Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 10 Juni 2026 | 14:05 WIB
Membaca Jakarta dari Ruang Hijau: Catatan Sehari Bersama Ayo ke Taman
Anak-anak bermain air mancur di Taman Cattleya (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)

Suara.com - Minggu pagi itu, suara klakson yang biasanya mendominasi Jakarta seakan menghilang sejenak.

Di Taman Cattleya, Jakarta Barat, bunyi kendaraan digantikan percikan air mancur dan tawa anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki di area bermain air.

Kala itu waktu belum menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi taman sudah dipenuhi berbagai aktivitas. Ada lansia yang berjalan santai, kelompok ibu-ibu yang mengikuti senam pagi dengan iringan musik, hingga keluarga yang menggelar tikar dan menikmati sarapan bersama di bawah rindangnya pepohonan.

Di tengah kota yang identik dengan pusat perbelanjaan dan gedung bertingkat, pemandangan itu menghadirkan gambaran lain tentang bagaimana warga memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai tempat beristirahat dari rutinitas.

Namun, di balik suasana yang terasa nyaman, sejumlah persoalan perlahan terlihat.

Antrean panjang di depan dua bilik toilet menjadi salah satunya. Para orang tua tampak menunggu sambil menggandeng anak-anak yang baru selesai bermain air. Fasilitas yang tersedia belum sepenuhnya mampu mengimbangi jumlah pengunjung yang datang di akhir pekan.

Pagi itu, saya bergabung dengan komunitas Ayo ke Taman dalam kegiatan park mapping atau pemetaan taman. Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengamati kondisi taman dari berbagai aspek, mulai dari aksesibilitas, fasilitas, hingga vegetasi.

Labirin Mewah yang Luput dari Langkah

Fasad depan Taman Cattleya (Dok. Pribadi/Ayo ke Taman)
Fasad depan Taman Cattleya (Dok. Pribadi/Ayo ke Taman)

Hari itu, saya dikelilingi wajah-wajah baru. Orang-orang yang sebelumnya asing, tetapi dipertemukan oleh satu kesamaan: kepedulian terhadap ruang terbuka hijau di Jakarta.

Peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok untuk memetakan kondisi Taman Cattleya, yakni kelompok Akses, Fasilitas, serta Vegetasi dan Infrastruktur Hijau. Saya bergabung dengan kelompok Akses.

Sekilas, Taman Cattleya tampak seperti taman kota yang ideal. Lokasinya strategis, berada di tengah kepadatan Jakarta Barat. Namun, kesan itu mulai berubah saat kami berdiri di depan gerbang utamanya.

Tulisan besar yang menyambut pengunjung justru lebih menyerupai pintu masuk sebuah kompleks perumahan elite daripada ruang publik. Beberapa peserta menilai desain tersebut membuat taman terasa eksklusif dan kurang mengundang.

"Kalau cuma lewat, saya mungkin enggak sadar ini taman umum," ujar salah satu peserta.

Kesan serupa berlanjut saat kami menyusuri jalur pedestrian. Di beberapa titik, conblock tampak bergelombang dan tidak rata. Jalur landai yang disediakan untuk pengguna kursi roda juga terlihat sempit. Taman yang ramai digunakan warga itu ternyata belum sepenuhnya ramah bagi semua orang.

“Jalannya enggak rata sama tanah. Ngeri aja kalau kepleset bisa keseleo. Dari tadi juga enggak ada guiding block untuk teman-teman tunanetra,” kata Isa saat sesi diskusi.

Kelompok kami juga mencatat tidak adanya peta kawasan di pintu masuk utama. Padahal, bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, taman seluas tiga hektare itu cukup membingungkan tanpa penunjuk arah yang jelas.

Menjelang siang, kami berkumpul di bawah rindangnya pepohonan untuk saling berbagi temuan. Lembar-lembar zine yang dibawa peserta perlahan dipenuhi catatan dan evaluasi. Duduk di hamparan rumput yang mulai menipis di beberapa bagian, diskusi mengalir semakin hidup.

