- CMO SCGI Agency Jessica Gautama menyatakan kreator bermodal pengikut terbatas tetap bisa memonetisasi media sosial.
- Strategi monetisasi mencakup penguasaan rumus konten, penentuan segmen audiens spesifik, serta adaptasi pesan lintas platform.
- Hasil dari strategi tersebut adalah brand kini lebih menghargai engagement sehat dan bukti pengaruh nyata kreator.
Jessica menyarankan agar satu kampanye memiliki satu pesan utama (core message), namun disampaikan dengan cara yang adaptif.
TikTok: Cocok untuk konten yang lebih raw, spontan, menghibur, dan memancing percakapan.
Instagram: Lebih menonjolkan aspek visual yang estetik dan aspirasional.
YouTube: Tempat yang tepat untuk edukasi mendalam atau storytelling yang panjang.
"Pesan dan karakter brand Anda harus konsisten, tapi formatnya harus mengikuti perilaku audiens di masing-masing platform," imbuh lulusan Nanyang Academy of Fine Arts Singapore ini.
4. Bangun "Proof of Influence" ketimbang Jumlah Follower
Kabar baik bagi kreator kecil: Brand masa kini tidak lagi hanya mengejar angka follower. Mereka mencari kreator yang memiliki engagement sehat, karakter kuat, dan mampu membangun kepercayaan audiens (proof of influence).
Daripada menjadi "palugada" (apa lu mau gue ada), lebih baik fokus pada satu ceruk (niche) tertentu agar Anda mudah dikenali sebagai ahli di bidang tersebut. Jessica juga menyarankan kreator untuk proaktif.
"Jangan hanya menunggu endorse. Monetisasi bisa datang dari berbagai pintu, mulai dari affiliate marketing, live commerce, hingga menjadi mitra kreatif bagi sebuah brand," tuturnya.
Jangan lupa siapkan media kit profesional yang berisi profil audiens dan performa konten Anda.
5. Jadikan Data sebagai Kompas Kreativitas
Data bukan sekadar angka untuk laporan, melainkan petunjuk untuk langkah selanjutnya. Jangan hanya terpaku pada jumlah likes atau views.
Jessica mengajak kreator untuk membedah data lebih dalam: mana konten yang paling banyak disimpan (saves), dibagikan (shares), atau menghasilkan kunjungan profil.
"Cari polanya. Apakah audiens Anda lebih responsif terhadap konten edukasi atau demonstrasi produk? Gunakan data tersebut untuk menciptakan siklus: publish-measure-learn-optimize-repeat," imbuhnya.
Bagi Jessica, data tidak akan mematikan kreativitas. Sebaliknya, data membantu kreator memahami jenis kreativitas apa yang paling relevan bagi audiens, sehingga setiap konten yang dibuat tidak hanya berdasarkan perasaan semata.