Mengapa Banyak Orang Malu Makan Singkong? Upaya Mengembalikan Pangan Lokal ke Meja Makan Indonesia

Bimo Aria Fundrika

Senin, 25 Mei 2026 | 11:41 WIB
Mengapa Banyak Orang Malu Makan Singkong? Upaya Mengembalikan Pangan Lokal ke Meja Makan Indonesia
Pangan lokal (Pexels/Noval Gani)

Suara.com - Di banyak daerah di Indonesia, singkong, ubi, jagung, dan sagu pernah menjadi bagian penting dari makanan sehari-hari. Namun kini, tidak sedikit masyarakat yang merasa kurang percaya diri menyajikan pangan lokal tersebut, terutama ketika menerima tamu. Beras masih dianggap sebagai simbol kemakmuran, sementara pangan non-beras kerap diasosiasikan dengan kemiskinan dan keterbelakangan.

Pandangan tersebut, menurut jurnalis sekaligus pegiat pangan lokal Ahmad Arif, bukan sekadar persoalan selera makan. Ia menilai ada proses sejarah panjang yang membentuk cara masyarakat memandang pangan lokal hingga dianggap kurang bernilai dibanding beras.

“Ini terkait dengan kekuasaan yang sudah lama, dimulai sebenarnya sejak era Belanda bahkan. Saya selalu bilang, ini adalah praktik gastro-colonialism, penjajahan terhadap perut,” kata Ahmad Arif dalam Raksha Loka Fest 2026 yang digelar GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia, Sabtu (23/5).

Ilustrasi ubi jalar - Ubi jalar menjadi makanan yang bisa tumbuhkan rambut alami (Freepik)
Ilustrasi ubi jalar - Ubi jalar menjadi makanan yang bisa tumbuhkan rambut alami (Freepik)

Menurut Ahmad, sejak masa kolonial hingga berbagai kebijakan pangan modern, masyarakat secara perlahan dibentuk untuk menganggap beras sebagai standar pangan yang lebih maju. Akibatnya, banyak komunitas yang memiliki tradisi pangan lokal justru kehilangan kepercayaan diri terhadap bahan pangan yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri.

Ketika Pangan Lokal Dianggap Kurang Bergengsi

Fenomena tersebut masih terlihat di sejumlah daerah. Aktivis desa Zadrakh Mengge mengaku kerap menemukan warga yang lebih memilih membeli makanan kemasan daripada mengonsumsi pangan lokal yang tersedia di sekitar rumah mereka.

“Kita ke desa, sekarang yang dicari justru ke kios untuk membeli biskuit. Padahal mereka punya singkong rebus, tetapi tidak mau menyajikannya karena malu,” ujar Zadrakh.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam mendorong konsumsi pangan lokal bukan hanya soal ketersediaan bahan makanan, melainkan bagaimana mengembalikan rasa bangga masyarakat terhadap hasil bumi mereka sendiri.

Pandangan bahwa pangan lokal identik dengan kemiskinan dinilai turut mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat. Di sisi lain, Indonesia justru memiliki keragaman sumber karbohidrat yang dapat mendukung ketahanan pangan, mulai dari singkong, ubi, talas, jagung, hingga sagu.

baca juga

Pengetahuan yang Mulai Terputus

Selain persoalan persepsi, tantangan lain datang dari semakin berkurangnya pengetahuan generasi muda tentang cara mengolah pangan lokal. Gastronom dan peneliti pangan lokal Mei Batubara mengatakan proses pewarisan pengetahuan yang selama ini berlangsung di dapur keluarga mulai memudar.

“Anak-anak sekarang tidak lagi ikut orang tua ke kebun atau belajar mengenali tanaman dan cara memasaknya. Jadi pengetahuan itu memang akan hilang,” ujarnya.

Menurut Mei, banyak tanaman pangan lokal masih tersedia di berbagai daerah. Namun, generasi muda semakin asing dengan cara mengolahnya karena resep dan teknik memasak selama ini diwariskan melalui praktik langsung di rumah, bukan melalui buku atau catatan tertulis.

“Tanamannya masih ada, tetapi anak mudanya tidak tahu bagaimana cara memasaknya. Karena resep itu diturunkan lewat praktik bersama di dapur,” katanya.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam keberlanjutan tradisi kuliner lokal, tetapi juga berpotensi mengurangi keragaman pangan masyarakat. Padahal, berbagai pangan lokal selama ini dikenal kaya nutrisi dan menjadi bagian dari pola makan yang berkembang sesuai kondisi lingkungan masing-masing daerah.

Mengembalikan Pangan Lokal ke Meja Makan

Para pegiat pangan menilai upaya mengembalikan pangan lokal ke meja makan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan kampanye sesaat atau ajakan moral. Dibutuhkan dukungan kebijakan yang mendorong diversifikasi pangan sekaligus membuka ruang bagi pangan lokal untuk kembali hadir dalam kehidupan sehari-hari.

“Jalan keluarnya tidak bisa hanya dengan mengubah selera makan masyarakat. Perlu ada kebijakan. Negara harus hadir,” tegas Ahmad.

