50 Wirausaha Muda Kampanyekan Pakai Masker Kain Tradisional

Vania Rossa

Kamis, 17 September 2020 | 07:58 WIB
50 Wirausaha Muda Kampanyekan Pakai Masker Kain Tradisional
Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional. (Instagram/@kitamudakreatif)

Suara.com - Masa pandemi tidak menjadi penghalang kreativitas. Ini dibuktikan oleh lebih dari 50 wirausaha muda yang berasal dari Denpasar, Tabanan, Kota Tua Jakarta, Klaten, Yogyakarta, Borobudur, Lombok, dan Toba, yang turut serta dalam kampanye “Pakai Masker Kain Tradisional”. Ini merupakan kampanye membuat masker menggunakan kain tradisional Indonesia, termasuk ulos, batik, tenun endek, dan tenun Lombok.

Langkah para wirausaha muda ini tak lepas dari peran UNESCO Jakarta yang sejak Maret 2020 memfasilitasi serangkaian pelatihan bisnis secara virtual, untuk mendampingi sekitar 400 wirausaha muda dari Jawa Tengah, Yogjakarta, Kota Tua Jakarta, Toba, dan Bali untuk mengatasi masa-masa sulit di tengah pandemi.

Salah satu kegiatan yang digagas adalah kegiatan “Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional” yang secara khusus diprakarsai guna mendukung wirausaha muda yang bekerja di sektor tenun tradisional dan fesyen untuk memberikan mereka alternatif peluang pendapatan.

Kampanye yang diluncurkan UNESCO Jakarta sejak Juli 2020 ini memberikan pemahaman mengenai sejarah dan signifikansi budaya kain tradisional, serta pelatihan secara langsung tentang mengembangkan cerita produk dan menjahit masker berkualitas.

Masker Kain Tradisional. (Instagram/@kitamudakreatif)
Masker Kain Tradisional. (Instagram/@kitamudakreatif)

Antara Agustus dan September, kampanye ini kemudian memberikan penugasan pada para peserta untuk mendesain dan membuat masker mereka sendiri, kemudian membuat foto dan pesan yang menarik untuk diunggah di media sosial.

Digelar oleh UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia, kampanye ini merupakan bagian dari proyek “Creative Youth at Indonesian Heritage Sites” yang didukung oleh Citi Foundation.

Tujuan dari proyek tersebut membangun kapasitas 400 wirausaha muda yang tinggal di dan sekitar empat daerah tujuan wisata utama Indonesia, yaitu Borobudur Prambanan, Kawasan Danau Toba, Bali, dan Kotatua Jakarta.

Proyek ini bermaksud membangun keterkaitan antara situs warisan budaya dan mata pencaharian penduduk sekitar, dengan menyediakan pelatihan-pelatihan bagi para wirausaha muda untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan bisnisnya seraya terus melestarikan dan mempromosikan nilai-nilai budaya situs tersebut.

“Segera setelah larangan pergerakan publik dan mengumpulkan massa diumumkan di Indonesia, UNESCO Jakarta segera mengubah bentuk kegiatan workshop dari pertemuan langsung di ruang kelas menjadi daring, memanfaatkan platform media sosial. Ini memungkinkan kami terus terhubung dengan para wirausaha muda kami dengan lebih sering. Kampanye Pakai Masker Kain Tradisional ini adalah salah satu dari hasil pelatihan-pelatihan daring kami,” kata Prof. Shahbaz Khan, Direktur dan Perwakilan UNESCO Jakarta dalam Live Streaming acara Gelar Karya Masker Kain Tradisional, Rabu  (16/9/2020).

Lutfi Koriah Yunani, seorang wirausaha muda dari Bayat, Klaten, Jawa Tengah, mengatakan bahwa kampanye ini memberi ia inspirasi untuk membuat masker inovatif mengombinasikan motif batik truntum dengan tema Hari Kemerdekaan Indonesia.

baca juga

"Saya membuat masker ini bersama-sama dengan para pembatik di desa saya untuk membantu mereka selama masa krisis ini. Apalagi setelah masker tersebut diunggah di Instagram @kitamudakreatif, saya mendapatkan banyak tanggapan dan pesanan. Sampai akhir Agustus 2020, kami sudah tiga kali memproduksi masker tersebut, untuk merespons pesanan-pesanan baru yang masuk," kata Lutfi yang juga mengaku bahwa pendapatan bisnisnya menjadi meningkat sehingga ia mampu membantu ibu-ibu pembatik di desanya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Bali – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, I Made Dharma Suteja mengatakan bahwa masker kain tradisional telah menjadi pilihan alternatif selama pandemi Covid-19.

Masker-masker berbahan kain tradisional seperti tenun endek Bali, ulos Toba, tenun Lombok dan Batik, sambung dia, mempunyai kekayaan filosofi di balik setiap motifnya, sehingga selain sebagai pelindung wajah juga bisa menjadi souvenir dengan nilai seni yang tinggi.

