- Good Duck jadi ruang refleksi ringan dengan metode LEGO® SERIOUS PLAY®, membantu peserta menemukan jawaban sendiri tanpa nasihat atau instruksi.
- Dyah Oetari menekankan setiap orang punya pemikiran unik, dan bricks dipakai sebagai medium ekspresi pikiran yang sulit diungkapkan.
- Ada dua format sesi: Ducks After Dark offline dan The Afternoon Room online, keduanya memberi pengalaman refleksi personal dengan biaya berbeda.
Suara.com - Setiap orang pasti pernah berada di persimpangan hidup. Entah soal transisi karier, perubahan prioritas, tekanan sosial, atau sekadar pertanyaan tentang masa depan.
Situasi ini kerap menimbulkan kebingungan, baik di usia muda maupun fase kehidupan lainnya. Namun, kesempatan untuk berhenti sejenak dan benar-benar melihat ke dalam diri masih jarang tersedia.
Di titik inilah Good Duck hadir dengan pendekatan berbeda, yakni ruang refleksi yang ringan, playful, dan menyenangkan.
Sebagai bagian dari visinya membangun kultur berpikir, Good Duck menggelar media experience bertajuk Ducks After Dark di SUBO FAMILY Cipete.
Para jurnalis diajak merasakan langsung bagaimana ruang reflektif ini bekerja. Bukan lewat materi satu arah, melainkan pengalaman yang membuat peserta hadir sepenuhnya, merefleksikan pertanyaan yang belum terjawab, dan menemukan kejernihan dari dalam diri.

Founder Good Duck, Dyah Oetari, menegaskan bahwa gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa setiap orang punya pemikiran unik.
“Kami ingin menjadikan Good Duck sebagai tempat bagi setiap individu memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dan berpikir tentang dirinya sendiri, dengan cara yang playful. Good Duck bukan workshop. Tidak ada kesimpulan yang disiapkan, ataupun jawaban yang sudah ditentukan sebelumnya," kata Dyah Oetari.
"Melainkan kondisi untuk peserta menemukan jawabannya sendiri, yang terwujud lewat sesuatu yang konkret dan bisa dilihat secara fisik. Yakni, berpikir dengan tangan dan menggunakan bricks sebagai mediumnya,” sambungnya.
Metode yang dipakai adalah LEGO® SERIOUS PLAY®, dikembangkan di IMD Business School Swiss bersama The LEGO Group. Jika biasanya digunakan dalam konteks korporat, Good Duck mengadaptasinya untuk kebutuhan personal.
Narasi yang diangkat adalah persimpangan pilihan hidup sehari-hari. Fasilitatornya pun sudah tersertifikasi resmi dari The Association of Master Trainers in LEGO® SERIOUS PLAY® Method di Billund, Denmark.
Perbedaan mendasar Good Duck dengan ruang refleksi lain adalah absennya nasihat dan instruksi. Peserta hanya menerima prompt reflektif, lalu menjawabnya dengan membangun model dari bricks.
Fasilitator berperan memancing narasi dari model yang dibuat, bukan mengarahkan kesimpulan. Proses ini terasa ringan, karena tangan yang sibuk membangun justru menjadi ekspresi pikiran yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dyah menambahkan, “Dari lebih dari lima tahun memfasilitasi peserta dari beragam latar belakang, satu hal yang selalu muncul adalah kesadaran tentang kehidupan mereka hari ini dan kemungkinan apa yang bisa dilakukan untuk menetapkan pilihan.”
Saat ini, Good Duck hadir dalam dua format. Ducks After Dark adalah sesi offline bulanan dengan slot terbatas, diisi refleksi komunal, musik pengiring, dan makan malam bersama.
Sementara The Afternoon Room digelar online setiap Sabtu via Google Meet, dengan maksimal 12 peserta. Sebelum sesi, peserta akan menerima brick kit dan kartu refleksi langsung ke rumah.
Biaya pendaftaran Ducks After Dark sebesar Rp980 ribu per orang, sedangkan The Afternoon Room Rp680 ribu. Pendaftaran bisa dilakukan melalui situs goodduck.id minimal seminggu sebelum acara.
“Saya ingin Good Duck menjadi ruang untuk berpikir jernih tentang diri sendiri, dengan cara yang menyenangkan. Setelah mengikuti sesi ini, saya berharap peserta tahu apa yang mereka mau lakukan, karena persimpangan pilihan dan keputusan akan selalu muncul dalam setiap fase hidup kita," pungkas Dyah.