Menurut UNCTAD, praktik tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kopi berkelanjutan tidak hanya berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pedesaan, termasuk perempuan.
"Pengalaman petani kopi di Xiangkhouang memperlihatkan potensi besar kopi arabika untuk mendukung keberlanjutan di wilayah utara Laos," kata Wakil Direktur Divisi Departemen Promosi UMKM Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Laos, Sonephet Sihapanya.
Ia menambahkan, sistem agroforestri kopi mampu menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat peran perempuan dalam rantai nilai komoditas kopi.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Direktur Jenderal Departemen Promosi UMKM Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Laos, Vithoun Sithimorlada.
"Agroforestri menawarkan keuntungan bagi Laos untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan memperkuat ketahanan iklim," ujarnya.
Tantangan berikutnya
Meski menawarkan berbagai manfaat, keberhasilan sistem kopi berkelanjutan tidak hanya bergantung pada teknologi budidaya. Petani kecil juga perlu memperoleh akses terhadap pendampingan, pembiayaan, sertifikasi, hingga pasar yang memberikan insentif bagi praktik produksi yang ramah lingkungan.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan semakin ketatnya standar perdagangan global, agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang berpotensi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi alam.
Namun, keberhasilan model ini pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana petani menjadi aktor utama dalam rantai nilai kopi berkelanjutan. Jika diterapkan secara inklusif, agroforestri tidak hanya menjaga hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada komoditas kopi.
Penulis: Chairunisa