Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen, Jangan Salahkan Emen!

Reza Gunadha

Minggu, 11 Februari 2018 | 07:50 WIB
Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen, Jangan Salahkan Emen!
Ilustrasi kecelakaan bus. (Shutterstock)

Suara.com - Ruas jalan curam di Kampung Cicenang, Ciater, Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang beken disebut “Tanjakan Emen” kembali memakan korban jiwa.

Termutakhir, satu bus pariwisata berisi rombongan keluarga besar Koperasi Simpan Pinjam Permata, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, terguling di Tanjakan Emen, Sabtu (10/2/2018) sore.

Mereka kala itu baru pulang dari berwisata ke Gunung Tangkuban Perahu. Saat akan pulang melalui Kota Subang, tepatnya di Tanjakan Emen, bus oleng dan menabrak sepeda motor hingga akhirnya menabrak tebing dan terguling.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Subang, Minggu (11/2), mengonfirmasi korban meninggal akibat kecelakaan bus di Tanjakan Emen, Kabupaten Subang, Jawa Barat mencapai 27 orang. Seluruhnya perempuan.

"Korban meninggal 27 orang, penumpangnya semua ibu-ibu," ujar Kasubag Humas RSUD Subang Mamat Budirakhmat.

Mamat memastikan, RSUD Subang juga masih melakukan perawatan intensif terhadap korban lainnya. Ia merinci, korban yang mengalami luka-luka sebanyak 18 orang, dua di antaranya tengah dalam kondisi kritis.

"Ada yang dalam kondisi luka di bagian tubuh, patah tulang, dan luka-luka lainnya. Ada dua orang dalam keadaan sangat kritis," katanya.

Keluarga korban mulai berdatangan ke RSUD Subang untuk memastikan kondisi yang dialami anggota keluarganya yang ikut dalam rombongan bus pariwisata tersebut.

"Keluarga korban sudah mulai berdatangan, mereka sedang menunggu di RS," tuturnya.

baca juga

Sementara aparat kepolisian masih melakukan pendalaman dan meminta keterangan saksi-saksi, untuk memastikan penyebab terjadinya kecelakaan tersebut.

Duh, Emen

Kecelakaan bus pariwisata tersebut, bukan kali pertama terjadi di Tanjakan Emen. Kecelakaan di ruas jalan itu sudah kali berulang sejak lama.

Bahkan, tak sedikit orang yang menghubung-hubungkan banyaknya peristiwa kecelakaan dengan legenda asal-usul ruas jalan itu disebut sebagai “Tanjakan Emen”.

"Kemarin (Sabtu) sore telah terjadi kecelakaan tunggal sebuah bus di tanjakan Emen. Korban terakhir yang saya tahu adalah 26 orang. Jumlah korban terbesar. Tanjakan ini sangat legendaris. Tahun 70an, saya sering diajak ayah lewat sini pakai vespa dan masih sepi,” tulis seorang warganet bernama Tom Andanawari di Facebook.

Banyak sekali versi yang menceritakan pak Emen. Salah satu cerita, Pak Emen adalah supir mobil pengangkut sayur yang mengalami kecelakaan di tanjakan ini sekitar tahun 60an. Kabarnya Pak Emen pecandu rokok, sehingga ada mitos setiap yang melintas harus melemparkan rokok,” tambahnya.

Sementara dikutip dari laman kotasubang.com, terdapat sejumlah versi mengenai ihwal penamaan jalan itu sebagai “Tanjakan Emen”.

Laman itu memublikasikan pernyataan Sahidin Darajat, warga yang sudah sejak lama tinggal di sekitar tanjakan tersebut.

Sahidin menuturkan, sekitar tahun 1969, terjadi kecelakaan yang menyebabkan satu kernet bus bernama Emen tewas. Ia mengatakan menyaksikan peristwia tersebut.

“Waktu itu ada bus bernama bus bunga. Bus itu mogok di tanjakan, dan Emen berupaya mengganjal bannya. Tapi remnya jebol, sehingga Pak Emen terseret bus hingga meninggal dunia,” tutur Sahidin.

Sahidin menuturkan, sejak peristiwa itu, jalan itu disebut “Tanjakan Emen” dan terdapat kejanggalan serta kerap terjadi kecelakaan di sana.

Namun, kisah itu bukan satu-satunya versi mengenai mitos Tanjakan Emen. Ada pula warga yang mengatakan Emen adalah nama seorang korban tabrak lari di daerah tersebut.

Setelah ditabrak hingga tewas, jenazah Emen tak ditolong, melainkan disembunyikan dalam rimbunan pepohonan sekitar tanjakan.

Adapula versi lain, yang mengatakan Emen adalah sopir oplet Subang-Bandung tahun 1964. Pada tahun itu, oplet yang dikemudikannya kecelakaan dan terbakar. Banyak orang mengatakan Emen tewas di tempat kejadian, dan sejak saat itu semakin sering terjadi kecelakaan di sana.

