Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur

Rendy Adrikni Sadikin

Rabu, 08 Oktober 2025 | 06:41 WIB
Program Petani Keren FAO Digagas, Puluhan Bibit Muda Dilatih Menjadi Agripreneur
Ilustrasi dua petani muda sedang menanam padi di sawah.(Gambar dibuat oleh kecerdasan buatan)
baca 10 detik
    • Program “Petani Keren” yang digagas FAO membekali generasi muda dengan keterampilan modern dan pola pikir inovatif demi membangun pertanian produktif dan berkelanjutan.
    • Pelatihan mengajarkan penerapan teknologi smart farming, praktik ramah lingkungan, serta pengelolaan bisnis agribisnis yang profesional.
    • Harapannya mampu menumbuhkan minat generasi muda menjadi “agripreneur keren” yang berdaya saing dan berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Suara.com - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menggagas program pelatihan intensif bertajuk "Pelatihan Pertanian Petani Keren." Tujuannya membekali generasi muda dengan keterampilan dan pola pikir inovatif demi menciptakan sektor pertanian yang lebih produktif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Program ini hadir untuk menjawab tantangan nyata: berkurangnya populasi petani dan melorotnya minat generasi muda untuk turun ke sawah. Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia turut ambil bagian dalam program ini, khususnya dengan berbagi pengalaman dan strategi penerapan penghasilan tani yang berkeadilan.

Pelatihan "Petani Keren" digelar di Jakarta, Selasa (7/10). Program ini dirancang secara komprehensif dengan beragam materi krusial yang relevan bagi kebutuhan pertanian modern. Peserta dibekali teknologi smart farming, yakni pendekatan modern yang memungkinkan penggunaan sumber daya secara efisien untuk meningkatkan produktivitas.

Praktik pertanian ramah lingkungan juga menjadi fokus utama. Peserta diajak menerapkan metode budidaya yang menjaga kelestarian alam sekaligus meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem.

Tak hanya itu, aspek kewirausahaan dan pengelolaan bisnis agribisnis turut diajarkan secara mendalam. Para peserta dilatih untuk mengelola usaha pertanian secara profesional, mulai dari tahap perencanaan, produksi, hingga strategi pemasaran produk.

Keberhasilan program "Petani Keren" ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak strategis. Mulai dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, hingga Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), semua turut bergandengan tangan mendukung inisiatif ini. Tujuannya jelas: membangkitkan semangat kepemudaan agar terjun kembali ke sektor pertanian.

Sebanyak 30 anak muda terpilih menjadi peserta dalam pelatihan ini. Mereka berusia antara 17 hingga 29 tahun dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pekanbaru, Lampung, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Keberagaman asal daerah ini mencerminkan potensi besar pertanian Nusantara yang tersebar di berbagai wilayah.

Para peserta pelatihan 'Petani Keren' yang digagas oleh FAO dan menghadirkan GEF SGP Indonesia untuk berbagi di Jakarta, Selasa (7/10/2025).(Dokumentasi pribadi)
Para peserta pelatihan 'Petani Keren' yang digagas oleh FAO dan menghadirkan GEF SGP Indonesia untuk berbagi di Jakarta, Selasa (7/10/2025).(Dokumentasi pribadi)

Latar belakang mereka pun beragam. Nggak cuma dari keluarga petani yang sudah akrab dengan dunia pertanian, banyak pula yang merupakan lulusan jurusan pertanian, agribisnis, agroteknologi, dan bidang lain yang relevan. Perpaduan latar belakang ini menciptakan suasana belajar yang dinamis dan interaktif, membuka ruang pertukaran ide serta perspektif antarpeserta.

Fokus utama pelatihan ini adalah membekali para pemuda agar mampu menerapkan sistem pertanian modern. Dalam praktiknya, peserta diajarkan memanfaatkan teknologi terkini tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Lebih dari itu, mereka juga dilatih untuk mengembangkan rencana bisnis yang inovatif. Jadi bukan semata mengincar cuan, tapi juga memaksimalkan potensi tanaman lokal serta memahami dinamika permintaan pasar. Dengan pendekatan ini, peserta diharapkan tumbuh menjadi "agripreneur" yang cerdas dan bertanggung jawab.

