- Mitra Keluarga Kelapa Gading menyediakan teknik operasi bypass jantung MICS CABG tanpa membelah tulang dada sejak setahun terakhir.
- Prosedur bedah minimal invasif tersebut berhasil menangani lebih dari seratus pasien penyakit jantung koroner dari berbagai daerah di Indonesia.
- Teknik ini memberikan manfaat berupa minimnya rasa nyeri, pemulihan lebih cepat, dan pasien bisa pulang dalam lima hari.
Suara.com - Operasi bypass jantung selama ini dikenal sebagai prosedur besar yang mengharuskan dokter membelah tulang dada untuk mencapai jantung. Gambaran tersebut sering membuat banyak pasien merasa khawatir sehingga menunda pengobatan.
Namun, kemajuan teknologi bedah kini menghadirkan pendekatan yang lebih modern melalui Minimally Invasive Cardiac Surgery Coronary Artery Bypass Graft (MICS CABG), yakni operasi bypass dengan sayatan kecil tanpa perlu membelah tulang dada.
Teknik ini menjadi salah satu terobosan dalam penanganan penyakit jantung koroner, yaitu kondisi ketika pembuluh darah koroner menyempit atau tersumbat akibat penumpukan plak.
Penyumbatan tersebut mengurangi aliran darah dan oksigen ke otot jantung sehingga dapat menimbulkan nyeri dada, sesak napas, mudah lelah, gangguan irama jantung, hingga serangan jantung.
Pada kasus tertentu, ketika obat-obatan maupun pemasangan stent tidak lagi efektif, operasi bypass menjadi pilihan untuk mengembalikan aliran darah ke jantung.
Berbeda dengan operasi bypass konvensional, prosedur MICS CABG dilakukan melalui sayatan kecil di sela tulang rusuk. Dokter tetap membuat jalur baru menggunakan pembuluh darah sehat untuk melewati pembuluh darah yang tersumbat, tetapi tanpa membuka tulang dada.
Pendekatan ini membantu mengurangi trauma jaringan, menekan nyeri pascaoperasi, sekaligus mempercepat proses pemulihan.
Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular Konsultan Jantung Dewasa Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr. Wirya Ayu Graha, Sp.BTKV, Subsp. JD (K), mengatakan pasien yang menjalani prosedur minimal invasif umumnya dapat pulang lebih cepat dibandingkan operasi konvensional.
"Kalau minimal invasif, pasien bisa lima hari pulang dari rumah sakit, kemudian beraktivitas seperti biasa," ujarnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Toraks dan Kardiovaskular dr. Marolop Pardede, Sp.BTKV, Subsp. VE (K), MH, menjelaskan bahwa ukuran luka yang lebih kecil tidak mengurangi efektivitas operasi.
Menurutnya, seluruh pembuluh darah koroner yang mengalami penyumbatan tetap dapat dilakukan bypass meski tindakan dilakukan melalui sayatan sekitar 7–8 sentimeter.
Perkembangan teknik ini juga mulai tersedia di Indonesia. Salah satu rumah sakit yang mengembangkan layanan MICS CABG adalah Mitra Keluarga Kelapa Gading.
Dalam satu tahun terakhir, rumah sakit tersebut telah menangani lebih dari 100 pasien penyakit jantung koroner menggunakan teknik bedah minimal invasif.
Penanganan dilakukan oleh tim dokter bedah jantung yang berpengalaman, yaitu dr. Wirya Ayu Graha, dr. Marolop Pardede, dan dr. Bimo Kusumo.
Direktur Regional III Mitra Keluarga, dr. Ronald Reagen, MM, MARS, mengatakan kehadiran layanan tersebut memberi lebih banyak pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan operasi bypass modern di dalam negeri.
"Sekarang masyarakat Indonesia yang mengalami masalah jantung koroner tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk menjalani operasi bypass tanpa sayatan ini. Prosedur tersebut sudah bisa dilakukan di Indonesia," katanya.
Selain menghemat biaya perjalanan dan akomodasi ke luar negeri, pasien juga dapat menjalani proses pengobatan lebih dekat dengan keluarga.
Dalam praktiknya, pasien yang menjalani MICS CABG di Mitra Keluarga Kelapa Gading tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk luar Pulau Jawa.
Manfaat prosedur ini juga dirasakan langsung oleh pasien. Novi Cahyono (57) mengaku sudah dapat kembali berolahraga ringan sekitar tiga bulan setelah operasi. "Operasi ini tidak hanya menyelamatkan jantung saya, tetapi juga membuat kualitas hidup saya menjadi lebih baik," tuturnya.
Pengalaman serupa disampaikan Gwie Yu Gwan (64), yang merasakan proses pemulihan berlangsung lebih nyaman dari perkiraannya. "Setelah operasi tidak terlalu sakit, tidak ada keluhan. Semakin hari kondisi saya semakin enak," ujarnya.
Seiring berkembangnya teknologi bedah jantung, pendekatan minimal invasif menjadi harapan baru bagi pasien penyakit jantung koroner.
Selain menawarkan luka operasi yang lebih kecil dan masa pemulihan yang lebih singkat, layanan ini menunjukkan bahwa teknologi operasi jantung modern kini semakin mudah diakses di Indonesia.