Violinis Berbakat
Terlepas dari persoalan etnis, Baris adalah sosok yang sama seperti remaja-remaja lain seusianya. Sebagai anak bungsu, Baris cenderung manja dan kerap tersandung masalah di luar rumah.
Tapi, persamuhannya dengan biola membuat kehidupan Baris berubah. Ia tak lagi ugal-ugalan di jalan, melainkan tekun membaca balok-balok not.
Secara otodidak dan di bawah bimbingan sang kakak yang juga musikus, Baris perlahan mulai menguasai cara bermain biola. Ia lantas mengamen di jalan-jalan untuk mendapatkan uang, sehingga bisa membayar kursus biola.
Meski sudah memunyai nama sebagai violinis dan mengikuti kursus biola di daerahnya, Baris tak puas. Ia benar-benar ingin mencicipi bangku sekolah musik agar bisa menjadi profesional. Setelah mendapat pertimbangan orang lain, ia memilih Belgia.
“Tapi, persoalannya, dia tak memunyai pekerjaan dan tidak punya asuransi, sehingga tak mungkin mendapatkan visa secara legal,” terang Cengiz.
Seorang gadis teman sekolah dan mengaku mantan kekasih Baris, menuturkan persona si pemuda.
“Dia tak pintar-pintar amat dalam pelajaran lain. Tapi, semua orang mengakui dia berbakat bermain biola. Kami sangat senang kalau ia memainkan biola,” tuturnya.
Baris, kata dia, juga sosok pria yang sangat agresif sehingga kerapkali terlibat persoalan di dalam maupun luar sekolah. Tak jarang Baris terlibat perkelahian.
“Meski begitu, dia adalah kekasih yang hangat. Percayalah, ketika dia sudah mencintai seseorang, Baris bisa melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya,” tutur gadis itu.