- Kemenkes menyatakan penurunan daya ingat bukan proses penuaan normal, melainkan potensi gangguan neurokognitif seperti Alzheimer.
- Dr. Zhao Yi Jing menjelaskan gejala berbahaya demensia meliputi hilangnya fungsi benda dan sering tersesat di rute familiar.
- Penderita demensia memerlukan deteksi dini, evaluasi medis, perubahan gaya hidup sehat, serta dukungan keluarga yang berkelanjutan.
Suara.com - Demensia sering kali baru mendapat perhatian ketika seseorang mulai mengalami penurunan daya ingat yang cukup berat. Padahal, perubahan kemampuan berpikir dan menjalani aktivitas sehari-hari dapat muncul secara bertahap dan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Merujuk pada materi edukasi Kementerian Kesehatan RI, penurunan daya ingat bukan merupakan bagian normal dari penuaan. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda gangguan neurokognitif yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Alzheimer merupakan penyebab sekitar 60-70 persen kasus demensia. Seiring bertambahnya populasi lanjut usia, jumlah orang dengan demensia (ODD) di Indonesia juga diperkirakan terus meningkat, dari sekitar 1,2 juta orang menjadi 2 juta pada 2030 dan mencapai sekitar 4 juta pada 2050.
Karena itu, perawatan demensia tidak hanya berkaitan dengan obat atau pemeriksaan di rumah sakit. Penanganannya membutuhkan deteksi dini, pemantauan kondisi, dukungan keluarga, serta upaya mempertahankan kemampuan pasien menjalani kehidupan sehari-hari.
Kapan Lupa Perlu Diperiksakan?
Salah satu tantangan dalam menghadapi demensia adalah membedakan lupa yang masih wajar dengan perubahan fungsi kognitif yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Dr. Zhao Yi Jing, Spesialis Neurologi dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura, menjelaskan bahwa lupa meletakkan barang, misalnya kunci, dapat terjadi pada proses penuaan normal.
Namun, situasinya berbeda apabila seseorang mulai kehilangan pemahaman mengenai fungsi benda tersebut, kesulitan melakukan rutinitas yang sebelumnya sudah sangat familiar, atau tersesat ketika melewati rute yang telah dikenalnya selama bertahun-tahun.
Perubahan seperti ini perlu menjadi perhatian, terutama jika terjadi berulang dan semakin memburuk.
“Namun, pada penderita demensia Alzheimer, gejalanya dapat memburuk hingga pasien lupa apa fungsi dari kunci tersebut, kesulitan menyelesaikan rutinitas harian yang seharusnya sangat familiar, atau tersesat di rute jalan yang sudah dilewati selama bertahun-tahun. Kondisi tersebut merupakan sinyal bahaya neurologis yang membutuhkan evaluasi medis sesegera mungkin,” ujar Zhao.
Deteksi lebih awal penting karena memberikan kesempatan bagi pasien dan keluarga untuk memahami kondisi yang dihadapi sekaligus menyusun rencana perawatan sejak dini.
Perawatan Demensia Tidak Hanya Berfokus pada Daya Ingat
Hingga saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer secara total. Namun, sejumlah pilihan perawatan dapat digunakan untuk membantu mengendalikan gejala kognitif maupun perilaku.
Pada pasien tertentu yang memenuhi kriteria medis, beberapa terapi terbaru juga dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit. Karena kondisi setiap pasien berbeda, pilihan terapi perlu ditentukan berdasarkan evaluasi medis.
Perawatan juga tidak berhenti pada pemberian obat. Pasien dapat membutuhkan dukungan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, menjaga asupan nutrisi, tetap aktif secara fisik, serta mempertahankan stimulasi kognitif sesuai kemampuan.
Pendekatan seperti ini membuat perawatan demensia idealnya melibatkan lebih dari satu bidang keahlian.
Peran Keluarga Sama Pentingnya
Bagi keluarga, mendampingi orang dengan demensia dapat menjadi proses yang panjang. Perubahan kemampuan pasien juga dapat membuat aktivitas yang sebelumnya sederhana menjadi lebih sulit dilakukan.
Karena itu, keluarga perlu memahami kondisi pasien dan menyesuaikan bentuk bantuan dengan kemampuan yang masih dimiliki.
