Novanto Lagi-lagi Tak Dengarkan Hakim, Sidang Kembali Diskors

Arsito Hidayatullah, Nikolaus Tolen

Rabu, 13 Desember 2017 | 15:45 WIB
Novanto Lagi-lagi Tak Dengarkan Hakim, Sidang Kembali Diskors
Terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto saat menjalani sidang perdana di gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (13/12/2017). [Suara.com/Oke Atmaja]

Suara.com - Yanto, Ketua Majelis Hakim yang menyidangkan kasus e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto, terpaksa kembali menskors sidang, karena Novanto tidak mendengar pertanyaan majelis hakim. Padahal, sebelumnya Yanto sudah menghentikan sidang untuk sementara waktu agar kondisi kesehatan Novanto diperiksa oleh dokter pribadinya.

"Baik, Jaksa Penuntut Umum, kita skors dulu. Majelis Hakim musyawarah dulu," kata Hakim Yanto usai menyaksikan Novanto tidak menjawab pertanyaan Majelis Hakim di gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (13/12/2017).

Namun, sebelum Hakim Yanto memutuskan untuk skors, terlebih dahulu didengarkan keterangan dari Jaksa Penuntut Umum KPK serta dari Kuasa Hukum Novanto. JPU pun menghadirkan empat orang dokter dari KPK dan RSCM.

Salah satu JPU KPK, Irene Putri mengatakan, Novanto menolak diperiksa oleh dokter yang berasal Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Padahal dokter tersebut dihadirkan oleh pihak Novanto sendiri.

"Dari pihak terdakwa sudah ajukan dokter dari RSPAD. Yang hadir dari dokter umum. Tapi terdakwa tidak mau diperiksa ulang," kata Irene saat melaporkan kepada Majelis Hakim.

Karena sudah diberi waktu untuk diperiksa namun tidak memanfaatkannya, Hakim Yanto pun bertanya.

"Siapa yang tidak mau diperiksa?" tanya Hakim.  

"Terdakwa tidak mau diperiksa. Dokternya dari RSPAD yang dihadirkan oleh terdakwa," jawab Irene.

Heran dengan sikap Novanto, Hakim Yanto pun menanyakan alasan penolakan terhadap dokter dari RSPAD tersebut. Padahal, yang menghadirkan dokter tersebut adalah Novanto sendiri.

Atas pertanyaan Hakim Yanto, Kuasa Hukum Novanto, Maqdir Ismail pun menjawabnya.

"Kita harap yang hadir itu dokter ahli, tapi yang hadir dokter umum. Setelah saya bicara itu jadi tidak berimbang, sehingga saya mengusulkan untuk tidak diteruskan pemeriksaan. Kalau pemeriksaan hari ini, mohon saudara terdakwa diberi kesempatan untuk diperiksa di RSPAD," kata Maqdir.

Namun, terhadap jawaban Maqdir Ismail, Hakim Yanto tidak terlalu menggubrisnya.

"Tadi sudah saya kasih kesempatan. Dari setengah 12 sampai sekarang, tentu gunakanlah dengan baik. Yang minta seperti itu kan saudara. Apa sebelum berangkat nggak ada komunikasi? Kan bisa sebelumnya minta kirim dari spesialis. Kan seperti itu. Ini dilihat orang banyak. Janganlah seperti itu. Majelis sudah beri kesempatan yang sama, baik ke Penuntut Umum dan Kuasa Hukum," kata Hakim Yanto dengan suara agak tinggi.

Kemudian, Hakim Yanto kembali melontarkan pertanyaan kepada empat dokter dari KPK dan RSCM.

"Saudara dari RSCM, bagaimana kondisi kesehatan terdakwa?"

"Sehat, Yang Mulia," jawab tiga dokter dari RSCM dan juga dari KPK.

"Berdasarkan keterangan dari dokter yang memeriksa saudara, bahwa saudara dinyatakan sehat, sehingga sidang bisa dilanjutkan. Untuk itu, coba saya ulangi lagi," kata Hakim Yanto, mengarahkan kepada Novanto.

Namun, meski ditanya lagi, Novanto tetap tidak menjawab pertanyaan hakim.

