Ungkap Kebobrokan Pemilu 2024, PBHI: Akan Dikenang di Medsos dan Bansos

Selasa, 27 Februari 2024 | 17:46 WIB
Ungkap Kebobrokan Pemilu 2024, PBHI: Akan Dikenang di Medsos dan Bansos
Massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Sipil Selamatkan Demokrasi Indonesia saat menggelar aksi di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jakarta, Jumat (23/2/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Julius Ibrani, memberikan kritiknya terhadap pelaksanaan Pemilu 2024. Menurutnya, Pemilu 2024 ini akan dikenang dengan dua hal yakni media sosial (medsos) dan bantuan sosial (bansos). 

Hal itu disampaikan Julius saat menjadi pembicara kala Gerakan Indonedia Adil dan Demokratis (GIAD) menyatakan sikapnya mendesak 30 nama anggota DPR RI segera gulirkan hak angket kecurangan Pemilu 2024 di Kantor Para Syndicate, Jakarta Selatan, Selasa (27/2/2024). 

Ia menyampaikan, Pemilu 2024 tak bersubstantif lantaran penuh dengan kebobrokan yang terjadi. 

"Jadi Pemilu 2024 itu akan dikenang karena dua kata pertama medsos yang kedua bansos," kata Julius. 

Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Julius Ibrani. (Suara.com/Bagaskara)
Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Julius Ibrani. (Suara.com/Bagaskara)

"Tidak ada yang substantif tetapi di situ kondisi bobroknya kondisinya sistem kita. Bobroknya Pemilu kita dan bobroknya hasilnya," sambungnya. 

Ia mengatakan, bobroknya pelaksanaan Pemilu 2024 ditutup dengan sejumlah kejanggalan yang terjadi. 

"Yang mana seluruh lembaga survei pada saat jauh sebelum Pemilu mengatakan siapa partai yang menang dan kemudian siapa presiden yang menang. Di situ terjadi coattail effect semuanya nyambung. Kalau milih partainya ini, calon presidennya ini. Kalau milih calon presiden ini partainya ini," tuturnya. 

Massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Sipil Selamatkan Demokrasi Indonesia saat menggelar aksi di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jakarta, Jumat (23/2/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Sipil Selamatkan Demokrasi Indonesia saat menggelar aksi di depan Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jakarta, Jumat (23/2/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Dan semuanya buyar. Tidak ada satupun survei sesuai fakta sekarang. Quick count, real count sampai sekarang semuanya berbeda. Presidennya siapa partai yang menang siapa dan jumlahnya selisihnya cukup besar 8 sampai 10 persen ," imbuhnya. 

Menurutnya, ada dalam Pemilu 2024 ini keanehan yang terjadi perbedaan suara antara partai pengusung dengan paslonnya di Pilpres. 

Baca Juga: KPU: 1.113 TPS Di 430 Kecamatan Sudah Lakukan PSU, PSL Dan PSS

"Itu cuma bisa dijawab dengan kebobrokan sistem. Yang memang sudah secara sistemik struktural di-setting demikian," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Lelah Mental? Cek Seberapa Tingkat Stresmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, atau Plankton?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

VIDEO TERKAIT

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI