Suara.com - Minggu pagi itu, suara klakson yang biasanya mendominasi Jakarta seakan menghilang sejenak.
Di Taman Cattleya, Jakarta Barat, bunyi kendaraan digantikan percikan air mancur dan tawa anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki di area bermain air.
Kala itu waktu belum menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi taman sudah dipenuhi berbagai aktivitas. Ada lansia yang berjalan santai, kelompok ibu-ibu yang mengikuti senam pagi dengan iringan musik, hingga keluarga yang menggelar tikar dan menikmati sarapan bersama di bawah rindangnya pepohonan.
Di tengah kota yang identik dengan pusat perbelanjaan dan gedung bertingkat, pemandangan itu menghadirkan gambaran lain tentang bagaimana warga memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai tempat beristirahat dari rutinitas.
Namun, di balik suasana yang terasa nyaman, sejumlah persoalan perlahan terlihat.
Antrean panjang di depan dua bilik toilet menjadi salah satunya. Para orang tua tampak menunggu sambil menggandeng anak-anak yang baru selesai bermain air. Fasilitas yang tersedia belum sepenuhnya mampu mengimbangi jumlah pengunjung yang datang di akhir pekan.
Pagi itu, saya bergabung dengan komunitas Ayo ke Taman dalam kegiatan park mapping atau pemetaan taman. Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengamati kondisi taman dari berbagai aspek, mulai dari aksesibilitas, fasilitas, hingga vegetasi.
Labirin Mewah yang Luput dari Langkah

Hari itu, saya dikelilingi wajah-wajah baru. Orang-orang yang sebelumnya asing, tetapi dipertemukan oleh satu kesamaan: kepedulian terhadap ruang terbuka hijau di Jakarta.
Peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok untuk memetakan kondisi Taman Cattleya, yakni kelompok Akses, Fasilitas, serta Vegetasi dan Infrastruktur Hijau. Saya bergabung dengan kelompok Akses.
Sekilas, Taman Cattleya tampak seperti taman kota yang ideal. Lokasinya strategis, berada di tengah kepadatan Jakarta Barat. Namun, kesan itu mulai berubah saat kami berdiri di depan gerbang utamanya.
Tulisan besar yang menyambut pengunjung justru lebih menyerupai pintu masuk sebuah kompleks perumahan elite daripada ruang publik. Beberapa peserta menilai desain tersebut membuat taman terasa eksklusif dan kurang mengundang.
"Kalau cuma lewat, saya mungkin enggak sadar ini taman umum," ujar salah satu peserta.
Kesan serupa berlanjut saat kami menyusuri jalur pedestrian. Di beberapa titik, conblock tampak bergelombang dan tidak rata. Jalur landai yang disediakan untuk pengguna kursi roda juga terlihat sempit. Taman yang ramai digunakan warga itu ternyata belum sepenuhnya ramah bagi semua orang.
“Jalannya enggak rata sama tanah. Ngeri aja kalau kepleset bisa keseleo. Dari tadi juga enggak ada guiding block untuk teman-teman tunanetra,” kata Isa saat sesi diskusi.
Kelompok kami juga mencatat tidak adanya peta kawasan di pintu masuk utama. Padahal, bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, taman seluas tiga hektare itu cukup membingungkan tanpa penunjuk arah yang jelas.
Menjelang siang, kami berkumpul di bawah rindangnya pepohonan untuk saling berbagi temuan. Lembar-lembar zine yang dibawa peserta perlahan dipenuhi catatan dan evaluasi. Duduk di hamparan rumput yang mulai menipis di beberapa bagian, diskusi mengalir semakin hidup.
Dari kelompok Fasilitas, Maya melontarkan satu pengamatan yang mengundang tawa sekaligus refleksi.
“Namanya Cattleya, diambil dari bunga anggrek. Tapi dari ujung ke ujung kita enggak menemukan anggrek sama sekali,” ujarnya.
Meski banyak peserta sepakat bahwa Cattleya merupakan salah satu taman yang nyaman untuk keluarga, sejumlah catatan tetap muncul. Area danau, misalnya, belum dilengkapi pagar pengaman. Papan informasi mengenai tata tertib pengunjung juga sangat minim.
