- Presiden Prabowo Subianto resmi mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional pada 2 Juni 2026.
- Pemberhentian dilakukan setelah hasil evaluasi pemerintah menemukan masalah tata kelola dan kualitas program Makan Bergizi Gratis.
- Nanik Sudaryati Deyang resmi dilantik sebagai pemimpin baru Badan Gizi Nasional menggantikan posisi yang ditinggalkan Dadan Hindayana.
Suara.com - Kontroversi Dadan Hindayana kembali jadi sorotan usai resmi dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin, 2 Juni 2026.
Pergantian tersebut diumumkan bersamaan dengan pelantikan pimpinan baru BGN, yakni Nanik Sudaryati Deyang yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala BGN.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan hasil evaluasi menemukan sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program, mulai dari kedisiplinan terhadap standar operasional prosedur (SOP), tata kelola, hingga kualitas makanan yang diterima penerima manfaat.
Selama memimpin BGN sejak lembaga tersebut dibentuk, Dadan menjadi salah satu pejabat yang paling sering mendapat sorotan publik.

Selain menghadapi berbagai tantangan dalam pelaksanaan program MBG, sejumlah pernyataan dan kebijakan yang ia sampaikan juga beberapa kali memicu polemik di masyarakat.
Berikut daftar kontroversi Dadan Hindayana selama menjabat sebagai Kepala BGN.
1. Usul Serangga dan Ulat Sagu untuk Menu MBG
Pada Januari 2025, Dadan menjadi perbincangan setelah mengusulkan pemanfaatan serangga dan ulat sagu sebagai alternatif sumber protein dalam program MBG.
Menurut Dadan, Indonesia memiliki keragaman pangan lokal yang berbeda di setiap daerah. Di sejumlah wilayah, terutama kawasan Indonesia Timur, masyarakat telah lama mengonsumsi ulat sagu maupun beberapa jenis serangga sebagai sumber protein.
Pernyataan tersebut memicu pro dan kontra. Sebagian pihak menilai usulan itu sebagai bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal, sementara lainnya menganggapnya tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat terhadap program makan bergizi yang didanai negara.
2. Pengakuan Minum Dua Liter Susu per Hari
Kontroversi berikutnya muncul saat Dadan menghadiri acara di Pondok Pesantren Syaichona Muhammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, pada 25 Mei 2025.
Dalam kesempatan itu, Dadan menceritakan kebiasaannya mengonsumsi sekitar dua liter susu setiap hari. Ia kemudian mengaitkan kebiasaan tersebut dengan tinggi badan kedua anaknya yang disebut mencapai lebih dari 180 sentimeter.
Pernyataan tersebut mendapat kritik dari warganet karena dianggap kurang sensitif terhadap kondisi ekonomi sebagian masyarakat Indonesia yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, apalagi mengonsumsi susu dalam jumlah besar setiap hari.
Menanggapi kritik tersebut, Dadan menjelaskan bahwa apa yang disampaikannya merupakan pengalaman pribadi dan bukan bagian dari kebijakan resmi program Makan Bergizi Gratis.