Suara.com - Perbedaan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara kerap menjadi sorotan, terutama ketika membandingkan negara berkembang dengan negara kaya sumber energi. Data terbaru dari GlobalPetrolPrices per 23 Februari 2026 menunjukkan adanya jurang harga yang sangat lebar bahkan bisa dibilang bak langit dan bumi antara negara seperti Indonesia dan Iran.
Secara global, Libya tercatat sebagai negara dengan harga BBM paling murah di dunia, yakni hanya sekitar Rp 398 per liter. Di sisi lain, Hong Kong justru menjadi negara dengan harga BBM termahal, mencapai Rp 63.851 per liter. Perbedaan ekstrem ini menggambarkan bagaimana kebijakan energi, subsidi, serta ketersediaan sumber daya alam sangat mempengaruhi harga jual BBM di tiap negara.
Iran, sebagai salah satu negara penghasil minyak terbesar, menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan harga BBM termurah. Harga bensin di negara tersebut hanya sekitar Rp 481 per liter. Angka ini tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia, yang berada di kisaran Rp 12.050 per liter untuk harga rata-rata BBM.
Tak hanya Iran, beberapa negara lain yang kaya sumber daya energi juga menikmati harga BBM yang relatif rendah. Venezuela, misalnya, mencatat harga sekitar Rp 589 per liter. Kemudian ada Angola dengan harga Rp 5.504 per liter, Kuwait Rp 5.761, serta Aljazair Rp 6.087 per liter. Negara-negara ini umumnya memberikan subsidi besar terhadap BBM untuk menjaga harga tetap terjangkau bagi masyarakatnya.
Sementara itu, negara seperti Turkmenistan dan Mesir memiliki harga BBM di kisaran Rp 7.203 dan Rp 7.390 per liter. Kazakhstan dan Qatar sedikit lebih tinggi, masing-masing sekitar Rp 8.243 dan Rp 8.549 per liter. Meski tidak semurah Iran, harga tersebut masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara.
Indonesia sendiri berada di kelompok negara dengan harga BBM menengah. Dengan kisaran harga sekitar Rp 12.050 per liter, Indonesia masih lebih murah dibandingkan Amerika Serikat yang mencapai Rp 14.637 per liter. Namun, jika dibandingkan dengan Iran, selisihnya sangat mencolok, bahkan bisa lebih dari 20 kali lipat.
Perbedaan harga ini tidak lepas dari kebijakan subsidi dan struktur ekonomi masing-masing negara. Iran, misalnya, memberikan subsidi besar terhadap BBM sebagai bentuk distribusi kekayaan dari sektor minyak kepada rakyat. Sebaliknya, Indonesia secara bertahap mengurangi subsidi untuk menjaga kesehatan fiskal negara dan mengalihkan anggaran ke sektor lain seperti infrastruktur dan bantuan sosial.
Memasuki April 2026, pemerintah Indonesia melalui PT Pertamina (Persero) memastikan bahwa harga BBM tidak mengalami perubahan. Kebijakan ini berlaku secara nasional, mulai dari Aceh hingga Papua Pegunungan. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan krisis energi global yang masih berlangsung.
Untuk wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, harga BBM per 1 April 2026 ditetapkan sebagai berikut: Pertamax (RON 92) dijual Rp 12.300 per liter, Pertamax Green 95 Rp 12.900 per liter, dan Pertamax Turbo (RON 98) Rp 13.100 per liter. Sementara itu, Dexlite dibanderol Rp 14.200 per liter dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter.
Di wilayah Aceh dan Sumatera Utara, harga Pertalite berada di angka Rp 10.000 per liter dan Solar Rp 6.800 per liter. Untuk BBM non-subsidi, Pertamax dijual Rp 12.600 per liter, Pertamax Turbo Rp 13.350 per liter, Dexlite Rp 14.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp 14.800 per liter.
Sementara itu, di Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau, harga Pertalite dan Solar masih sama, yakni Rp 10.000 dan Rp 6.800 per liter. Namun, harga BBM non-subsidi sedikit lebih tinggi, dengan Pertamax di angka Rp 12.900 per liter, Pertamax Turbo Rp 13.650 per liter, Dexlite Rp 14.800 per liter, dan Pertamina Dex Rp 15.100 per liter.
Jika dibandingkan dengan Iran, harga BBM di Indonesia jelas jauh lebih mahal. Namun, kondisi ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Faktor seperti kapasitas produksi minyak, jumlah penduduk, hingga kebijakan fiskal menjadi penentu utama dalam penetapan harga BBM.
Dengan demikian, meskipun Indonesia masih tergolong memiliki harga BBM yang relatif terjangkau dibandingkan beberapa negara maju, selisihnya dengan negara seperti Iran tetap mencolok. Perbandingan ini menunjukkan bahwa harga BBM bukan sekadar soal murah atau mahal, melainkan juga cerminan dari strategi ekonomi dan energi yang diterapkan masing-masing negara.
Kontributor : Mutaya Saroh