Suara.com - Dampak perang adalah kehancuran, begitu juga di Yaman. Serangan militer Arab Saudi menciptakan kehancuran menyeluruh di Yaman.
Yang paling merasakan dari perang senjata itu adalah warga sipil di sana. Salah satu warga yang berprofesi sebagai pedagang Rassam Ali merasa bangkrut. Kehidupannya hancur.
Toko sembako miliknya di Kota Sanaa sepi pembeli. "Ada sangat sedikit orang yang tersisa di sini," jelas dia.
Semua warga di sana melarikan diri keluar kota untuk menyelamatkan diri dari gempuran militer Arab Saudi. "Jadi tidak ada orang datang untuk membeli apa-apa lagi," kata Ali.
Ali mengatakan saat ini pendapatannya anjlok. Perhari, jika beruntung dia mendapatkan uang USD 20 dolar. Tentu itu jauh dari cukup untuk menyewa toko dan membayar listrik.
"Jika situasi tetap seperti ini maka saya yakin akan bangkrut," jelas dia,
Tokonya tidak jauh dari bandara dan pangkalan udara militer yang menjadi target utama dari serangan udara Arab Saudi. Banyak warga sipil melarikan diri dari ibukota sejak serangan udara pekan lalu.
Pimpinan Redaksi Yaman Post, Hakim Al-Masmari bercerita gempuran militer Arab Saudi semakin luas. Sebelumnya hanya Kota Sanaa yang menjadi sasaran.
"Sekarang mereka mengincar pinggiran kota," kata Hakim.
Ekonom Yaman, Ahmed Shammakh melihat Yaman bisa menjadi negara termiskin di dunia jika konflik terus terjadi. Ini ditandai dengan naiknya harga barang pokok.
"Bahan pokok banyak, tapi rakyat tidak mampu beli," jelas dia.
Dampak lainnya, 1 juta anak-anak balita di Yaman terancam kekurangan gizi. Sekitar 13 juta warga Yaman bergantung pada air yang tercemar atau kotor untuk minum. (aljazerra)