Video Suntik Mati Anjing di Bali Jadi Sorotan Media Asing

Ruben Setiawan | Suara.com

Kamis, 24 Juli 2014 | 17:11 WIB
Video Suntik Mati Anjing di Bali Jadi Sorotan Media Asing
Ilustrasi anjing. (Shutterstock)

Suara.com - Sebuah video yang menampilkan pemusnahan anjing secara massal di Provinsi Bali beredar di situs berbagi video Youtube. DailyMail, sebuah media asing asal Inggris mengulas video tersebut dalam sebuah artikel berjudul "Sisi lain resor bintang lima Bali yang tidak ingin anda saksikan: Rekaman mengerikan menunjukkan pembunuhan anjing-anjing ilegal dimana seorang pegawai berfoto ria".

DailyMail menyebutkan, video berdurasi 16 menit itu menunjukkan, betapa anjing-anjing tak berdosa itu dimusnahkan tanpa belas kasihan, hanya demi mengantisipasi penyebaran penyakit rabies. Memang, sejak tahun 2008, Bali ditetapkan sebagai kawasan karantina penyakit anjing gila (rabies), yang dikuatkan dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 1696 Tahun 2008.

Media itu juga mengomentari tingkah seorang pegawai pemerintahan yang mengambil foto anjing-anjing tak berdosa itu sebelum disuntik mati. Si pegawai disebutkan tersenyum tanpa beban saat memotret anjing-anjing malang itu.

Disebutkan pula, anjing-anjing itu dipaksa menyaksikan sesamanya disuntik mati dengan sebuah jarum suntik menembus langsung ke jantung.

Di Bali, sesuai peraturan pemerintah yang disebutkan di atas, anjing-anjing liar yang tidak diketahui pemiliknya akan ditangkap. Kemudian, jika dalam waktu 24 jam tidak ada orang yang mengakui kepemilikannya, maka akan dilakukan eutanasia terhadap anjing-anjing tersebut. Jadi, satu-satunya kesalahan anjing-anjing itu adalah karena mereka tidak bertuan.

Demikian pula dengan yang terjadi pada pertengahan bulan April lalu. Ada sebanyak 31 anjing yang diselundupkan dari Jawa menuju Bali dengan sebuah bus. Anjing-anjing itu pun disita di Kantor Karantina Pertanian Terpadu Gilimanuk, Jembrana, Bali.

Karena tidak ada yang datang dan mengaku sebagai pemiliknya, akhirnya anjing-anjing ras Pomeranian, Siberian Husky, Mini Pom, dan Lacy itupun disuntik mati.

Yang kemudian menjadi sorotan adalah Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Menurut Dailymail, mengutip pernyataan Made, anjing-anjing liar harus segera dimusnahkan sebagai bagian pencegahan rabies sesuai peraturan pencegahan rabies tahun 2009.

Pemusnahan itu tak pelak mendapat kecaman dari People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), sebuah organisasi pembela hak asasi hewan internasional. PETA menyebut pemusnahan anjing itu sebagai "pembantaian".

PETA mengecam keras pembantaian yang ada di video tersebut. Menurut PETA, anjing-anjing tersebut ketakutan dan stress. Mereka menilai, para petugas tidak memakai metode IV dalam melakukan suntik mati, yang mana dianggap sebagai metode eutanasia paling manusiawi. Mereka juga menyayangkan, mengapa anjing-anjing itu tidak divaksinasi, dan malah dibunuh.

Padahal, sejak tahun 2010, menurut PETA, program vaksinasi anjing cukup berhasil, dan jumlah orang yang tertular rabies menurun drastis. PETA mempertanyakan mengapa Gubernur Bali justru memilih untuk memusnahkan anjing-anjing liar, padahal program vaksinasi berjalan sukses.

Hal ini lalu memunculkan sebuah petisi di situs Change.org yang mendesak agar Gubernur Bali menghentikan program pemusnahan anjing-anjing itu. Gubernur juga diminta untuk mencari alternatif lain yang lebih layak untuk mengendalikan populasi anjing di provinsinya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terkini

Kronologi Lengkap Oknum Peneliti Indonesia Diduga Palsukan Riset Demi 'Travel Grant'

Kronologi Lengkap Oknum Peneliti Indonesia Diduga Palsukan Riset Demi 'Travel Grant'

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:54 WIB

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:47 WIB

Pramono Wukuf di Arafah, Wagub Rano Karno Pimpin Jakarta Rayakan Idul Adha

Pramono Wukuf di Arafah, Wagub Rano Karno Pimpin Jakarta Rayakan Idul Adha

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:42 WIB

Final dan Mengikat, Dasco Pastikan Putusan MK Soal Kuota Perempuan 30 Persen Masuk Revisi UU Pemilu

Final dan Mengikat, Dasco Pastikan Putusan MK Soal Kuota Perempuan 30 Persen Masuk Revisi UU Pemilu

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:41 WIB

Mendagri Serahkan Hewan Kurban Kemendagri dan BNPP, Bentuk Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat

Mendagri Serahkan Hewan Kurban Kemendagri dan BNPP, Bentuk Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:39 WIB

'To Kill or To Be Killed', Jaleswari Ingatkan TNI Dilatih Membunuh Bukan Urus Sawah

'To Kill or To Be Killed', Jaleswari Ingatkan TNI Dilatih Membunuh Bukan Urus Sawah

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:37 WIB

Biar Setara dengan TNI, Dasco Sebut Usulan Perpanjangan Usia Pensiun Polri Layak Dipertimbangkan

Biar Setara dengan TNI, Dasco Sebut Usulan Perpanjangan Usia Pensiun Polri Layak Dipertimbangkan

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:35 WIB

Ekonom Senior AMRO: Disrupsi Energi Timur Tengah 4 Kali Lebih Ngeri Dibanding Perang Rusia-Ukraina

Ekonom Senior AMRO: Disrupsi Energi Timur Tengah 4 Kali Lebih Ngeri Dibanding Perang Rusia-Ukraina

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:30 WIB

Studi: Model Iklim Saat Ini Dinilai Kurang Akurat Baca Dampak Perubahan Iklim di Perkotaan, Kenapa?

Studi: Model Iklim Saat Ini Dinilai Kurang Akurat Baca Dampak Perubahan Iklim di Perkotaan, Kenapa?

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:30 WIB

Viral Duel Maut WNA Brunei di Blok M, Korban Tewas Setelah 10 Hari Kritis di ICU

Viral Duel Maut WNA Brunei di Blok M, Korban Tewas Setelah 10 Hari Kritis di ICU

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:20 WIB