- Gwen Sharon Han dan Eileen Fathia Baltasar menjadi pemandu tur Open House ACG School Jakarta pada 29 Agustus 2026.
- Kedua penerima beasiswa tersebut memilih sekolah internasional untuk mempersiapkan rencana melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri.
- Mereka menilai lingkungan multikultural dan dukungan guru di sekolah sangat membantu proses adaptasi serta perkembangan akademik.
Baru Beberapa Minggu, Sudah Merasakan Lingkungan Multikultural
Gwen sendiri baru beberapa minggu bersekolah di ACG School Jakarta. Ia bahkan sempat melewatkan minggu pertama sekolah karena baru mulai bergabung setelahnya.
Meski masih dalam tahap adaptasi, Gwen mengaku tidak mengalami banyak kesulitan. Menurutnya, guru dan lingkungan sekolah yang suportif membuat proses tersebut berjalan lebih mudah.
"Adaptasinya gampang. The teachers, they're really welcoming. And my surroundings are also too, because it's a diverse community, so we accept each other easily," kata Gwen.
Hal yang sama dirasakan Eileen. Sebelum bergabung dengan ACG School Jakarta, Eileen bersekolah di SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta Selatan.
Sejak SMP, Eileen memang sudah memiliki keinginan untuk bersekolah di sekolah internasional. Tujuannya berkaitan dengan rencana melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri.
"Goals aku dari dulu memang untuk PTLN, jadi mau ke luar negeri," kata Eileen.
Menurut Eileen, bersekolah di sekolah internasional dapat membuat transisi menuju perguruan tinggi di luar negeri menjadi lebih mudah, terutama karena sistem kurikulum yang digunakan.
Ia secara khusus mencari sekolah yang menerapkan International Baccalaureate (IB). Menurutnya, pendekatan IB memungkinkan dirinya mengeksplorasi suatu bidang secara lebih mendalam.
"Aku merasa my curiosity itu bisa lebih detail dan bisa lebih di-explore sama guru-guru IB," ujarnya.
ACG School Jakarta sendiri mengombinasikan kurikulum IB dan Cambridge pada jenjang yang berbeda. Pada jenjang senior, siswa kemudian mengikuti IB Diploma Programme.
Multikultural Bukan Hambatan
Memasuki lingkungan sekolah dengan siswa dari berbagai negara awalnya mungkin terdengar menantang. Namun, baik Gwen maupun Eileen justru melihat keberagaman sebagai salah satu hal yang membuat pengalaman sekolah mereka semakin menarik.
ACG School Jakarta saat ini memiliki sekitar 300 siswa dari 35 kebangsaan. Keragaman tersebut membuat interaksi antarsiswa tidak hanya mempertemukan mereka dengan teman dari latar budaya yang berbeda, tetapi juga membuka kesempatan untuk melihat berbagai cara pandang.
Gwen mengatakan tidak ada masalah berteman dengan siswa dari berbagai kebangsaan.
"Walaupun kita memiliki nasionalitas yang berbeda, berasal dari negara-negara yang berbeda, punya pengalaman yang berbeda dan pendapat yang berbeda, itu membuatnya lebih menarik bagi kita," katanya.
Menurutnya, perbedaan latar belakang justru membuka kesempatan untuk mengetahui pengalaman dan perspektif baru.
Eileen merasakan hal serupa. Ia mengatakan lingkungan yang multikultural membuat percakapan antarsiswa menjadi lebih beragam.
"Multicultural-nya itu kayaknya membuat conversation kita menjadi lebih menarik. Kita bisa tahu apa persamaan kita, perbedaan kita," tuturnya.
Lebih dari sekadar mengetahui budaya lain, Eileen merasa interaksi tersebut mengajarkannya untuk memahami cara berpikir orang lain.
"Aku belajar cara mengambil perspektif orang yang terlepas dari my own bubble, my own world. I get to understand their way of thinking," ujarnya.
Menurut Eileen, kemampuan memahami perspektif yang berbeda akan menjadi bekal penting ketika mereka nantinya memasuki dunia kerja dan kehidupan sosial yang juga semakin beragam.

Guru Membantu Menyiapkan Kuliah di Luar Negeri
Selain lingkungan multikultural, Eileen juga merasakan dukungan akademik yang membuat proses adaptasinya lebih mudah.