Dalam salah satu sesi pelatihan, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, yang juga mewakili Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL), menyampaikan studi kasus mengenai pengembangan strategi penghasilan yang adil dan berkelanjutan bagi petani, dengan fokus khusus pada pertanian lada.

Pendekatan tersebut diharapkan menjadi model inspiratif untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara holistik. Alhasil, mereka nggak hanya memperoleh penghasilan yang layak, tetapi juga berpartisipasi dalam praktik pertanian yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.

Lada memang menjadi salah satu komoditas perdagangan penting bagi Indonesia. Khususnya di Bangka Belitung, Lada Muntok telah lama dikenal mendominasi pasar lada dunia. Tapi, perubahan pola pertanian yang kini banyak menggunakan input kimia malah bikin biaya produksi membengkak. Kualitas tanah pun melorot jika tidak digunakan secara bijak.

Lebih jauh lagi, petani lada harus menghadapi masa pengembangan lahan yang panjang. Bayangkan, mereka harus menunggu hingga tiga tahun tanpa panen. Kondisi ini tak pelak membuat pendapatan mereka tidak sebanding dengan upaya yang dikeluarkan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Sidi menjelaskan, “Butuh adanya transisi dari pertanian konvensional ke pertanian agroekologi atau organik yang mengedepankan pada kualitas tanah. Nah, penggunaan pestisida alami dan pupuk organik bisa menjadi solusi mengembalikan kembali unsur hara dalam tanah dan juga lebih murah dalam implementasinya.”

Ia menambahkan, dengan menerapkan sistem agroekologi atau organik memang kuantitas panen akan menurun, tetapi terbuka peluang ke pasar ekspor yang lebih premium. Hal ini mampu meningkatkan harga jual sekaligus menekan biaya produksi secara signifikan.

Program "Petani Keren" ini memikul harapan besar mengubah stigma pertanian adalah pekerjaan kuno dan kurang menarik. Yusmanetti Sari, selaku Food System Specialist FAO Indonesia, berharap lewat program ini banyak generasi muda kepincut menjadi “agripreneur keren”, yakni individu inovatif dan berdaya saing yang mampu memajukan sektor pertanian.

“Dengan keterlibatan aktif generasi muda, ketahanan pangan nasional di masa depan dapat terjamin, menciptakan fondasi yang kokoh bagi kemakmuran dan keberlanjutan Indonesia,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Beragam Budaya hingga Satu Meja, Ketika Anak Muda Berani Cari Jalan Keluar untuk Isu Dunia

Dari Beragam Budaya hingga Satu Meja, Ketika Anak Muda Berani Cari Jalan Keluar untuk Isu Dunia

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 20:24 WIB

Kisah Sulaiman, Anak Petani dari Flores yang Kini Mengabdi di Sekolah Rakyat

Kisah Sulaiman, Anak Petani dari Flores yang Kini Mengabdi di Sekolah Rakyat

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:25 WIB

Dari Lidi Sawit Jadi Cuan, Ketika Produk Sederhana Petani Indonesia Tembus Pasar Tiongkok

Dari Lidi Sawit Jadi Cuan, Ketika Produk Sederhana Petani Indonesia Tembus Pasar Tiongkok

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 16:41 WIB

Hortikultura Daerah Naik Kelas, Melon Petani Asal Blitar Tembus Pasar Singapura

Hortikultura Daerah Naik Kelas, Melon Petani Asal Blitar Tembus Pasar Singapura

Lifestyle | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 08:26 WIB

1.354 Hektare Sawah Bekasi Dilanda Kekeringan

1.354 Hektare Sawah Bekasi Dilanda Kekeringan

Foto | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Lawan Kekeringan, Petani Tasikmalaya Swadaya Bikin Kincir Air