"Kami mendukung kegiatan ini, karena selain merupakan upaya pelestarian, kegiatan ini juga bisa secara positif membantu para perajin kain tradisional di tengah krisis,“ kata Dharma Suteja.

Sedangkan Puni A. Anjungsari, Country Head of Corporate Affairs, Citi Indonesia, mengatakan bahwa dirinya melihat bahwa pengusaha muda memainkan peran kunci dalam membangun ekonomi Indonesia di masa depan.

Masker-masker hasil karya para wirausaha muda yang mengikuti kampanye ini kemarin, Rabu (16/9/2020), ditampilkan di acara Gelar Karya Masker Kain Tradisional yang berlangsung secara live di YouTube dan Instagram @KitaMudaKreatif. Koleksi masker kain tradisional lainnya juga dapat dilihat di akun Instagram Kita Muda Kreatif (@kitamudakreatif).

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bangga, Tim Indonesia Lolos Seleksi Program Wirausaha Muda International

Bangga, Tim Indonesia Lolos Seleksi Program Wirausaha Muda International

Lifestyle | Senin, 14 September 2020 | 14:17 WIB

Masker Kain Kotor? Begini Cara Mencucinya yang Benar

Masker Kain Kotor? Begini Cara Mencucinya yang Benar

Riau | Selasa, 08 September 2020 | 16:50 WIB

Jejak Aisyah, Bawa Jumputan Go Internasional

Jejak Aisyah, Bawa Jumputan Go Internasional

Sumsel | Rabu, 02 September 2020 | 20:18 WIB

Terkini

Fasilitas Terbatas Tak Jadi Halangan, 3 Pelajar Kalbar Sabet 2 Emas 1 Perak

Fasilitas Terbatas Tak Jadi Halangan, 3 Pelajar Kalbar Sabet 2 Emas 1 Perak

Kalbar | Rabu, 16 September 2026 | 13:55 WIB

Pencarian Semalaman Berakhir Tragis, Siswa SMK Ditemukan Tewas 50 Meter dari Pantai Jatisari Rembang

Pencarian Semalaman Berakhir Tragis, Siswa SMK Ditemukan Tewas 50 Meter dari Pantai Jatisari Rembang

Jawa Tengah | Rabu, 16 September 2026 | 13:51 WIB

Masuk Lewat Dumai, 49,85 Ton Kacang Tanah Selundupan Siap Edar di Jakarta Digagalkan Polisi

Masuk Lewat Dumai, 49,85 Ton Kacang Tanah Selundupan Siap Edar di Jakarta Digagalkan Polisi

News | Rabu, 16 September 2026 | 13:50 WIB

Arab Saudi Luncurkan 450 Serangan Udara ke Houthi, 7 Wilayah Yaman Hancur

Arab Saudi Luncurkan 450 Serangan Udara ke Houthi, 7 Wilayah Yaman Hancur

News | Rabu, 16 September 2026 | 13:47 WIB

4 Moisturizer Fungal Acne Safe yang Tidak Memicu Bruntusan

4 Moisturizer Fungal Acne Safe yang Tidak Memicu Bruntusan

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 13:45 WIB

Semua Diundang! Fesmed Selat Malaka 2026 Buka Pendaftaran Peserta Seminar, Diskusi dan Lokakarya

Semua Diundang! Fesmed Selat Malaka 2026 Buka Pendaftaran Peserta Seminar, Diskusi dan Lokakarya

News | Rabu, 16 September 2026 | 13:43 WIB

Biaya Perang AS-Iran Telan Rp583 Triliun dalam 6 Bulan, Bikin AS di Ambang Krisis?

Biaya Perang AS-Iran Telan Rp583 Triliun dalam 6 Bulan, Bikin AS di Ambang Krisis?

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 13:37 WIB

Ditahan Kelompok Bersenjata di Papua, Aris Sanda Ditemukan Tewas Bersama Mobil Terbakar

Ditahan Kelompok Bersenjata di Papua, Aris Sanda Ditemukan Tewas Bersama Mobil Terbakar

News | Rabu, 16 September 2026 | 13:36 WIB

Ribuan Warga di Kepri Terjangkit ISPA, Madrasah Belajar dari Rumah Akibat Kabut Asap

Ribuan Warga di Kepri Terjangkit ISPA, Madrasah Belajar dari Rumah Akibat Kabut Asap

Batam | Rabu, 16 September 2026 | 13:35 WIB

Mengapa Bogor Tak Lagi Sedingin Dulu? Pakar IPB Ungkap Alasannya

Mengapa Bogor Tak Lagi Sedingin Dulu? Pakar IPB Ungkap Alasannya

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 13:35 WIB

×