- Memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak memerlukan kolaborasi nyata lintas sektor untuk mengatasi tingginya angka kekerasan berbasis gender.
- Program PIHAK/WAC fokus memperkuat sistem perlindungan melalui peningkatan kapasitas layanan dan jejaring pemangku kepentingan terkait.
- PT Takeda meraih dua Silver Awards PR INDONESIA 2026 atas manajemen pemangku kepentingan dan pengembangan berbasis komunitas.
Suara.com - Upaya memperkuat sistem perlindungan bagi perempuan dan anak perempuan di Indonesia bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang harus dijawab melalui kolaborasi nyata lintas sektor.
Tingginya angka kekerasan berbasis gender menunjukkan bahwa masih banyak penyintas yang belum mendapatkan akses layanan yang aman, cepat, dan berkualitas.
Dalam konteks inilah, inisiatif seperti program Women at the Center (WAC) atau Perempuan Indonesia Hidup Tanpa Kekerasan (PIHAK) menjadi sangat relevan.
Program ini tidak hanya berfokus pada penanganan kasus, tetapi juga memperkuat fondasi sistem perlindungan itu sendiri, mulai dari peningkatan kapasitas tenaga layanan hingga membangun jejaring kerja sama antar pemangku kepentingan.
Pendekatan berbasis kolaborasi menjadi kunci utama. Pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta, hingga komunitas lokal perlu bergerak bersama untuk memastikan bahwa setiap penyintas tidak hanya didengar, tetapi juga mendapatkan pendampingan yang komprehensif.
Tanpa sistem yang kuat, banyak kasus berisiko tidak tertangani secara optimal. Komitmen terhadap isu ini salah satunya tercermin melalui penghargaan yang diraih PT Takeda Innovative Medicines dalam ajang PR INDONESIA Awards 2026.
Pada tahun ini, Takeda berhasil meraih dua penghargaan Silver dalam kategori “Public Affairs: Stakeholder Management” dan “Public Relations: Community-Based Development”, melanjutkan konsistensi prestasi selama tiga tahun berturut-turut.
Revi Renita, Head of Public Affairs and Communications PT Takeda Innovative Medicines, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi fondasi utama dalam menghadirkan dampak yang berkelanjutan.
“Bagi Takeda, penghargaan ini bukan semata apresiasi atas program komunikasi, tetapi juga pengakuan atas pentingnya membangun kemitraan yang kuat dan berkelanjutan untuk mendukung prioritas kesehatan di Indonesia," ujarnya.
Lebih lanjut kata Revi, pengakuan selama tiga tahun berturut-turut ini mencerminkan kerja tim yang solid serta kolaborasi yang kuat dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk dengan pemerintah, organisasi profesi, dan mitra seperti UNFPA, dalam menghadirkan program yang berdampak bagi masyarakat.
Melalui program PIHAK/WAC, upaya tersebut diwujudkan dalam bentuk nyata, seperti penguatan kapasitas penyedia layanan bagi penyintas kekerasan serta peningkatan akses terhadap manajemen kasus yang lebih terintegrasi.
Hal ini penting, mengingat banyak penyintas yang menghadapi berbagai hambatan, baik stigma sosial, keterbatasan informasi, hingga minimnya fasilitas layanan yang responsif gender.
Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, Hassan Mohtashami, menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam menciptakan sistem perlindungan yang efektif.
“Program PIHAK adalah bukti nyata komitmen bersama untuk memperkuat sistem perlindungan dan meningkatkan akses layanan bagi penyintas kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan di Indonesia," ujarnya.
Melalui kemitraan strategis ini, UNFPA bersama Takeda dan para pemangku kepentingan berupaya keras untuk memastikan bahwa setiap penyintas menerima dukungan yang aman, tepat, dan berkualitas.