- Restoran Bumi Lembur Kuring resmi membuka outlet baru di Pondok Indah Mall 1 pada Agustus 2026.
- Restoran ini menyajikan berbagai menu tradisional Sunda dan hidangan seafood yang disesuaikan untuk masyarakat urban Jakarta Selatan.
- Manajemen mengandalkan kualitas makanan serta fasilitas ruang privat untuk menarik kunjungan rutin konsumen di mal.
Suara.com - Kuliner Sunda sedang mencari ruang baru di tengah perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Jika selama ini rumah makan Sunda lebih identik dengan restoran luas, saung, dan lokasi yang menjadi tujuan khusus, Bumi Lembur Kuring mencoba membawa pendekatan berbeda dengan membuka outlet di Pondok Indah Mall (PIM) 1, Jakarta Selatan.
Kehadiran restoran ini menarik karena Pondok Indah merupakan salah satu kawasan premium di Jakarta Selatan, dengan karakter pengunjung yang beragam, mulai dari penghuni kawasan hunian dan kondominium, pekerja perkantoran, hingga masyarakat yang datang untuk berbagai aktivitas di pusat perbelanjaan.
Di tengah lingkungan tersebut, masakan Sunda ditempatkan bukan sekadar sebagai kuliner tradisional, tetapi sebagai bagian dari aktivitas makan masyarakat urban.
Outlet Bumi Lembur Kuring di PIM 1 mulai beroperasi pada Agustus 2026 setelah proses pembangunan sekitar tiga bulan. Grand opening digelar pada Sabtu (12/9/2026).
Ketika Masakan Sunda Bertemu Pola Makan Urban
Anthony Aziz, perwakilan Manajemen Bumi Lembur Kuring, mengatakan pemilihan Jakarta Selatan tidak terlepas dari karakter pasar yang dinilai memiliki kedekatan dengan kuliner Nusantara.
Menurut dia, Jakarta Selatan memiliki demografi yang cukup beragam, tetapi tetap menjadi salah satu kawasan yang potensial untuk makanan Indonesia.
Pondok Indah kemudian dipilih karena dianggap memiliki ekosistem yang sesuai dengan konsep baru tersebut.
“Kalau kita lihat demografi Jakarta sendiri, yang paling cocok atau suka dengan makanan Nusantara itu Jakarta Selatan,” kata Anthony saat ditemui di Bumi Lembur Kuring, Sabtu (12/9/2026).
Pilihan membuka restoran di dalam mal juga mengubah cara pelanggan mengakses kuliner Sunda. Konsumen tidak lagi harus menjadikan rumah makan sebagai tujuan perjalanan tersendiri. Hal ini karena restoran berada di tengah kawasan yang sudah menjadi bagian dari rutinitas mereka.
Karakter ini turut terlihat dari target pengunjung yang dibidik. Selain keluarga, restoran diarahkan untuk kebutuhan pertemuan, arisan, dan acara kelompok.
Bumi Lembur Kuring memiliki kapasitas sekitar 144 orang, dengan area indoor dan outdoor, dua saung, serta tiga ruang VIP.
Ruang VIP berkapasitas sekitar 8 hingga 12 orang. Salah satu ruangan dilengkapi televisi 65 inci untuk kebutuhan meeting, sedangkan ruangan lainnya memiliki televisi 55 inci dan fasilitas karaoke.
Dengan fasilitas tersebut, fungsi restoran menjadi lebih luas dibandingkan sekadar tempat makan.

Menu Lama, Penyesuaian Baru
Sejumlah hidangan Sunda yang telah lama dikenal jadi andalan di sini, antara lain gurame acar kuning, gurame bakar pecak, karedok, sayur asem, empal Pasundan, dan pepes ikan mas.
Dari deretan menu tersebut, gurame acar kuning menjadi salah satu sajian yang merepresentasikan gaya masakan Sunda yang familiar. Gurame dipadukan dengan bumbu acar yang memberikan rasa gurih sekaligus asam dan segar.
Ada pula gurame bakar pecak, sementara pilihan sayuran seperti karedok dan sayur asem menghadirkan elemen yang lebih dekat dengan pola makan khas Sunda.
Empal Pasundan dan pepes ikan mas melengkapi pilihan lauk dengan teknik dan bumbu yang lebih tradisional.

Bumi Lembur Kuring juga memperluas pilihan ke hidangan seafood. Salah satunya alu-alu bakar acar, yang menggunakan ikan barakuda dengan saus bercita rasa asam, segar, dan sedikit pedas.
Untuk kebutuhan makan bersama, tersedia nasi liwet dengan pilihan lauk seperti ayam, kecombrang, dan cumi, serta nasi bakar.
Pilihan tersebut menunjukkan adanya upaya mempertemukan menu khas Sunda dengan kebutuhan makan kelompok yang umum ditemukan di restoran dalam mal.

Kecombrang Tidak Hanya Jadi Lalapan
Adaptasi terhadap selera urban juga terlihat pada pilihan minuman. Kecombrang, bahan yang cukup lekat dengan hidangan Nusantara, dikembangkan menjadi bahan dasar mocktail. Penggunaan bahan tersebut memperluas fungsi kecombrang dari pelengkap makanan menjadi elemen utama dalam minuman.
Selain itu, tersedia sejumlah minuman tradisional seperti es cendol dan ragam minuman khas Nusantara.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membawa elemen rasa yang familiar ke format restoran yang lebih modern.
Bukan Sekadar Memindahkan Restoran Sunda ke Mal
Tantangan Bumi Lembur Kuring di PIM 1 justru terletak pada bagaimana konsep tersebut dapat diterima dalam kebiasaan makan masyarakat mal.

Lokasi restoran yang tidak berada di area depan membuat visibilitas menjadi salah satu persoalan. Manajemen mengandalkan identitas visual di sejumlah titik serta promosi melalui media sosial dan dukungan pihak mal untuk memperkenalkan lokasi restoran kepada pengunjung.
Namun, persoalan tersebut pada akhirnya tidak dapat diselesaikan hanya dengan promosi.
Bagi manajemen, tantangan berikutnya adalah membuat pelanggan yang sudah datang memiliki alasan untuk kembali.
“Orang mau makan cari apa sih? Cari makan enak,” ujar Anthony.
Karena itu, kualitas makanan dan pelayanan menjadi aspek yang ingin diperkuat bersamaan dengan penerapan standar operasional di outlet baru tersebut.
Paket meeting, acara, dan katering untuk outlet PIM 1 juga masih dikembangkan dan akan disesuaikan dengan karakter lokasi.
Jam operasional saat ini masih mengikuti jadwal mal. Ke depan, manajemen membuka kemungkinan memperpanjang jam layanan, termasuk untuk sarapan dan makan larut malam.
Dengan demikian, pembukaan Bumi Lembur Kuring di Pondok Indah bukan hanya soal bertambahnya satu restoran Sunda di Jakarta.
Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana kuliner yang memiliki akar kuat pada tradisi sedang beradaptasi dengan ruang dan kebiasaan makan baru. Dari saung dan restoran berdiri sendiri, masakan Sunda kini masuk ke pusat aktivitas urban dan berhadapan dengan konsumen yang membutuhkan akses cepat, ruang privat, sekaligus pengalaman makan yang tetap memiliki identitas.