Dari kelompok Fasilitas, Maya melontarkan satu pengamatan yang mengundang tawa sekaligus refleksi.

“Namanya Cattleya, diambil dari bunga anggrek. Tapi dari ujung ke ujung kita enggak menemukan anggrek sama sekali,” ujarnya.

Meski banyak peserta sepakat bahwa Cattleya merupakan salah satu taman yang nyaman untuk keluarga, sejumlah catatan tetap muncul. Area danau, misalnya, belum dilengkapi pagar pengaman. Papan informasi mengenai tata tertib pengunjung juga sangat minim.

Sementara itu, kelompok Vegetasi dan Infrastruktur Hijau menemukan sisi lain yang jarang diperhatikan pengunjung. Di balik rimbunnya kanopi pohon, taman ini menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup kaya.

Pohon kamboja, janda merana, hingga bintaro tumbuh di berbagai sudut taman. Kupu-kupu beterbangan di antara semak, katak muncul di area basah, sementara kawanan soang berkeliaran di dekat danau. Namun kekayaan itu nyaris tak memiliki penjelasan.

“Harusnya ada plang informasi. Jenis pohonnya banyak, tapi orang awam enggak bakal tahu kalau enggak dikasih penjelasan,” ujar salah satu peserta.

Di situlah kami menyadari bahwa Taman Cattleya bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga menyimpan potensi sebagai ruang belajar tentang alam di tengah kota.

Pagi itu, diskusi berlangsung hangat. Orang-orang yang beberapa jam sebelumnya belum saling mengenal, kini sibuk bertukar gagasan tentang bagaimana taman kota bisa menjadi lebih inklusif, aman, dan edukatif. Kegelisahan yang sama tentang ruang publik perlahan mencairkan kecanggungan, menyisakan satu keyakinan: taman bukan sekadar ruang hijau, melainkan ruang bersama yang layak dirawat dan diperjuangkan.

Membelah Kota Menuju Jakarta Future Festival

Diskusi dan penutupan acara di Taman Ismail Marzuki, Minggu (7/6/26) (Dok. Pribadi/Ayo ke Taman)
Diskusi dan penutupan acara di Taman Ismail Marzuki, Minggu (7/6/26) (Dok. Pribadi/Ayo ke Taman)

Menjelang pukul 11.00 WIB, sesi pemetaan Taman Cattleya berakhir. Namun, perjalanan kami belum selesai.

Bersama komunitas Ayo ke Taman, kami melanjutkan langkah menuju Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini yang menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Jakarta Future Festival. Perjalanan ditempuh menggunakan transportasi umum, mulai dari TransJakarta hingga kereta komuter, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan TIM.

Perjalanan itu terasa seperti pengingat bahwa ruang publik tidak berdiri sendiri. Taman, trotoar, halte, stasiun, hingga pusat kegiatan warga saling terhubung dalam satu ekosistem kota yang menentukan apakah sebuah ruang benar-benar mudah diakses atau tidak.

Di sepanjang perjalanan, diskusi tentang Taman Cattleya masih terus berlanjut. Catatan mengenai aksesibilitas, fasilitas publik, hingga potensi edukasi lingkungan berubah menjadi percakapan tentang bagaimana kota yang lebih ramah warga seharusnya dibangun.

Setibanya di TIM, suasana berbeda langsung terasa. Di tengah keramaian Jakarta Future Festival, peserta Ayo ke Taman membagikan hasil pengamatan mereka, bertukar ide, sekaligus menyampaikan harapan untuk masa depan ruang terbuka hijau Jakarta.

Yang menarik, sebagian peserta baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Ada yang datang dari Bogor, ada pula yang berangkat dari Tangerang Selatan. Mereka berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh ketertarikan yang sama terhadap ruang publik dan lingkungan.

