- Kitab at-Ta'bir fi ar-Ru'ya karya Abi Sa'id Nasr bin Ya'qub ad-Dinawari merinci berbagai tafsir mimpi kematian diri sendiri menurut Islam.
- Mimpi meninggal dengan tanda sakit menunjukkan kondisi agama yang kurang baik, sedangkan tanpa tanda menandakan umur panjang.
- Mimpi meninggal lalu hidup lagi, sekarat, hingga perbedaan tempat kematian membawa makna tersendiri terkait perbuatan, dunia, dan derajat.
Suara.com - Mimpi melihat diri sendiri meninggal dapat menimbulkan rasa takut dan pertanyaan tentang apakah pengalaman tersebut berkaitan dengan sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan nyata.
Dalam pandangan Islam, mimpi tentang kematian tidak selalu harus dipahami sebagai pertanda seseorang benar-benar akan meninggal dalam waktu dekat.
Sejumlah ulama penafsir mimpi memberikan makna yang berbeda berdasarkan keadaan seseorang dalam mimpi, termasuk tanda kematian, kondisi setelah meninggal, hingga tempat seseorang terlihat meninggal.
Karena itu, tafsir arti mimpi diri sendiri meninggal menurut Islam perlu dilihat secara lebih terperinci dan tidak disimpulkan hanya dari gambaran kematian yang muncul dalam tidur.
Dalam kitab at-Ta'bir fi ar-Ru'ya karya Abi Sa'id Nasr bin Ya'qub ad-Dinawari, terdapat beberapa perincian mengenai mimpi seseorang melihat dirinya meninggal. Tafsir tersebut membedakan makna mimpi berdasarkan situasi yang menyertai kematian dalam mimpi. Berikut penjelasannya seperti dikutip dari NU Online.
1. Meninggal disertai tanda-tanda kematian
Jika seseorang bermimpi dirinya meninggal dan melihat tanda-tanda yang menyertai kematian, seperti mengalami sakit atau menangis, mimpi tersebut ditafsirkan sebagai gambaran kondisi keagamaan yang kurang baik.
Penafsiran ini dikaitkan dengan QS Al-An'am ayat 122 yang memuat perumpamaan tentang seseorang yang berada dalam keadaan mati kemudian dihidupkan kembali.
Dalam konteks tafsir yang digunakan untuk memahami mimpi, keadaan tersebut diarahkan pada kondisi seseorang yang tidak baik dalam menjalankan ajaran agamanya.
2. Meninggal tanpa tanda-tanda sebelumnya
Berbeda dengan kondisi sebelumnya, seseorang yang bermimpi meninggal tanpa melihat tanda-tanda kematian seperti sakit atau sekarat memiliki tafsir yang berbeda.
Mimpi tersebut ditafsirkan sebagai pertanda bahwa orang yang mengalaminya akan memperoleh umur panjang. Dengan demikian, gambaran kematian dalam mimpi tidak otomatis dimaknai sebagai pertanda buruk.
3. Meninggal kemudian hidup kembali
Mimpi diri sendiri meninggal lalu kembali hidup memiliki tafsir yang berkaitan dengan dosa dan pertobatan.
Dalam penafsiran ini, kematian menggambarkan keadaan setelah seseorang melakukan dosa, sedangkan kehidupan kembali dikaitkan dengan kesadaran dan pertobatan atas kesalahan tersebut.
Makna tersebut disandarkan pada QS Ghafir ayat 11 yang menyebutkan keadaan mati dan hidup kembali serta pengakuan terhadap dosa. Karena itu, mimpi semacam ini dapat dipahami sebagai pengingat untuk melakukan introspeksi dan kembali kepada Allah.
4. Berada dalam keadaan sekarat
Apabila seseorang hanya bermimpi sedang mengalami sakratul maut, tafsir yang diberikan berkaitan dengan perbuatan zalim. Keadaan tersebut dapat diarahkan pada kemungkinan seseorang sedang menzalimi dirinya sendiri maupun melakukan ketidakadilan terhadap orang lain.
Penafsiran ini dikaitkan dengan QS Al-An'am ayat 93 yang menggambarkan orang-orang zalim ketika berada dalam tekanan sakratul maut.
5. Meninggal dan dikelilingi orang yang mengurus jenazah
Mimpi melihat diri sendiri meninggal dengan orang-orang berkumpul di sekitar, termasuk menyaksikan persiapan mandi jenazah, kain kafan, keranda, atau perlengkapan lainnya, juga memiliki tafsir khusus.
Menurut penafsiran yang dirangkum dalam at-Ta'bir fi ar-Ru'ya, kondisi tersebut menunjukkan keadaan keagamaan yang kurang baik, tetapi kehidupan duniawinya berada dalam kondisi yang baik.
6. Meninggal berdasarkan tempat dan keadaan
Tempat seseorang melihat dirinya meninggal dalam mimpi juga menjadi bagian dari perincian tafsir. Jika kematian terjadi di atas tanah dalam keadaan tidak berpakaian, hal tersebut ditafsirkan sebagai kemungkinan mengalami kefakiran.
Sebaliknya, meninggal di atas karpet atau permadani ditafsirkan sebagai kelapangan dalam urusan dunia. Sementara itu, apabila seseorang melihat dirinya meninggal di atas dipan atau ranjang, tafsirnya berkaitan dengan kenaikan kedudukan, pangkat, atau derajat.
Berbagai penafsiran tersebut merupakan pandangan ulama dalam tradisi tafsir mimpi dan tidak semestinya dijadikan kepastian mengenai masa depan seseorang.
Karena itu, mimpi tentang kematian sebaiknya tidak membuat seseorang langsung menyimpulkan akan mengalami kematian atau musibah, melainkan dapat menjadi kesempatan untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kehidupan. Wallahu a'lam.