya adalah masih adanya penumpukan cairan di paru-paru (residual pulmonary congestion) yang luput terdeteksi sebelum pasien diperbolehkan pulang. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa gagal jantung belum benar-benar terkendali.

Masalahnya, pemeriksaan untuk mendeteksi kongesti paru selama ini umumnya membutuhkan alat khusus seperti Lung Ultrasound atau pemeriksaan darah NT-proBNP. Selain memerlukan biaya lebih besar, metode tersebut juga membutuhkan fasilitas dan tenaga kesehatan yang terlatih.

Berangkat dari tantangan tersebut, dr. Rony M. Santoso, SpJP, SubSp.K.I(K), FIHA, dokter spesialis jantung konsultan kardiovaskular intervensi yang berpraktik di Primaya Hospital Tangerang, mengembangkan Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure (NAVI-HF). Inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) ini merupakan bagian dari penelitian disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Berbeda dengan stetoskop konvensional yang mengandalkan kemampuan pendengaran dokter, NAVI-HF bekerja dengan merekam suara dada pasien dari lima titik pemeriksaan selama sekitar satu menit. Rekaman tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mendeteksi tanda-tanda penumpukan cairan di paru yang berpotensi memicu kekambuhan gagal jantung.

Menurut dr. Rony, alat ini bukan dibuat untuk menggantikan dokter, melainkan menjadi pendukung dalam pengambilan keputusan klinis sehingga pasien berisiko tinggi dapat dikenali lebih cepat.

"Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan gagal jantung adalah memastikan kondisi pasien benar-benar stabil sebelum pulang dari rumah sakit. NAVI-HF kami kembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi pasien yang masih berisiko mengalami perburukan melalui alat yang sederhana, portabel, dan didukung teknologi AI," ujarnya.

Dengan deteksi yang lebih dini, dokter dapat menentukan apakah pasien masih memerlukan pemantauan intensif atau penyesuaian terapi sebelum meninggalkan rumah sakit.

Hasil penelitian terhadap 246 pasien gagal jantung akut menunjukkan NAVI-HF memiliki performa diagnostik yang menjanjikan. Alat ini mencatat akurasi 86 persen, sensitivitas 91 persen, dan spesifisitas 82 persen jika dibandingkan dengan pemeriksaan Lung Ultrasound sebagai standar acuan.

baca juga

Tak hanya itu, pemantauan selama enam bulan menemukan bahwa pasien dengan hasil pemeriksaan NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang akibat gagal jantung dibandingkan pasien dengan hasil negatif.

Ke depan, teknologi ini juga dinilai berpotensi mendukung layanan telemedicine dan pemantauan pasien dari rumah (home-based monitoring). Dengan demikian, kondisi pasien dapat terus dipantau tanpa harus selalu datang ke rumah sakit.

"Kami berharap inovasi ini dapat mendukung deteksi yang lebih dini, membantu dokter dalam pengambilan keputusan klinis, sekaligus mengurangi risiko rawat ulang akibat gagal jantung," kata dr. Rony.

Pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia medis terus berkembang, termasuk di bidang kardiologi. Kehadiran NAVI-HF menjadi salah satu contoh bagaimana AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan membantu dokter memberikan penanganan yang lebih tepat, sehingga kualitas hidup pasien gagal jantung dapat meningkat sekaligus mengurangi beban layanan kesehatan di Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Samsung Salip Apple Saat Pasar Smartphone Terpuruk, Kok Bisa?

Samsung Salip Apple Saat Pasar Smartphone Terpuruk, Kok Bisa?

Your Say | Selasa, 14 Juli 2026 | 20:15 WIB

ITS Ciptakan Traktor Perahu Listrik, Bisa Bajak Sawah 1 Hektare Sekali Cas

ITS Ciptakan Traktor Perahu Listrik, Bisa Bajak Sawah 1 Hektare Sekali Cas

Foto | Selasa, 14 Juli 2026 | 18:32 WIB

Tak Sekadar Chatbot, Investor Ritel Bisa Manfaatkan AI untuk Analisis Saham

Tak Sekadar Chatbot, Investor Ritel Bisa Manfaatkan AI untuk Analisis Saham

Bisnis | Selasa, 14 Juli 2026 | 16:28 WIB

Terkini

Ekosistem Produk Obat Derivat Plasma Mulai Dibangun, Indonesia Siapkan Jaringan Bank Plasma

Ekosistem Produk Obat Derivat Plasma Mulai Dibangun, Indonesia Siapkan Jaringan Bank Plasma

Health | Selasa, 14 Juli 2026 | 19:06 WIB

Orang Tua Kian Selektif, Flyon Kids Jadi Pilihan Penambah Nafsu Makan Anak

Orang Tua Kian Selektif, Flyon Kids Jadi Pilihan Penambah Nafsu Makan Anak

Health | Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00 WIB

Review Hepaherb, Suplemen Herbal untuk Mendukung Kesehatan Hati pada Penderita Hepatitis

Review Hepaherb, Suplemen Herbal untuk Mendukung Kesehatan Hati pada Penderita Hepatitis

Health | Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00 WIB

Mikroplastik Ditemukan dalam Darah, Plasenta, hingga Otak: Apa yang Sudah Diketahui Ilmuwan?

Mikroplastik Ditemukan dalam Darah, Plasenta, hingga Otak: Apa yang Sudah Diketahui Ilmuwan?

Health | Senin, 13 Juli 2026 | 14:59 WIB

Benjolan Hilang-Timbul pada Anak Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Hernia

Benjolan Hilang-Timbul pada Anak Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Hernia

Health | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:41 WIB

Waspada! Anak Jarang Main di Luar Rumah Berisiko Premiopia hingga Mata Minus Sebelum 8 Tahun

Waspada! Anak Jarang Main di Luar Rumah Berisiko Premiopia hingga Mata Minus Sebelum 8 Tahun

Health | Minggu, 12 Juli 2026 | 16:50 WIB

Rahasia Anak Percaya Diri, Beri Ruang untuk Bereksplorasi dan Menunjukkan Bakat

Rahasia Anak Percaya Diri, Beri Ruang untuk Bereksplorasi dan Menunjukkan Bakat

Health | Minggu, 12 Juli 2026 | 13:21 WIB

Tekanan Kerja Meningkat, Perhatian terhadap Kesehatan Mental Karyawan Dinilai Makin Mendesak

Tekanan Kerja Meningkat, Perhatian terhadap Kesehatan Mental Karyawan Dinilai Makin Mendesak

Health | Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:14 WIB

Mengenal Shin Splints, Momok bagi Pelari dan Cara Mengatasinya

Mengenal Shin Splints, Momok bagi Pelari dan Cara Mengatasinya

Health | Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:01 WIB

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Health | Jum'at, 10 Juli 2026 | 15:09 WIB

×