5 Terapi Obesitas yang Mulai Banyak Digunakan, dari Diet hingga Balon Lambung

Husna Rahmayunita, Dini Afrianti Efendi

Sabtu, 25 April 2026 | 08:41 WIB
5 Terapi Obesitas yang Mulai Banyak Digunakan, dari Diet hingga Balon Lambung
Ilustrasi obesitas.[Freepik.com]
baca 10 detik
  • Obesitas pada orang dewasa diprediksi akan meningkat 115% hingga pada 2030.
  • Terapi untuk mengatasi obesitas semakin diburu seiring dengan kepedulian terhadap kesehatan.
  • Ada lima yakni diet, terapi perilaku dan pendampingan, obat anti obesitas, balon lambung dan bariatrik.

 

Suara.com - Obesitas dianggap sebagai ibu dari segala penyakit karena berpotensi ‘melahirkan’ hipertensi, diabetes hingga serangan jantung. Hasilnya seiring meningkatnya kasus, terapi obesitas semakin diburu.

Adapun peningkatan obesitas bukanlah isapan jempol belaka. Data laporan World Obesity Federation pada Maret 2025 menyebutkan, obesitas pada orang dewasa akan meningkat 115% hingga pada 2030 mendatang.

Selain itu Organisasi Kesehetan Dunia (WHO) mengungkap obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi dalam jangka panjang. Tapi sayangnya penanganan obesitas tidaklah sederhana, kebanyakan pasien membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, mulai dari perubahan gaya hidup hingga intervensi medis.

Berikut ini 5 terapi obesitas yang bisa jadi pilihan seiring perkembangan teknologi kesehatan, hasil rangkuman Suara.com, Sabtu (25/4/2026)

1. Perbaikan pola hidup (diet)

Terapi paling dasar dalam penanganan obesitas adalah perubahan gaya hidup, meliputi pengaturan pola makan seimbang, kurangi konsumsi gula dan lemak serta peningkatan aktivitas fisik.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Shiela Stefani, M.Gizi, SpGK, AIFO-K, FINEM menegaskan bahwa perubahan gaya hidup adalah fondasi utama agar pasien obesitas bisa menurunkan berat badan dengan stabil tanpa efek Yoyo.

“Penanganan obesitas tidak bisa instan. Perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan sehari-hari tetap menjadi fondasi utama yang harus dijalani pasien,” ujar dr. Shiela dalam Workshop The 8th Bandung Nutri Wellness, di RS Al Islam Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

2. Terapi perilaku dan pendampingan

baca juga

Terapi perilaku dan pendampingan tenaga medis menjadi pendekatan penting untuk membantu pasien mengubah kebiasaan makan dan gaya hidup. Ini karena pendamping merupakan ahli gizi, dokter, personal trainer hingga psikolog.

Para pendamping ini nantinya akan membantu pasien memahami pola makan emosional, manajemen stres, hingga membangun rutinitas sehat. Apalagi menurut dr. Shiela, banyak kasus obesitas berkaitan dengan kebiasaan yang terbentuk dalam jangka panjang.

“Bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi bagaimana kebiasaan itu terbentuk. Karena itu, terapi perilaku menjadi bagian penting dalam penanganan obesitas,” jelas dr. Shiela.

3. Obat anti obesitas

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat meresepkan obat untuk membantu menurunkan berat badan. Obat ini bekerja dengan berbagai mekanisme, seperti menekan nafsu makan atau mengurangi penyerapan lemak.

Namun penggunaan obat harus berada di bawah pengawasan tenaga medis karena memiliki indikasi dan potensi efek samping.

4. Alternatif non-bedah, balon lambung

Balon lambung atau intragastric balkon kini mulai diminati. Metode ini bekerja dengan menempatkan balon di dalam lambung untuk memberikan rasa kenyang lebih cepat.

Inilah sebabnya dalam forum ilmiah seperti Bandung Nutri Wellness 2026 balon lambung turut diperkenalkan. Teknologi Allurion Gastric Balloon sebagai salah satu solusi penanganan obesitas modern dan tindakan lebih terintegrasi.

“Kepercayaan lintas dokter spesialis di Indonesia terhadap Allurion Gastric Balloon menunjukkan bahwa teknologi ini telah diterima sebagai salah satu solusi yang kredibel dalam membantu menekan angka obesitas,” ujar President Director PT Regenesis Indonesia, Emmy Noviawati.

Meski begitu dr. Shiela mengingatkan teknologi terapi obesitas seperti balon lambung bukanlah pengganti gaya hidup sehat, melainkan alat bantu.

