- Jumlah kelas menengah di Indonesia menurun menjadi 47,2 juta orang pada 2024 akibat tekanan ekonomi dan biaya hidup.
- Masyarakat kelas menengah kini memanfaatkan fitur kantong pada layanan perbankan digital untuk mengelola serta merencanakan keuangan mereka.
- Penggunaan fitur digital tersebut terbukti meningkatkan kedisiplinan finansial, ketenangan pikiran, dan mempermudah pemantauan arus kas secara praktis.
Dengan pembagian dana yang jelas, pengguna merasa lebih terbantu untuk mengontrol pengeluaran agar tidak melewati batas yang sudah ditentukan.
Bahkan, 94,6 persen responden mengaku fitur tersebut membantu mereka lebih dekat mencapai tujuan finansial karena mengurangi pengeluaran berlebihan.
Menariknya lagi, kebiasaan memisahkan uang berdasarkan tujuan ternyata banyak diwariskan dari keluarga. Sebanyak 47,5 persen responden mengatakan pola tersebut berasal dari didikan orang tua sejak kecil.
Pentingnya Disiplin Finansial
Direktur Program dan Kebijakan Center of Policy Studies, Piter Abdullah, menilai perkembangan layanan keuangan digital membuat masyarakat kini lebih mudah mengatur uang tanpa proses yang rumit.
“Sekarang tanpa ke bank bisa buka rekening, dan dalam satu rekening bisa punya banyak kantong untuk kebutuhan berbeda,” ujarnya.
Menurut Piter, fitur kantong juga sangat bermanfaat bagi pelaku UMKM karena membantu memantau kondisi keuangan usaha secara lebih rapi dan transparan.
Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Pengembangan Produk LPPI, Trioksa Siahaan, mengingatkan bahwa inti utama pengelolaan keuangan tetap terletak pada disiplin dan kemampuan membedakan kebutuhan dengan gaya hidup.
“Ketika mendapatkan penghasilan, alokasikan mana yang untuk kebutuhan esensial. Harus bisa membedakan mana yang kebutuhan dan mana yang sekadar gaya hidup,” katanya.
Ia mengingatkan banyak orang terjebak masalah keuangan karena pengeluaran konsumtif yang tidak terkendali.
“Cukupkanlah dengan apa yang kita dapat, lalu kelola dengan baik,” pungkasnya.