- Shio berkaitan dengan 12 hewan dalam sistem astrologi Tionghoa.
- Setiap hewan memiliki simbol dan gambaran karakter yang berbeda.
- Kenali asal-usul dan makna 12 shio dalam tradisi Tionghoa.
Suara.com - Shio dikenal dalam budaya Tionghoa dan sering muncul dalam pembahasan seputar tahun kelahiran, peruntungan, hingga karakter seseorang.
Setiap pergantian tahun dalam kalender Tionghoa juga biasanya dikaitkan dengan salah satu hewan dalam siklus shio.
Pembahasan tentang shio pun tidak berhenti pada nama hewannya saja. Dalam tradisi dan astrologi Tionghoa, masing-masing simbol memiliki cerita serta gambaran karakter yang membuatnya memiliki makna berbeda.
Lantas, apa arti shio dalam astrologi Tionghoa dan bagaimana asal-usul 12 hewan tersebut? Simak penjelasannya berikut.
Setiap hewan dalam shio punya simbol dan karakter yang berbeda dalam tradisi Tionghoa.

Apa Arti Shio dalam Astrologi Tionghoa?
Shio atau Chinese zodiac adalah sistem yang menggunakan 12 hewan dalam siklus tahunan.
Urutannya terdiri dari Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi. Setelah Babi, siklus kembali lagi ke Tikus.
Dalam astrologi Tionghoa, hewan tersebut kemudian dikaitkan dengan karakter dan simbol tertentu. Orang yang lahir pada tahun tertentu dipercaya memiliki hubungan dengan shio yang menaungi tahun kelahirannya.
Shio juga tidak berdiri sendiri. Sistem ini berkaitan dengan lima unsur, yakni Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air. Perpaduan antara hewan dan unsur menghasilkan siklus yang lebih panjang, yaitu 60 tahun.
Apa Saja 12 Shio?
Ada 12 hewan yang digunakan dalam siklus shio. Urutannya adalah sebagai berikut.
Tikus
Kerbau
Macan
Kelinci
Naga
Ular
Kuda
Kambing
Monyet
Ayam
Anjing
Babi
Kedua belas hewan tersebut berganti setiap tahun dalam kalender Tionghoa. Siklusnya terus berulang setelah mencapai shio Babi.
Setiap hewan juga memiliki gambaran simbolik yang berbeda. Misalnya, Naga dikenal sebagai satu-satunya makhluk mitologis dalam 12 shio dan memiliki kaitan dengan kekuatan serta keberuntungan dalam tradisi Tionghoa.
Bagaimana Asal-Usul 12 Shio?
Asal-usul sistem 12 shio memiliki sejarah yang panjang. Simbol hewan dalam budaya Tionghoa telah muncul dalam artefak dan literatur sejak sekitar 475 hingga 221 SM.
Sistem 12 hewan kemudian semakin luas digunakan pada masa Dinasti Han, yang berlangsung sekitar 206 SM hingga 220 M.
Ada pula cerita rakyat yang populer untuk menjelaskan mengapa 12 hewan tersebut menempati urutan tertentu. Salah satu versinya menceritakan perlombaan yang diikuti berbagai hewan untuk menentukan posisi dalam siklus.
Dalam kisah tersebut, Tikus berhasil menjadi yang pertama setelah memanfaatkan bantuan Kerbau untuk menyeberangi sungai.
Sementara itu, Naga yang memiliki kemampuan terbang justru berhenti di tengah perjalanan untuk membantu sebuah desa yang mengalami kekeringan.
Cerita tersebut merupakan bagian dari legenda yang berkembang dalam budaya Tionghoa. Versinya pun dapat berbeda-beda, sehingga kisah perlombaan tidak bisa dianggap sebagai catatan sejarah terbentuknya sistem shio.
Apa Makna dari Masing-Masing Shio?
Dalam astrologi Tionghoa, setiap hewan memiliki simbol dan karakter yang berbeda. Gambaran tersebut kemudian digunakan dalam berbagai tafsir mengenai kepribadian dan peruntungan.
Shio Tikus kerap dikaitkan dengan kecerdikan, ketekunan, dan kemampuan mencari peluang. Dalam legenda perlombaan, Tikus menempati urutan pertama dengan memanfaatkan kecerdikannya.
Shio Kerbau sering diasosiasikan dengan kekuatan dan ketekunan. Sementara Shio Macan memiliki gambaran keberanian dan kekuatan.
Shio Kelinci umumnya dikaitkan dengan sifat lembut dan kepekaan. Shio Naga memiliki simbol yang cukup kuat dalam budaya Tionghoa dan kerap dikaitkan dengan kekuasaan, keberuntungan, serta kemakmuran.
Shio Ular memiliki gambaran karakter yang berkaitan dengan kecerdikan. Shio Kuda sering dikaitkan dengan kerja keras, keberanian, dan ketahanan.
Shio Kambing kerap diasosiasikan dengan sifat lembut dan perhatian. Shio Monyet memiliki gambaran lincah, cerdas, dan penuh rasa ingin tahu.
Sementara itu, Shio Ayam sering dikaitkan dengan ketelitian, Shio Anjing dengan kesetiaan dan kejujuran, sedangkan Shio Babi memiliki hubungan dengan simbol kekayaan dalam sejarah budaya Tionghoa.
Apakah Shio Menentukan Kepribadian?
Dalam astrologi Tionghoa, shio sering digunakan untuk memberikan gambaran mengenai karakter seseorang berdasarkan tahun kelahirannya.
Namun, tafsir tersebut merupakan bagian dari tradisi astrologi dan kepercayaan budaya, bukan ukuran ilmiah untuk menentukan kepribadian.
Selain tahun kelahiran, unsur yang menyertainya juga menjadi bagian dari sistem tersebut. Ada lima unsur yang berulang, yaitu Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air. Kombinasi antara 12 hewan dan lima unsur membentuk siklus 60 tahun.
Artinya, dua orang yang memiliki shio sama belum tentu mendapatkan gambaran astrologi yang sepenuhnya sama jika unsur yang menyertainya berbeda.
Apa Fungsi Shio dalam Budaya Tionghoa?
Shio tidak hanya digunakan dalam pembacaan astrologi. Sistem ini juga berkaitan dengan penanggalan dan berbagai tradisi yang berkembang dalam masyarakat Tionghoa.
Pergantian tahun dalam kalender Tionghoa ditandai dengan hadirnya hewan shio yang baru. Perayaan Tahun Baru Imlek pun kerap menggunakan simbol hewan tersebut dalam dekorasi, kartu ucapan, hingga berbagai kegiatan budaya.
Dalam perkembangannya, shio juga digunakan untuk membahas kecocokan pasangan, karakter, pekerjaan, peruntungan, hingga berbagai aspek kehidupan lainnya. Penggunaannya dapat berbeda bergantung pada tradisi dan praktik astrologi yang dianut.