Sementara itu, kelompok Vegetasi dan Infrastruktur Hijau menemukan sisi lain yang jarang diperhatikan pengunjung. Di balik rimbunnya kanopi pohon, taman ini menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup kaya.
Pohon kamboja, janda merana, hingga bintaro tumbuh di berbagai sudut taman. Kupu-kupu beterbangan di antara semak, katak muncul di area basah, sementara kawanan soang berkeliaran di dekat danau. Namun kekayaan itu nyaris tak memiliki penjelasan.
“Harusnya ada plang informasi. Jenis pohonnya banyak, tapi orang awam enggak bakal tahu kalau enggak dikasih penjelasan,” ujar salah satu peserta.
Di situlah kami menyadari bahwa Taman Cattleya bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga menyimpan potensi sebagai ruang belajar tentang alam di tengah kota.
Pagi itu, diskusi berlangsung hangat. Orang-orang yang beberapa jam sebelumnya belum saling mengenal, kini sibuk bertukar gagasan tentang bagaimana taman kota bisa menjadi lebih inklusif, aman, dan edukatif. Kegelisahan yang sama tentang ruang publik perlahan mencairkan kecanggungan, menyisakan satu keyakinan: taman bukan sekadar ruang hijau, melainkan ruang bersama yang layak dirawat dan diperjuangkan.
Membelah Kota Menuju Jakarta Future Festival

Menjelang pukul 11.00 WIB, sesi pemetaan Taman Cattleya berakhir. Namun, perjalanan kami belum selesai.
Bersama komunitas Ayo ke Taman, kami melanjutkan langkah menuju Taman Ismail Marzuki (TIM) di Cikini yang menjadi salah satu lokasi penyelenggaraan Jakarta Future Festival. Perjalanan ditempuh menggunakan transportasi umum, mulai dari TransJakarta hingga kereta komuter, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju kawasan TIM.
Perjalanan itu terasa seperti pengingat bahwa ruang publik tidak berdiri sendiri. Taman, trotoar, halte, stasiun, hingga pusat kegiatan warga saling terhubung dalam satu ekosistem kota yang menentukan apakah sebuah ruang benar-benar mudah diakses atau tidak.
Di sepanjang perjalanan, diskusi tentang Taman Cattleya masih terus berlanjut. Catatan mengenai aksesibilitas, fasilitas publik, hingga potensi edukasi lingkungan berubah menjadi percakapan tentang bagaimana kota yang lebih ramah warga seharusnya dibangun.
Setibanya di TIM, suasana berbeda langsung terasa. Di tengah keramaian Jakarta Future Festival, peserta Ayo ke Taman membagikan hasil pengamatan mereka, bertukar ide, sekaligus menyampaikan harapan untuk masa depan ruang terbuka hijau Jakarta.
Yang menarik, sebagian peserta baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. Ada yang datang dari Bogor, ada pula yang berangkat dari Tangerang Selatan. Mereka berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh ketertarikan yang sama terhadap ruang publik dan lingkungan.
Bagi mereka, kegiatan seperti ini bukan sekadar jalan-jalan ke taman. Ada proses belajar untuk melihat kota dari sudut pandang yang berbeda: memahami kebutuhan pejalan kaki, memetakan hambatan akses, hingga mengenali keanekaragaman hayati yang sering luput dari perhatian.
Pengalaman sehari itu menunjukkan bahwa menjaga taman kota bukan hanya tugas pemerintah. Warga juga dapat berperan sebagai pengamat, pengguna, sekaligus pemberi masukan bagi ruang publik yang mereka gunakan setiap hari.
Di tengah tantangan Jakarta sebagai kota megapolitan, inisiatif seperti Ayo ke Taman menghadirkan ruang kolaborasi yang sederhana namun penting. Dari sebuah jalan kaki bersama, lahir percakapan tentang kota yang lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih nyaman untuk ditinggali.
Sebab pada akhirnya, taman bukan hanya tentang pohon dan hamparan rumput. Ia adalah ruang pertemuan warga, tempat gagasan tumbuh, dan tempat harapan tentang masa depan kota dapat dirawat bersama.