Di Gang Sempit, River Ranger Jakarta Ajarkan Prinsip Sustainable Living Tanpa Menggurui

M. Reza Sulaiman

Selasa, 21 April 2026 | 11:32 WIB
Di Gang Sempit, River Ranger Jakarta Ajarkan Prinsip Sustainable Living Tanpa Menggurui
Kegiatan eco-enzyme di Sanggar Kemala, Duren Tiga (Dokumentasi/River Ranger Jakarta)

"Aku nggak bisa maksain tentang program. Aku udah nggak mampu menjalankan program itu. Karena yang dibutuhkan bukan itu saat itu," kenang Syahiq.

Alhasil, meski jauh dari visi-misi utama River Ranger yang berfokus pada lingkungan, ia memutuskan untuk mengajar komputer kepada guru-guru setempat. Baginya, memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat adalah pintu masuk untuk membangun kepercayaan. Ini juga masih sejalan dengan tujuan awal pembentukan River Ranger, yakni sebagai wadah untuk belajar.

Saat menceritakan ini, saya bisa merasakan ketulusan mereka. Mimik wajah Syahiq terlihat sangat merindu pada teman-teman di Timur. Dengan mata berbinar, ia tampak sangat bersemangat bisa membantu orang lain belajar.

Mengingat Sungai yang Pernah Hidup

Seorang anak yang belajar dan memperjuangkan kemerdekaan sampah bersama River Ranger Jakarta (Instagram/@riverrangerjakarta)
Seorang anak yang belajar dan memperjuangkan kemerdekaan sampah bersama River Ranger Jakarta (Instagram/@riverrangerjakarta)

Nah, kembali ke akarnya. Syahiq bercerita bahwa awalnya, gerakan yang digaungkan River Ranger Jakarta memang tidak langsung menyentuh isu lingkungan. Bersama Nana, yang sebelumnya mengelola taman baca, Syahiq membuka kelas bahasa Inggris, fotografi, hingga matematika dan bahasa Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menyadari ada masalah yang lebih mendesak. Masyarakat pinggiran sungai tidak lagi hidup selaras dengan alamnya.

Inilah yang membuat fokus River Ranger bergeser menjadi pendidikan sustainable living. Mereka membawa anak-anak pergi ke kebun untuk belajar di pinggiran sungai.

“Jadi ngelihat sendiri, ini loh tanaman-tanaman yang cuma ada di sini, endemik Condet, bahkan yang nggak ada di luar. Seperti Buni asli Condet, Salak, Gandaria, Menteng, Kuweni, Kedoya, Bintaro, semua yang ada di nama-nama jalanan yang mereka cuma tahu itu sebagai nama jalanan, padahal buahnya masih ada di Condet,” ujar Nana.

Pengenalannya pun dimulai dari yang paling dasar agar anak-anak memahami bagaimana kerusakan ini bisa terjadi dan apa yang menyebabkan kerusakan itu. Jujur saja, saya juga baru tahu kalau nama-nama jalan yang ada di Jakarta ini ternyata adalah buah.

“Jadi kita kenalkan mereka sama sungai. Ini loh sungai kalian tuh yang tadinya berbatu-batu, bersih, bisa mandi di dalamnya, sekarang warnanya keruh, coklat, banyak sampah, dan kita coba untuk ajak mereka mengenali sampah di sekitar situ,” cerita Nana. Dari sini, anak-anak akhirnya melihat sendiri bahwa sampah plastik yang ada, tidak terurai walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.

baca juga

Mendengar itu, saya merasa sedih. Kenyataan ini terasa seperti pil pahit. Jika tidak berubah, mungkin 40 tahun lagi sungai kita hanya akan menjadi saluran pembuangan raksasa yang mati.

Empati sebagai Nadi Perubahan

River Ranger Jakarta belajar di Kebun Kumara (Instagram/@riverrangerjakarta)
River Ranger Jakarta belajar di Kebun Kumara (Instagram/@riverrangerjakarta)

Dengan tidak menarik tarif atau rate card, River Ranger Jakarta membuktikan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Perjalanan mereka bukan hanya tentang membersihkan air yang keruh, melainkan tentang memulihkan hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Nana percaya bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk memengaruhi sekitarnya.

“Semua langkah besar pasti dimulai dari satu langkah. Be a change, jadi contoh buat orang lain, dan kamu akan rasakan semua orang akan berubah gara-gara satu orang," pesannya dengan penuh semangat.

Ini berdampak nyata bagi saya. Setelah kegiatan selesai, kami sempat makan bersama, dan di situlah saya melihat sendiri bagaimana prinsip Nana dipraktikkan tanpa perlu banyak bicara. Tanpa menggurui, mereka menunjukkan cara hidup minim sampah dengan menolak sedotan plastik, menggunakan tumbler, hingga memilah sampah organik dan anorganik.

Melihat aksi nyata itu, saya tersadar bahwa “menjadi contoh” bukan soal bicara besar, tapi soal pilihan kecil yang dilakukan berulang kali. Membawa tumbler, menolak sedotan, serta membawa wadah makan dari rumah kini menjadi gaya hidup baru bagi saya. “Rupanya, efek menular dari kebaikan itu benar-benar ada,” pikir saya kemudian.

Pada akhirnya, seperti yang dikatakan Syahiq bahwa perjuangan ini bermuara pada satu nilai inti yang sering kali terlupakan: kerusakan lingkungan itu bukan salah sampahnya, tapi dari hilangnya rasa empati yang dimiliki manusia.

Jadi, yuk, mulai kembalikan empati itu dari diri sendiri! Mungkin tidak perlu langsung mengubah dunia, tapi cukup mulai dengan mengubah cara kita memandang sampah sebagai tanggung jawab bersama.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak atau ingin ikut merasakan pengalaman “tersesat” untuk kebaikan, komunitas ini dapat dijangkau melalui Instagram mereka @riverrangerjakarta. Mari bergerak, sebelum sungai-sungai kita benar-benar kehilangan denyut nadinya!

(Reporter: Vicka Rumanti)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'

Di Kertabumi Recycling Center, Saya Menyaksikan Bagaimana Sampah Akhirnya Mendapat 'Nyawa Kedua'

Lifestyle | Selasa, 21 April 2026 | 10:13 WIB

Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA

Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA

Bisnis | Minggu, 19 April 2026 | 11:17 WIB

Sampah Jadi Pundi Rupiah: Cara Warga Kutawaru Ubah 240 Ton Limbah Jadi Destinasi Wisata

Sampah Jadi Pundi Rupiah: Cara Warga Kutawaru Ubah 240 Ton Limbah Jadi Destinasi Wisata

News | Jum'at, 17 April 2026 | 15:01 WIB

Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah

Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah

Lifestyle | Jum'at, 17 April 2026 | 12:30 WIB

Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?

Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?

Lifestyle | Kamis, 16 April 2026 | 11:15 WIB

Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri

Pulihkan Sungai, River Ranger Jakarta Ajak Warga Mulai dari Diri Sendiri

Lifestyle | Kamis, 16 April 2026 | 10:13 WIB

Terkini

FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?

FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?

Bola | Rabu, 22 Juli 2026 | 00:08 WIB

Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia

Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 00:00 WIB

Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur

Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:39 WIB

Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan

Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:29 WIB

Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru

Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:22 WIB

Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?

Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:17 WIB

Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper

Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11 WIB

Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi

Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi

Jabar | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:04 WIB

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:52 WIB

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47 WIB

×