Ini 'Agenda' Jokowi dan Ahok di Indonesia Menurut Sri Bintang

Arsito Hidayatullah, Dian Rosmala

Minggu, 20 November 2016 | 19:31 WIB
Ini 'Agenda' Jokowi dan Ahok di Indonesia Menurut Sri Bintang
Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama saat blusukan bareng untuk pertama kalinya di Kampung Deret, Petogogan dan Pasar Ciplak, Jatinegara, Kamis (27/2/2014). [Suara.com/Bagus Santosa]

Suara.com - Tokoh pergerakan sekaligus aktivis '66, Sri Bintang Pamungkas, mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memiliki kepentingan yang sama di Indonesia. Menurutnya, kedua orang itu membagi peran satu sama lain untuk meraih kepentingannya.

"Jokowi dan Ahok itu memang dua sejoli. Mereka melakukan pembagian kerja. Jokowi di bidang nasional, Ahok di bidang DKI," kata Sri Bintang, dalam acara Konsolidasi Tokoh Nasional bertema "Kembali ke Kiblat Bangsa", di Aula Dr Ir Soekarno, Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (20/11/2016).

Kepentingan yang dimaksud, menurut Bintang, tidak lain adalah menjembatani negara Cina untuk masuk ke Indonesia dan menguasai sumber daya alam (SDA) Indonesia.

"Sebelum Jokowi diangkat jadi presiden, dia sudah mengatakan akan membentuk poros maritim serta tol laut. Ternyata poros maritim dan tol laut itu adalah jalur laut dari utara masuk ke Indonesia," ujar Bintang.

Menurut Sri Bintang pula, strategi ini pernah dipakai oleh Jepang untuk menggempur pasukan Belanda yang waktu itu menjajah Indonesia. Kini, menurutnya lagi, Presiden Jokowi kembali menerapkan strategi tesebut agar Cina dengan mudah masuk ke Indonesia.

"Ini sebagaimana Jepang dulu menghancurkan angkatan laut Belanda dalam waktu sepekan. Jadi, maksud Jokowi tidak lain dan tidak bukan (adalah) mengundang para penjajah dari utara dulu, kemudian Cina, untuk masuk ke Indonesia," tuturnya.

Lebih jauh, Bintang juga menuding bahwa antara Presiden Jokowi dan pemerintah Cina sudah memiliki kesepakatan terkait "impor" buruh Cina ke Indonesia. Namun menurutnya, kesepakatan tersebut disembunyikan dari DPR oleh Presiden.

Sir Bintang mensinyalir, pantauan DPR sengaja dikaburkan dari informasi tersebut, supaya Presiden Jokowi dengan mudah menjalankan misinya.

"Tanggal 15 Februari, seorang (ahli) waterdam Cina sudah berbicara di UI bahwa Cina akan mengirim 10 juta orang Cina untuk masuk ke Indonesia. Perjanjian ini tidak pernah disampaikan kepada DPR oleh Pak Jokowi. DPR waktu itu memang 'dirusak' oleh Jokowi," klaim Sri Bintang.

Menurut Bintang lagi, pada saat itu DPR sengaja disibukkan dengan persoalan lain, bahkan sengaja diciptakan persoalan di internal DPR.

"Anda ingat bagaimana dulu ada isu DPR tandingan. DPR juga dirusak dengan uang dan lain sebagainya, sehingga DPR tidak punya waktu, tidak punya kesempatan untuk mengendalikan pemerintah. Itu memang yang dikendalikan oleh Jokowi," katanya lagi.

Lebih lanjut, Sri Bintang juga mengatakan bahwa sebelum Jokowi dilantik sebagai Presiden RI, ia sudah melakukan perjanjian dengan Amerika Serikat (AS) terkait dengan referendum Papua.

"Lalu sebelum itu, bahkan sebelum Jokowi diangkat jadi Prsiden, di Australia tanggal 27, 28, 29 Februari, ada satu konferensi. Di antara negara-negara yang ikut serta waktu itu, salah satu tokohnya mengatakan, 'Saya sudah mendapatkan proposal referendum Papua dari Pak Jokowi,'" kata Bintang.

"Dan telisik punya telisik, ternyata ketika Jokowi digugat Pilpres oleh Prabowo, mereka bingung. Mereka minta bantuan ke Amerika, dan muncullah itu proposal referendum Papua," ujar Bintang menambahkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ahok-Djarot Nyatakan Tetap Kampanye ke Pemukiman Warga

Ahok-Djarot Nyatakan Tetap Kampanye ke Pemukiman Warga

News | Minggu, 20 November 2016 | 19:11 WIB

Gerindra Segera Gabung Pemerintah?

Gerindra Segera Gabung Pemerintah?

News | Minggu, 20 November 2016 | 18:32 WIB

Elektabilitas Merosot, Begini Reaksi Ahok

Elektabilitas Merosot, Begini Reaksi Ahok

News | Minggu, 20 November 2016 | 18:30 WIB

Rachmawati Cs Konsolidasi Menyikapi Kasus Ahok

Rachmawati Cs Konsolidasi Menyikapi Kasus Ahok

News | Minggu, 20 November 2016 | 17:20 WIB

Terkini

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

News | Jum'at, 04 September 2026 | 00:32 WIB

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 00:24 WIB

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 23:14 WIB

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

Bola | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Video | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Sumut | Kamis, 03 September 2026 | 22:58 WIB

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 22:52 WIB

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Jatim | Kamis, 03 September 2026 | 22:49 WIB

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Jabar | Kamis, 03 September 2026 | 22:42 WIB

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Bogor | Kamis, 03 September 2026 | 22:38 WIB

×