Hai Para Orang Tua, Jadilah Teman Diskusi Anak di Masa Pubertas

Suara Linimasa Suara.Com
Sabtu, 22 April 2023 | 10:01 WIB
Hai Para Orang Tua, Jadilah Teman Diskusi Anak di Masa Pubertas
Ilustrasi orang tua yang mendisplinkan anak dengan ancaman (freepik.com/peoplecreations)

LINIMASA - Orang tua memiliki peran sentral bagi anak saat memasuki masa pubertas. Sampai kapanpun, anak menjadi tempat bergantungnya kekhawatiran para orang tua, termasuk saat sang anak memasuki fase dewasa atau pubertas. 

Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli M.Psi mengatakan peran orang tua  menjadi sangat penting saat anak memasuki fase pubertas. Orang tua diharapkan menjadi teman diskusi yang mengasyikan bagi anak. 

Hal itu bisa menghindari ledakan emosional dan perilaku berisiko. Saat memasuki fase pubertas selain mengalami perubahan fisik, anak akan mengalami perubahan emosional pula.

"Orang tua menjadi jaring pengaman bagi putra putri ketika mereka memiliki problem. Pendampingan di ruma adalah landasan dari segalanya," kata Roslina, melansir Antara

Roslina mengatakan peran orang tua sangat besar dalam psiko sosial remaja, di antaranya menunjukkan penerimaan dan kasih sayang, memberi model afeksi yang tepat, memberi informasi tentang pendidikan seksualitas, memberi akses ke profesional untuk remaja, dan melatih membuat keputusan seksual yang sehat. 

"Tugas kita sebagai orang tua memberikan pendidikan seks berkualitas dan gender agar putri kita nanti mampu membuat keputusan seskusal yang teapt untuk dirinya hingga nanti di usia dewasa 20 tahun," katanya. 

Saat anak bercerita, lanjut dia, orang tua harus menunjukkan penerimaan terhadap apa yang diceritakan sang anak. Apabila komunikasi orang tua negatif, maka anak akan cenderung mengindar dan menutup komunikasi dengan orang tua.

Saat anak memasuki fase pubertas, maka dukungan dari orang tua akan sangat mereka butuhkan. Jangan biarkan anak lari ke media sosial saat menghadapi masalah dalam berkomunikasi. 

"Dekati anak sesuai dengan zamannya, dengan teknik yang sesuai dengan si anak. Contohnya dengan membahas film, lirik lagu atau sosial media yang mereka ikuti," ujar psikolog lulusan Universitas Tarumanegara tersebut.

Baca Juga: Ganjar Ditunjuk Jadi Capres oleh PDIP, Tagar Mega Kalahkan Happy Eid Mubarak di Twitter

Terkait kesehatan reproduksi, ia mengatakan anak remaja harus dipenuhi kebutuhan nutrisi dan aktivitasnya untuk mengeluarkan hormon yang terjadi selama masa pubertas.

"Anak remaja membutuhkan energi besar. Mereka harus cukup tidur, walaupun di usia remaja mereka susah tidur. Bahkan, jumlah jam tidur remaja lebih besar daripada anak SD. Cukupkan exercise atau olahraga karena ini baik untuk release hormon, dan berikan nutrisi yang sesuai," ucapnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI