- Prof. Shamira Asith Perera menjelaskan bahwa glaukoma merusak saraf optik secara permanen dan berbeda dengan katarak.
- Penyakit yang dijuluki pencuri penglihatan diam-diam ini menggerogoti penglihatan tepi tanpa gejala awal bagi penderitanya.
- Teknologi medis modern seperti terapi laser dan bedah minim invasif dapat menghentikan laju kerusakan glaukoma.
Suara.com - Hanya satu milimeter. Sekecil itulah area saraf optik yang menjadi penghubung antara mata dan otak. Melalui jalur mungil yang lebarnya bahkan hanya sekitar setengah jari itu, seluruh informasi visual diproses sehingga kita dapat melihat dunia dengan jelas. Namun ketika saraf ini rusak akibat glaukoma, penglihatan yang hilang tak lagi bisa dikembalikan.
Direktur MedTech Conference sekaligus Pakar Glaukoma dari Singapore National Eye Center (SNEC), Prof. Shamira Asith Perera, membagikan wawasan penting mengenai bahaya laten glaukoma serta cara tepat menyikapinya.
Salah Kaprah Umum: Menganggap Glaukoma Sama Seperti Katarak
Salah satu masalah besar dalam edukasi kesehatan mata di masyarakat adalah kecenderungan menyamakan glaukoma dengan katarak. Padahal, keduanya adalah kondisi yang sangat berbeda dengan konsekuensi yang jauh berbeda pula.
Pada katarak, masalah utama terletak pada keruhnya lensa mata. Kerusakan ini sifatnya bisa dipulihkan total (reversible). Jadi, ketika penderita katarak menjalani operasi penggantian lensa, penglihatannya bisa kembali jernih dalam waktu singkat.
"Masyarakat sangat familiar dengan katarak," jelas Prof. Shamira.
"Mereka berpikir, 'Oh pandangan saya kabur, tinggal datang ke klinik katarak, operasi, dan besoknya bisa melihat terang lagi untuk kembali bekerja.' Lalu ketika mereka didiagnosis glaukoma, mereka mengira penanganannya akan sama. Padahal tidak seperti itu."
Glaukoma merusak saraf optik—bagian dari sistem saraf pusat yang mirip dengan sel otak dan tidak dapat meregenerasi atau tumbuh kembali.
"Kerusakan akibat glaukoma bersifat permanen (irreversible). Apa pun bagian penglihatan yang sudah hilang, akan hilang selamanya. Tidak ada obat, suplemen, atau operasi yang bisa mengembalikan jaringan saraf yang sudah mati," tegas Prof. Shamira.
Mengapa Disebut 'Pencuri Penglihatan Diam-Diam'?
Glaukoma merupakan jajaran penyakit mata yang merusak saraf optik dan menjadi penyebab utama kebutaan permanen di seluruh dunia. Lebih dari 50 persen penderitanya bahkan tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini hingga kondisinya sudah cukup parah.
Berbeda dengan katarak yang langsung membuat pandangan tampak seperti tertutup embun atau kabur di tengah, glaukoma bekerja secara halus dan merayap dari pinggir.
"Penyakit ini kerap tidak memberikan sinyal awal," kata Prof. Shamira.
Kerusakan saraf mata akibat glaukoma menggerogoti penglihatan tepi (samping) terlebih dahulu, bukan penglihatan sentral.
Karena area tengah masih jernih dan mata sebelah masih bisa mengompensasi, otak manusia secara otomatis 'mengisi' celah bidang pandang yang hilang dengan rekayasa gambaran visual. Penderita biasanya baru menyadari ada yang salah ketika mereka mulai sering menabrak pintu atau benda di sekitarnya. Pada tahap tersebut, kerusakan saraf sudah sangat lanjut.

Tekanan Mata dan Ketahanan Saraf
Secara alami, bola mata memproduksi dan mengalirkan cairan untuk menjaga bentuk serta fungsinya. Glaukoma umumnya terjadi ketika saluran pembuangan cairan alami tersebut tersumbat, sehingga cairan menumpuk dan tekanan di dalam bola mata meningkat. Tekanan inilah yang menekan dan merusak saraf optik di belakang mata.
Namun, Prof. Shamira meluruskan bahwa glaukoma bukan melulu soal tingginya angka tekanan mata.
"Ini adalah interaksi antara tingkat tekanan di dalam mata dan ketahanan saraf itu sendiri," jelasnya.
"Di beberapa kawasan Asia, banyak ditemukan normal-tension glaucoma—kondisi di mana tekanan mata seseorang tergolong normal, tetapi saraf optiknya lemah. Akibatnya, tekanan yang normal pun tetap sanggup merusak saraf tersebut."
Siapa yang Paling Berisiko?
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena glaukoma antara lain:
- Faktor Usia: Risiko meningkat signifikan bagi mereka yang memasuki usia 40 tahun ke atas.
- Riwayat Keluarga: Jika ada orang tua atau saudara kandung yang mengidap glaukoma, risiko Anda bisa melonjak hingga 6 kali lipat.
- Mata Minus Tinggi (High Myopia): Penderita minus berat memiliki risiko 3 kali lebih tinggi dibanding populasi umum.
- Penggunaan Steroid: Penggunaan obat-obatan jenis steroid jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat memicu kenaikan tekanan mata.
Harapan Baru Melalui Teknologi Penanganan Modern
Meskipun penglihatan yang hilang akibat glaukoma tidak dapat dikembalikan, laju kerusakannya bisa dihentikan total agar penderita tidak sampai mengalami kebutaan.
Dunia medis kini mengalami era kebangkitan (renaissance) dalam penanganan glaukoma. Pengobatan tidak lagi terbatas pada obat tetes mata harian yang merepotkan:
- Terapi Laser Presisi: Mampu melancarkan saluran cairan mata dengan cepat dan berisiko rendah.
- Bedah Minim Invasif (MIGS): Prosedur mikro yang aman untuk menurunkan tekanan mata secara signifikan.
- Inovasi Farmasi & Implan: Kehadiran obat tetes kombinasi yang lebih praktis serta teknologi implan slow-release yang mampu melepas obat secara berkala di dalam mata hingga satu tahun.
Cegah Sebelum Terlambat
Karena glaukoma tidak memberikan gejala di fase awal, langkah perlindungan terbaik bukanlah menunggu timbulnya rasa sakit atau pandangan kabur, melainkan melakukan deteksi dini secara rutin ke dokter spesialis mata.
"Jagalah mata Anda, maka mata Anda akan menjaga Anda. Penglihatan adalah gerbang utama kita untuk menikmati kehidupan, dan merawatnya adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama," tutup Prof. Shamira.