Ia mengaku sempat khawatir dengan perbedaan tingkat pembelajaran antara sekolah nasional dan kurikulum internasional. Namun, guru-guru di ACG School Jakarta memberikan berbagai bantuan agar ia dapat mengikuti pelajaran bersama siswa lainnya.
"Para guru di sini sangat mengakomodasi. Mereka banyak memberi bantuan ekstra, worksheets, dan bantuan lainnya supaya study aku akan se-level sama anak-anak yang lain," kata Eileen.
Dukungan tersebut juga diberikan dalam mempersiapkan rencana pendidikan tinggi.
Eileen sejak SMP sudah tertarik pada psikologi dan neuroscience. Ia ingin mempelajari bidang yang menggabungkan psikologi dengan ilmu tentang otak.
Saat ini, ia mempertimbangkan universitas di Inggris, Kanada, hingga Singapura. Dalam proses menentukan pilihan tersebut, ia mendapat pendampingan dari IB Diploma Programme Coordinator ACG School Jakarta, Mr. Kieran.
Mulai dari pemilihan mata pelajaran IB hingga pertimbangan negara tujuan kuliah, Eileen berdiskusi dengan pihak sekolah agar pilihan akademiknya tetap sejalan dengan rencana masa depannya.
"Di sini benar-benar dibantu banget untuk nge-passing. Aku ngomong sama Mr. Kiran tentang segala pilihan yang kira-kira lebih bagus, lebih realistis dan lain-lain," ujarnya.
Dari Siswa Menjadi Bagian dari Komunitas
Kepercayaan kepada Gwen dan Eileen untuk menjadi host Open House menjadi salah satu contoh bagaimana sekolah memberi ruang kepada siswa untuk berperan aktif dalam komunitas.
Kepala ACG School Jakarta Myles D’Airelle mengatakan sekolah tidak hanya ingin siswa menerima pengetahuan akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu menghargai perbedaan.
"Di ACG School Jakarta, kami memiliki keyakinan untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana mengembangkan siswa yang percaya diri, bukan hanya siswa yang menerima ilmu pengetahuan. Kami percaya siswa yang percaya diri akan mampu menyampaikan ide, berpikir kritis, dan menghargai perbedaan," ujar Myles.
Menurutnya, ketika siswa dipercaya memimpin kegiatan seperti Open House, mereka tidak sekadar memperkenalkan sekolah kepada calon siswa dan orang tua. Mereka juga belajar menyampaikan pengalaman menggunakan perspektif mereka sendiri.
"Dengan memimpin kegiatan Open House, siswa-siswa kami bisa berbagi pengalaman menggunakan kata-kata mereka sendiri untuk menceritakan apa yang telah mereka alami dan bagaimana mereka berkembang sebagai seorang pribadi yang utuh," katanya.
Pengalaman membangun komunitas itu kemudian berlanjut dalam kegiatan Family BBQ bertema "Around the World". Acara tersebut mempertemukan keluarga calon siswa, siswa baru, siswa aktif, orang tua, serta komunitas sekolah lainnya.
Dengan sekitar 300 siswa dari 35 kebangsaan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi keluarga baru untuk berkenalan dan membangun koneksi di luar ruang kelas.
Bagi Gwen dan Eileen, pengalaman menjadi host Open House pun pada akhirnya bukan sekadar kesempatan memperkenalkan fasilitas sekolah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk berani keluar dari zona nyaman, berinteraksi dengan orang baru, sekaligus belajar memahami berbagai perspektif.
Eileen bahkan punya satu pesan bagi siswa lain yang memiliki impian untuk bersekolah di lingkungan internasional.
"Intinya harus punya self confidence dan pengen explore new things. Dengan kita punya audacity untuk melamar beasiswa ini atau mencari pengalaman baru, mencari orang-orang baru yang bisa terus berinteraksi sama kita, itu bisa sangat membantu. It goes a long way," ujarnya.
Menurut Eileen, siswa tidak perlu takut menunjukkan dirinya sendiri ketika memasuki lingkungan baru.
"Be yourself aja," katanya.
Bagi mereka, keberagaman bukan sesuatu yang harus dihindari dalam proses belajar. Justru dari perbedaan itulah mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas, sekaligus memahami diri sendiri.