Bagi mereka, kegiatan seperti ini bukan sekadar jalan-jalan ke taman. Ada proses belajar untuk melihat kota dari sudut pandang yang berbeda: memahami kebutuhan pejalan kaki, memetakan hambatan akses, hingga mengenali keanekaragaman hayati yang sering luput dari perhatian.

Pengalaman sehari itu menunjukkan bahwa menjaga taman kota bukan hanya tugas pemerintah. Warga juga dapat berperan sebagai pengamat, pengguna, sekaligus pemberi masukan bagi ruang publik yang mereka gunakan setiap hari.

Di tengah tantangan Jakarta sebagai kota megapolitan, inisiatif seperti Ayo ke Taman menghadirkan ruang kolaborasi yang sederhana namun penting. Dari sebuah jalan kaki bersama, lahir percakapan tentang kota yang lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih nyaman untuk ditinggali.

Sebab pada akhirnya, taman bukan hanya tentang pohon dan hamparan rumput. Ia adalah ruang pertemuan warga, tempat gagasan tumbuh, dan tempat harapan tentang masa depan kota dapat dirawat bersama.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengapa Lahan Basah Kecil Perlu Diperhitungkan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim?

Mengapa Lahan Basah Kecil Perlu Diperhitungkan dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim?

News | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:45 WIB

Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?

Sampah Plastik Dibakar untuk Memasak: Solusi Murah atau Ancaman Diam-Diam?

Your Say | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:25 WIB

Siklus Beli-Ganti-Buang: Murah Saat Dibeli, Mahal bagi Lingkungan

Siklus Beli-Ganti-Buang: Murah Saat Dibeli, Mahal bagi Lingkungan

Your Say | Rabu, 10 Juni 2026 | 10:33 WIB

Terkini

Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan

Banyak Ibu Mengalaminya, Ini Kisah Bangkit dari Kerontokan Rambut Pascapersalinan

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:39 WIB

Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240

Daftar Harga BBM BP Hari Ini di Jabodetabek dan Jawa Timur, BP Ultimate Tembus Rp17.240

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:39 WIB

Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro

Weton Tulang Wangi Apa Saja? Ini Alasan Dilarang Keluar di Malam 1 Suro

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:19 WIB

4 Lipstik Merah Transferproof yang Tidak Nempel di Gelas saat Minum, Tetap Bold Sepanjang Hari

4 Lipstik Merah Transferproof yang Tidak Nempel di Gelas saat Minum, Tetap Bold Sepanjang Hari

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:18 WIB

4 Shio dengan Hari Kurang Beruntung pada Juni 2026, Simak Prediksinya

4 Shio dengan Hari Kurang Beruntung pada Juni 2026, Simak Prediksinya

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:15 WIB

Mudi dan Cara Baru Mengenalkan Konservasi: Tidak Selalu dari Hutan, Bisa dari Media Sosial

Mudi dan Cara Baru Mengenalkan Konservasi: Tidak Selalu dari Hutan, Bisa dari Media Sosial

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 13:00 WIB

Apa Itu Solid Perfume? Ini Kelebihan dan Kekurangannya Dibandingkan Parfum Cair

Apa Itu Solid Perfume? Ini Kelebihan dan Kekurangannya Dibandingkan Parfum Cair

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:31 WIB

5 Cushion Terlaris di TikTok, Penjualannya Tembus Jutaan Produk

5 Cushion Terlaris di TikTok, Penjualannya Tembus Jutaan Produk

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:29 WIB

7 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Kering dan Pecah-Pecah

7 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Kering dan Pecah-Pecah

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:13 WIB

Harta Kekayaan Chatib Basri, Dirumorkan Gantikan Posisi Menkeu Purbaya

Harta Kekayaan Chatib Basri, Dirumorkan Gantikan Posisi Menkeu Purbaya

Lifestyle | Rabu, 10 Juni 2026 | 12:06 WIB