Tujuannya bukan mengambil alih seluruh aktivitas pasien, melainkan membantu mempertahankan kemandirian selama masih memungkinkan.
Dukungan keluarga juga diperlukan untuk memastikan pasien mengikuti jadwal pemeriksaan dan pengobatan, mendapatkan makanan yang sesuai, tetap melakukan aktivitas fisik, serta berada dalam lingkungan yang aman.
Keluarga pun perlu memperhatikan perubahan perilaku atau kemampuan pasien dari waktu ke waktu. Informasi tersebut dapat membantu dokter mengevaluasi perkembangan kondisi dan menyesuaikan perawatan.
Gaya Hidup Bisa Menjadi Bagian dari Upaya Menjaga Kesehatan Otak
Upaya menjaga kesehatan otak juga dapat dilakukan sebelum gejala demensia muncul. Perubahan gaya hidup menjadi salah satu bagian yang dapat diperhatikan, terutama dalam menjaga kesehatan pembuluh darah dan fungsi tubuh secara keseluruhan.
Pola makan sehat, misalnya, dapat menjadi salah satu pilihan. Diet MIND yang menggabungkan prinsip diet Mediterania dan DASH menekankan konsumsi sayuran berdaun hijau, buah beri, kacang-kacangan, serta ikan.
Aktivitas fisik juga penting. Olahraga kardiovaskular dengan intensitas sedang sekitar 150 menit per minggu dapat membantu menjaga kesehatan kardiovaskular. Aktivitas yang memberikan stimulasi mental, seperti mempelajari bahasa baru, memainkan alat musik, atau mencoba hobi baru, juga dapat menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Tidur yang cukup dan berkualitas turut perlu diperhatikan. Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7-8 jam tidur setiap malam.
Meski demikian, perubahan gaya hidup bukan pengganti pemeriksaan dan perawatan medis apabila seseorang sudah menunjukkan gejala gangguan kognitif.
Bagaimana Demensia Didiagnosis?
Ketika muncul tanda-tanda gangguan kognitif, dokter dapat melakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab dan tingkat gangguan yang dialami pasien.
Prosesnya dapat mencakup penilaian neuropsikologis untuk melihat kemampuan memori, berpikir, bahasa, serta fungsi kognitif lainnya. Dokter juga dapat mempertimbangkan pemeriksaan penunjang sesuai kondisi pasien.
Di Mount Elizabeth Hospitals, evaluasi Alzheimer dapat melibatkan pemeriksaan seperti MRI, PET, serta analisis cairan serebrospinal untuk melihat perubahan dan biomarker yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer, termasuk beta-amiloid dan tau.
Tidak semua pasien membutuhkan seluruh jenis pemeriksaan tersebut. Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan medis masing-masing pasien.
Mengapa Perawatan Terpadu Dibutuhkan?
Demensia dapat memengaruhi lebih dari sekadar kemampuan mengingat. Seiring perkembangan penyakit, pasien dapat mengalami perubahan dalam kemampuan berkomunikasi, melakukan aktivitas sehari-hari, menjaga nutrisi, hingga berinteraksi dengan lingkungan.
Karena itu, pendekatan multidisiplin dapat membantu melihat kebutuhan pasien secara lebih menyeluruh.
Di IHH Healthcare Singapore, termasuk Mount Elizabeth Hospitals, perawatan pasien melibatkan berbagai tenaga kesehatan, antara lain dokter spesialis neurologi, terapis okupasi, ahli gizi klinis, serta spesialis lain sesuai kebutuhan.
Pendekatan tersebut memungkinkan rencana perawatan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, bukan hanya berfokus pada satu gejala.
Pada akhirnya, menghadapi demensia bukan hanya tentang mencari cara agar pasien tidak lupa. Yang tak kalah penting adalah memastikan pasien mendapatkan diagnosis yang tepat, memperoleh perawatan sesuai kebutuhannya, dan tetap dapat menjalani kehidupan sebaik mungkin.
Bagi keluarga, mengenali perubahan sejak awal dan mencari bantuan medis ketika muncul tanda yang mengkhawatirkan dapat menjadi langkah penting untuk mempersiapkan perjalanan perawatan ke depan.