Suara.com - Di media sosial, perhatian datang dan pergi dalam hitungan detik. Satu video bisa ditonton jutaan kali, sementara informasi lain lewat begitu saja di layar.
Di tengah ruang digital yang dipenuhi hiburan dan tren cepat berganti, Muthia Hanifah melihat ada satu hal yang sering tertinggal, percakapan tentang lingkungan.
Bagi perempuan yang akrab disapa Mudi itu, persoalannya bukan karena masyarakat tidak peduli. Menurutnya, banyak orang hanya merasa isu lingkungan terlalu besar, terlalu rumit, dan terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.
Karena itu, alih-alih memulai dari data emisi atau kerusakan hutan, ia memilih pendekatan yang berbeda, berbicara tentang kebiasaan kecil yang akrab dengan keseharian.
Membawa botol minum sendiri. Mengurangi membeli barang yang tidak dibutuhkan. Tidak memelihara satwa liar.
Pilihan itu kemudian membawanya menjadi edukator konservasi sekaligus konten kreator yang aktif menyuarakan isu lingkungan melalui media sosial.
Ketika Isu Lingkungan Terasa Terlalu Jauh
Langkah tersebut menjadi relevan di tengah tingginya penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan Survei Profil Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 236 juta jiwa atau sekitar 81,72 persen dari total populasi.
Namun, besarnya ruang digital belum otomatis membuat isu lingkungan lebih mudah diterima.
“Isu lingkungan itu sebenarnya isu yang paling dekat sama kita, tetapi banyak orang menganggap isu lingkungan adalah isu yang jauh karena mereka menganggap kalau membahas isu lingkungan itu soal yang berat, kayak pembabatan hutan, sawit, dan lain-lain,” ujar Mudi.
Menurutnya, persepsi tersebut membuat banyak orang merasa menjaga lingkungan membutuhkan perubahan besar. Padahal, kepedulian dapat dimulai dari keputusan-keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari.
Mudi mencontohkan praktik seperti memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi konsumsi berlebih, hingga lebih bijak dalam memilih produk yang digunakan.
Membawa Isu Konservasi ke Timeline Anak Muda
Selain gaya hidup sehari-hari, Mudi juga menaruh perhatian pada isu konservasi yang menurutnya masih minim mendapat sorotan publik.
Salah satunya adalah perdagangan satwa liar di platform digital.