Salah satu peluang yang dinilai dapat dimanfaatkan adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali berbagai pangan lokal kepada anak-anak sejak usia dini sekaligus membangun kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam.

Bagi Ahmad, memperkuat pangan lokal bukan sekadar soal mengganti nasi dengan singkong atau sagu. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan upaya menjaga identitas budaya, memperkuat ketahanan pangan, dan memastikan generasi mendatang tetap mengenal kekayaan pangan yang tumbuh di tanah mereka sendiri.

Di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata, mulai dari siklus El-Nino yang ekstrem hingga ancaman ketahanan pangan, Program GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia menyelenggarakan Festival Raksha Loka di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, pada 22-23 Mei 2026.

Festival bertajuk “Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan di Masa Depan” ini merupakan selebrasi sekaligus ruang amplifikasi atas keberhasilan inisiatif pemulihan ekosistem berbasis komunitas yang telah dijalankan selama empat tahun terakhir dalam fase Operational Phase 7 (OP7).

Sejak Juli 2022, GEF SGP Indonesia bersama 86 mitra lokal telah bekerja di empat bentang alam strategis, yakni: DAS Bodri (Jawa Tengah), DAS Balantieng (Sulawesi Selatan), Gorontalo (Wilayah Penyangga SM Nantu & Tahura BJ Habibie), serta Pulau Sabu Raijua (NTT). Upaya kolektif ini telah berhasil memulihkan ekosistem dari ancaman deforestasi, krisis air bersih, hingga degradasi pesisir.

Penulis: Vicka Rumanti

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menjaga Protein dari Hulu, Misi SPHP Jagung Meredam Gejolak Harga Telur

Menjaga Protein dari Hulu, Misi SPHP Jagung Meredam Gejolak Harga Telur

News | Senin, 18 Mei 2026 | 23:11 WIB

Petani Kena Imbas UU Ciptaker, Aliansi GEBRAK: Tentara Sekarang Ikut Tanam Jagung!

Petani Kena Imbas UU Ciptaker, Aliansi GEBRAK: Tentara Sekarang Ikut Tanam Jagung!

News | Jum'at, 01 Mei 2026 | 15:09 WIB

Update Harga Ubi Kayu, Jagung, dan Tebu Terbaru April 2026, sebelum Bioetanol E20 Digenjot

Update Harga Ubi Kayu, Jagung, dan Tebu Terbaru April 2026, sebelum Bioetanol E20 Digenjot

Lifestyle | Kamis, 30 April 2026 | 13:40 WIB

Terkini

UI Luncurkan Aplikasi MAKA, Media Belajar Berbasis Gamifikasi untuk Anak Usia 3-8 Tahun

UI Luncurkan Aplikasi MAKA, Media Belajar Berbasis Gamifikasi untuk Anak Usia 3-8 Tahun

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 23:22 WIB

3 Zodiak Paling Beruntung pada 10 Juli 2026, Siap-Siap Menyambut Hari Baik

3 Zodiak Paling Beruntung pada 10 Juli 2026, Siap-Siap Menyambut Hari Baik

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 21:30 WIB

6 Arti Mimpi Dipoligami Suami Menurut Primbon Jawa, Pertanda Apa?

6 Arti Mimpi Dipoligami Suami Menurut Primbon Jawa, Pertanda Apa?

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 21:05 WIB

Tren Home Wellness Kian Diminati, Kualitas Air dan Udara Kini Jadi Prioritas Keluarga Modern

Tren Home Wellness Kian Diminati, Kualitas Air dan Udara Kini Jadi Prioritas Keluarga Modern

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:46 WIB

Beda Bedak Padat Wardah Colorfit dan Lightening, Mana yang Paling Sesuai Jenis Kulitmu?

Beda Bedak Padat Wardah Colorfit dan Lightening, Mana yang Paling Sesuai Jenis Kulitmu?

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:45 WIB

Apakah Bedak Marina Tahan Lama? Cek Klaim Brand dan Ulasan Pengguna

Apakah Bedak Marina Tahan Lama? Cek Klaim Brand dan Ulasan Pengguna

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:25 WIB

Beda Two Way Cake dan Powder Foundation, Mana yang Lebih Bagus?

Beda Two Way Cake dan Powder Foundation, Mana yang Lebih Bagus?

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:15 WIB

Bedanya Scarlett Whitening Acne Serum vs Brightly Ever After, Mana yang Cocok untuk Kulit Anda?

Bedanya Scarlett Whitening Acne Serum vs Brightly Ever After, Mana yang Cocok untuk Kulit Anda?

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:01 WIB

Dikaitkan dengan Ritual Pesugihan, Viral Daftar Harga Layanan Ritual di Gunung Kawi

Dikaitkan dengan Ritual Pesugihan, Viral Daftar Harga Layanan Ritual di Gunung Kawi

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:20 WIB

Masalah Rambut Tak Selalu Sama, Ini Pentingnya Memilih Perawatan Sesuai Kebutuhan

Masalah Rambut Tak Selalu Sama, Ini Pentingnya Memilih Perawatan Sesuai Kebutuhan

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:09 WIB

×