"Saudara penuntut umum, waktu makan siang, apakah saudara terdakwa bisa makan siang?" tanya Hakim Yanto kemudian.

"Yang Mulia, saat pemeriksaan berkomunikasi dengan dokter yang periksa, dan yang bersangkutan  makan siang disaksikan oleh kuasa hukum," kata Irene.

Mendengar jawaban jaksa KPK, Hakim Yanto pun kemudian menanyakan kepada Kuasa Hukum Setya Novanto.

"Apa pemeriksaan bisa dilanjutkan? Nanti kalau sakit, istirahat atau cape, nanti kita tunda."

"Yang Mulia, dokter ini nggak punya keahlian apa pun. Ahli mengatakan yang bersangkutan sehat, tapi faktanya kan tidak. Kami juga bukan dokter. Kami tidak tahu apa-apa. Tapi persoalannya kita serahkan ke majelis hakim, karena majelis yang berwenang untuk melanjutkan atau menghentikan sidang ini," kata Maqdir Ismail.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kesimpulan Praperadilan Setya Novanto Dibacakan Besok

Kesimpulan Praperadilan Setya Novanto Dibacakan Besok

News | Rabu, 13 Desember 2017 | 15:40 WIB

Golkar Bakal Gelar Rapat Pleno Jika Dakwaan Setnov Dibacakan

Golkar Bakal Gelar Rapat Pleno Jika Dakwaan Setnov Dibacakan

News | Rabu, 13 Desember 2017 | 15:30 WIB

Pura-Pura Budek, KPK Minta Novanto Kooperatif

Pura-Pura Budek, KPK Minta Novanto Kooperatif

News | Rabu, 13 Desember 2017 | 14:59 WIB

Terkini

Polda Jateng Bongkar Judi Togel di Tiga Daerah, Uang Rp2,4 Miliar Diblokir

Polda Jateng Bongkar Judi Togel di Tiga Daerah, Uang Rp2,4 Miliar Diblokir

Jawa Tengah | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:34 WIB

Gol Almeida Selamatkan Java United FC, Tetapi Tiga Poin Gagal Dibawa Pulang

Gol Almeida Selamatkan Java United FC, Tetapi Tiga Poin Gagal Dibawa Pulang

Jawa Tengah | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:27 WIB

Truk Dalmas Diserang Bom Molotov di Dago Bandung, Tiga Polisi Terluka

Truk Dalmas Diserang Bom Molotov di Dago Bandung, Tiga Polisi Terluka

Jabar | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Suhu Tembus 38 Derajat Celsius, 5.711 Warga Cianjur Terdampak Kekeringan

Suhu Tembus 38 Derajat Celsius, 5.711 Warga Cianjur Terdampak Kekeringan

Jabar | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:12 WIB

Sempat Lempar Mercon dan Batu, Massa Mahasiswa di DPRD DIY Akhirnya Dibubarkan

Sempat Lempar Mercon dan Batu, Massa Mahasiswa di DPRD DIY Akhirnya Dibubarkan

Jogja | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:11 WIB

Khalid Basalamah Setor 554.500 Dolar AS ke KPK dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Khalid Basalamah Setor 554.500 Dolar AS ke KPK dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Jatim | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:05 WIB

Pendiri CAN Borneo Luruskan Isi Pertemuan Relawan dengan Menteri Kehutanan

Pendiri CAN Borneo Luruskan Isi Pertemuan Relawan dengan Menteri Kehutanan

Jabar | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:58 WIB

Heboh Nelayan Asal Sumenep Ditangkap di Australia, Begini Kronologinya

Heboh Nelayan Asal Sumenep Ditangkap di Australia, Begini Kronologinya

Jatim | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Bidik Layanan Keimigrasian di Silangit, Imigrasi Sumut Dorong Pembangunan Kanim Taput Dekat Bandara

Bidik Layanan Keimigrasian di Silangit, Imigrasi Sumut Dorong Pembangunan Kanim Taput Dekat Bandara

Sumut | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:40 WIB

Midea Paling Ideal Hadir di Medan, Perkenalkan Elektronik Rumah Tangga Berbasis AI

Midea Paling Ideal Hadir di Medan, Perkenalkan Elektronik Rumah Tangga Berbasis AI

Sumut | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:33 WIB

×