Suara.com - Mengubah perilaku individu untuk mendukung mitigasi perubahan iklim bukan hal yang mudah. Sering kali terdapat kesenjangan antara niat untuk peduli lingkungan dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Berbagai penelitian telah mencoba memahami faktor yang mendorong perubahan perilaku, mulai dari eksperimen psikologi klasik seperti Stanford Marshmallow Experiment hingga Piano Staircase Experiment.
Namun, riset terbaru dari Northeastern University menunjukkan bahwa perubahan perilaku bisa dipicu dari lingkup keluarga. Anak-anak ditemukan memiliki potensi untuk memengaruhi dan mengubah kebiasaan orang tua mereka terkait isu perubahan iklim.
Metodologi Penelitian di Patna, India
Penelitian ini dipimpin oleh, assistant professor of marketing di Northeastern, Nirajana Mishra, bersama rekannya, public policy and economics professor, Nishith Prakash.
Studi lapangan dilakukan di Patna, India, sebuah ibu kota dengan masalah lingkungan yang signifikan. Polusi udara, kenaikan suhu, dan banjir menjadi hal yang sering dihadapi di sana.
Sebanyak lebih dari 1.500 keluarga dengan anak-anak yang duduk di bangku kelas 6 hingga 8 dilibatkan dalam program pendidikan lingkungan. Penelitian ini melibatkan tim peneliti multidisipin untuk melakukan studi lapangan yang didukung oleh Bank Dunia. Mengingat struktur keluarga di Patna yang cenderung memiliki hierarki dengan otoritas orang tua yang kuat, peneliti ingin menguji bagaimana dinamika ini memengaruhi keberhasilan program.
Selama satu minggu, keluarga peserta dibagi ke dalam empat kelompok secara acak untuk menerima intervensi dengan empat sesi pelajaran interaktif berdurasi 30 menit. Setiap keluarga tidak mendapatkan pengalaman yang sama.
Para peneliti menguji efek limpahan dengan secara acak menugaskan keluarga ke salah satu dari tiga kelompok, yakni kelompok anak saja, kelompok orang tua saja, serta kelompok orang tua dan anak. Di luar itu, ada juga kelompok kontrol yang tidak menerima kurikulum sama sekali.
Kurikulum ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan tiga hal, mencakup isu lingkungan, dampak perilaku individu, dan tindakan mitigasi perubahan iklim. Setiap sesi diakhiri dengan ruang diskusi antara orang tua dan anak dengan cara yang interaktif untuk menciptakan apa yang disebut peneliti sebagai efek limpahan.
"Jika Anda hanya melakukan sesi biasa, tidak ada yang akan berhasil, jadi Anda harus membuatnya lebih menyenangkan, lebih menarik," kata Prakash.
Dampak pada Perilaku
Efektivitas program juga diukur melalui pilihan peserta pada akhir kursus. Mereka harus memilih antara sertifikat penyelesaian yang dengan cetakan kertas standar saat itu juga atau kertas daur ulang yang harus ditunggu dalam satu minggu. Pilihan ini merepresentasikan kesediaan peserta untuk menanggung biaya, dalam hal ini waktu, guna memilih opsi yang lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan data yang terkumpul, orang tua yang anak-anaknya berpartisipasi dalam program, baik sendiri maupun bersama anaknya tercatat 26 persen yang cenderung memilih sertifikat hijau dibandingkan kelompok lainnya.
Dari enam perilaku lingkungan yang diamati, anak-anak memiliki efek limpahan pada empat poin, termasuk perubahan persepsi orang tua mengenai risiko perubahan iklim dan keyakinan bahwa tindakan individu dapat memberikan perbedaan. Sebaliknya, orang tua hanya memiliki efek limpahan satu poin, yaitu pada sertifikat penyelesaian. Penelitian ini pada akhirnya menunjukkan bahwa pengaruh orang tua terhadap persepsi lingkungan anak-anak ternyata sangat minim.