- Pemerintah dan NU menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, menggunakan rukyatul hilal; Muhammadiyah menetapkannya Rabu, 18 Februari 2026, melalui hisab.
- Ulama Gus Baha meminta masyarakat tidak memperuncing perbedaan penetapan Ramadan antara metode rukyat yang berdasar hadis dan hisab yang berdasar Al-Qur'an.
- Perbedaan penetapan awal puasa merupakan ranah ijtihad karena kedua metode (rukyat dan hisab) memiliki landasan dalil masing-masing yang harus seimbang.
Rukyat dan Hisab, Dua Metode yang Sama-sama Punya Dasar
Perbedaan penetapan 1 Ramadan antara pemerintah, NU dan Muhammadiyah pada dasarnya berangkat dari metode yang digunakan.
NU dan pemerintah menggunakan metode rukyatul hilal, yakni melihat langsung hilal (bulan sabit awal Ramadan) saat sidang isbat. Jika hilal terlihat dan memenuhi kriteria, maka Ramadan ditetapkan dimulai keesokan harinya.
Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan. Jika secara hisab hilal sudah wujud, maka bulan baru dianggap telah masuk tanpa menunggu rukyat.
Keduanya memiliki dalil dan landasan ilmiah masing-masing. Karena itu, perbedaan ini sejatinya berada dalam ranah ijtihad, bukan persoalan benar atau salah secara mutlak.
Pada akhirnya, apakah Anda mulai puasa hari Rabu atau Kamis, yang terpenting adalah menjaga ukhuwah dan saling menghormati. Sebab seperti pesan Gus Baha, hukum dan ilmu seharusnya berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.