“Terapi seperti intragastric balloon membantu pasien mengontrol asupan makan, tetapi tetap harus disertai perubahan gaya hidup agar hasilnya bertahan dalam jangka panjang,” papar dr. Shiela.

Metode ini dinilai lebih praktis karena tidak memerlukan operasi, tanpa endoskopi, dan tanpa anestesi. Selain itu, terapi ini juga dilengkapi dengan monitoring digital untuk memantau perkembangan pasien.

5. Bedah bariatrik

Untuk kasus obesitas berat, bedah bariatrik menjadi salah satu pilihan yang efektif. Prosedur ini mengubah sistem pencernaan untuk membatasi asupan makanan atau penyerapan kalori.

Namun, metode ini bersifat invasif dan memerlukan evaluasi medis menyeluruh serta komitmen jangka panjang dari pasien.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Prevalensi Obesitas Naik, Pendekatan Medis Terintegrasi Jadi Harapan Baru di Jakarta

Prevalensi Obesitas Naik, Pendekatan Medis Terintegrasi Jadi Harapan Baru di Jakarta

Lifestyle | Selasa, 14 April 2026 | 08:14 WIB

Beda Kelas! Saat Steven Wongso Jadikan Obesitas Bahan Hinaan, Ade Rai Justru Bongkar Bahayanya

Beda Kelas! Saat Steven Wongso Jadikan Obesitas Bahan Hinaan, Ade Rai Justru Bongkar Bahayanya

Your Say | Senin, 13 April 2026 | 20:55 WIB

Audy Item Bicara Obesitas: Pentingnya Dukungan Medis untuk Menurunkan Berat Badan

Audy Item Bicara Obesitas: Pentingnya Dukungan Medis untuk Menurunkan Berat Badan

Lifestyle | Jum'at, 06 Maret 2026 | 08:38 WIB

Terkini

Purbaya Bantah Airlangga soal Anggaran Buka Rekening Massal Tembus Rp 11 Triliun

Purbaya Bantah Airlangga soal Anggaran Buka Rekening Massal Tembus Rp 11 Triliun

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 22:38 WIB

Kadin Dorong Industri Tambang Perkuat Inovasi Hadapi Tekanan Geopolitik

Kadin Dorong Industri Tambang Perkuat Inovasi Hadapi Tekanan Geopolitik

News | Kamis, 10 September 2026 | 22:31 WIB

Warga Bisa Ikut Uji Coba Gratis, LRT Kelapa Gading-Manggarai Siap Beroperasi Penuh

Warga Bisa Ikut Uji Coba Gratis, LRT Kelapa Gading-Manggarai Siap Beroperasi Penuh

News | Kamis, 10 September 2026 | 22:19 WIB

Kawal Revisi Aturan Ketenagakerjaan, DPRD DKI Janji Teruskan Suara Buruh ke DPR RI

Kawal Revisi Aturan Ketenagakerjaan, DPRD DKI Janji Teruskan Suara Buruh ke DPR RI

News | Kamis, 10 September 2026 | 22:12 WIB

WNA Asal China Selundupkan 10,4 Kilogram Emas di Bali

WNA Asal China Selundupkan 10,4 Kilogram Emas di Bali

Video | Kamis, 10 September 2026 | 22:05 WIB

Synchronize Fest Mengumumkan Full Line Up 2026: "It's Not Just A Festival, It's A Movement"

Synchronize Fest Mengumumkan Full Line Up 2026: "It's Not Just A Festival, It's A Movement"

Entertainment | Kamis, 10 September 2026 | 22:00 WIB

KPK Geledah Rumah Polisi yang Akui Terima Rp16 Miliar dari Proyek Bekasi

KPK Geledah Rumah Polisi yang Akui Terima Rp16 Miliar dari Proyek Bekasi

News | Kamis, 10 September 2026 | 21:56 WIB

Kabut Asap Makin Pekat, ISPA di Palembang Tembus 113 Ribu Kasus

Kabut Asap Makin Pekat, ISPA di Palembang Tembus 113 Ribu Kasus

Sumsel | Kamis, 10 September 2026 | 21:46 WIB

Tim SAR Temukan Pelampung saat Cari Jurnalis Hilang, TNI AL: Jangan Berspekulasi

Tim SAR Temukan Pelampung saat Cari Jurnalis Hilang, TNI AL: Jangan Berspekulasi

News | Kamis, 10 September 2026 | 21:43 WIB

Promo BRI Ini Bikin Nongkrong di SKOLA Malah Bikin Untung

Promo BRI Ini Bikin Nongkrong di SKOLA Malah Bikin Untung

Bri | Kamis, 10 September 2026 | 21:29 WIB

×