Lawan Kekeringan, Petani Tasikmalaya Swadaya Bikin Kincir Air

Foto | Rabu, 26 Agustus 2026 | 19:18 WIB

Usai Absen Rapat Konflik Agraria, Kabareskrim Akhirnya Hadir dan Minta Maaf ke DPR

Usai Absen Rapat Konflik Agraria, Kabareskrim Akhirnya Hadir dan Minta Maaf ke DPR

News | Rabu, 26 Agustus 2026 | 13:37 WIB

Tak Lagi Pakai Cara Tradisional, Petani Didorong Gunakan Teknologi hingga Mekanisasi

Tak Lagi Pakai Cara Tradisional, Petani Didorong Gunakan Teknologi hingga Mekanisasi

Bisnis | Senin, 24 Agustus 2026 | 08:58 WIB

Gabah Makin Mahal, Produsen Beras Berdarah-darah: Jual Mahal Kena HET, Jual Murah Nombok

Gabah Makin Mahal, Produsen Beras Berdarah-darah: Jual Mahal Kena HET, Jual Murah Nombok

Bisnis | Minggu, 23 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Gabah Mahal Bikin Produsen Beras Tertekan: HOKI Rugi Rp34 Miliar, NASI Ikut Tekor

Gabah Mahal Bikin Produsen Beras Tertekan: HOKI Rugi Rp34 Miliar, NASI Ikut Tekor

Bisnis | Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:07 WIB

Terkini

21 Ribu Warga Yogyakarta Terdampak Perubahan Desil, Wali Kota Siapkan Refocusing Anggaran

21 Ribu Warga Yogyakarta Terdampak Perubahan Desil, Wali Kota Siapkan Refocusing Anggaran

Jogja | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 23:25 WIB

Doa Shin Tae-yong: Semoga Ada Solusi Terbaik buat Jakmania dan Manajemen Persija

Doa Shin Tae-yong: Semoga Ada Solusi Terbaik buat Jakmania dan Manajemen Persija

Bola | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 23:24 WIB

Persib Bandung Wajib Waspada! Teja Paku Alam Ungkap Ancaman Serangan Balik Manila Digger

Persib Bandung Wajib Waspada! Teja Paku Alam Ungkap Ancaman Serangan Balik Manila Digger

Bola | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 23:15 WIB

Bisikan Sang Ayah Bikin Agil Bangkit, Mahasiswa UT Ini Raih Podium Campus League

Bisikan Sang Ayah Bikin Agil Bangkit, Mahasiswa UT Ini Raih Podium Campus League

Jawa Tengah | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 23:13 WIB

Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa

Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 22:46 WIB

Kader PDIP Jadi Tersangka Kasus Intimidasi Dokter Icha di NTT, Hasto Buka Suara

Kader PDIP Jadi Tersangka Kasus Intimidasi Dokter Icha di NTT, Hasto Buka Suara

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 22:39 WIB

Tangis Pecah Gus Yahya, LPJ PBNU 2021-2026 Diterima Muktamar ke-35 NU

Tangis Pecah Gus Yahya, LPJ PBNU 2021-2026 Diterima Muktamar ke-35 NU

Jatim | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 22:34 WIB

Penuhi Panggilan sebagai Saksi, BPKH Tegaskan Komitmen Dukung Penegakan Hukum

Penuhi Panggilan sebagai Saksi, BPKH Tegaskan Komitmen Dukung Penegakan Hukum

Jabar | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 22:26 WIB

Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Lokasi Parkir Merdeka Run 81 Tahun Indonesia Besok

Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Lokasi Parkir Merdeka Run 81 Tahun Indonesia Besok

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 22:26 WIB

Geger Skandal Sekpri vs Wabup Sumedang: Rumah Dinas Jadi Sorotan, Pemprov Turun Tangan

Geger Skandal Sekpri vs Wabup Sumedang: Rumah Dinas Jadi Sorotan, Pemprov Turun Tangan

Jabar | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 22:25 WIB

×