Sejak saat itu, untuk mengindari hal yang tak diinginkan, banyak pengendara yang memercayai mitos melempar koin, rokok, atau membunyikan klakson saat melintasi tanjakan tersebut.

Peristiwa yang terakhir benar-benar terjadi di tanjakan tersebut. Wahyu, putra Emen, mengatakan ayahnya meninggal karena kecelakaan tersebut.

Namun, Wahyu menepis tuduhan banyaknya kecelakaan di “Tanjakan Emen” karena mitos mistis tentang sang ayah.

“Lagi pula, waktu itu, bapak saya tidak meninggal di sana, tapi di Rumah Sakit Ranca Badak,” tutur Wahyu, yang juga berprofesi sebagai sopir angkot di daerah Lembang.

“Waktu itu saya berusia kira-kira 8 tahun. Bapak saya memang sopir oplet Subang–Bandung. Ketika itu kemungkinan remnya blong, kemudian opletnya menabrak tebing, terbalik kemudian terbakar. Seingat saya cuma 2 orang yang selamat waktu itu,” tuturnya.

Setelah wafat di RS, jenazah Emen dikuburkan di pemakaman umum di daerah Jayagiri, Lembang.

Masih Didalami

Dirlantas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Prahoro Tri Wahyono berharap, semua pihak tak berspekulasi mengenai kecelakaan maut di Tanjakan Emen pada Sabtu sore.

Ia mengatakan, polisi masih mendalami penyebab insiden kecelakaan tersebut.

"Kami masih melakukan pendalaman mengenai penyebab kecelakaan tersebut," ujar Tri Wahyono melalui telepon seluler kepada Antara.

Menurutnya, berdasarkan laporan sementara, ketika melewati turunan Cicenang atau lebih dikenal dengan nama tanjakan Emen, bus itu mendadak oleng ke kanan dan menabrak sepeda motor. Bus kemudian oleng ke kiri menabrak tebing dan terguling.

Sementara pantauan di lapangan, terdapat fakta bahwa kecelakaan kerap terjadi karena banyak sopir yang belum piawai melewati turunan dan tanakan daerah tersebut. Terutama bagi mereka yang baru kali pertama melintasi kawasan tersebut.

Apalagi kontur tanjakan sepanjanga 3 kilometer itu terbilang ekstrem, karena memiliki kemiringan sampai 50 derajat.

Tak hanya itu, Tanjakan Emen juga memunyai tikungan-tikungan tajam, sehingga menyulitkan sopir yang belum piawai atau menguasai medan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

27 Orang yang Tewas di Kecelakaan Tanjakan Emen Ibu-ibu Semua

27 Orang yang Tewas di Kecelakaan Tanjakan Emen Ibu-ibu Semua

News | Minggu, 11 Februari 2018 | 04:50 WIB

Jumlah Korban Kecelakaan Tanjakan Emen Bertambah, 27 Orang Tewas

Jumlah Korban Kecelakaan Tanjakan Emen Bertambah, 27 Orang Tewas

News | Sabtu, 10 Februari 2018 | 21:58 WIB

Kecelakaan Maut Tanjakan Emen, 26 Orang Tewas, Belasan Kritis

Kecelakaan Maut Tanjakan Emen, 26 Orang Tewas, Belasan Kritis

News | Sabtu, 10 Februari 2018 | 21:28 WIB

Kecelakaan Maut di Subang, 10 Orang Tewas dari Ciputat

Kecelakaan Maut di Subang, 10 Orang Tewas dari Ciputat

News | Sabtu, 10 Februari 2018 | 21:10 WIB

Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen Subang, Bus Wisata Terguling

Kecelakaan Maut di Tanjakan Emen Subang, Bus Wisata Terguling

News | Sabtu, 10 Februari 2018 | 21:01 WIB

Terkini

Regulasi Produk Tembakau Diperketat, Konsumen Pilih Berhenti atau Cari Alternatif?

Regulasi Produk Tembakau Diperketat, Konsumen Pilih Berhenti atau Cari Alternatif?

News | Rabu, 16 September 2026 | 14:51 WIB

Shin Tae-yong Waspadai Java United, Ada Eks Persija yang Bisa Jadi Ancaman

Shin Tae-yong Waspadai Java United, Ada Eks Persija yang Bisa Jadi Ancaman

News | Rabu, 16 September 2026 | 14:50 WIB

Jaga Mama Ya: Pesan Terakhir Mualim KM Virgo Sebelum Hilang di Laut Jawa

Jaga Mama Ya: Pesan Terakhir Mualim KM Virgo Sebelum Hilang di Laut Jawa

Jatim | Rabu, 16 September 2026 | 14:49 WIB

Antrean BBM Mengular di Sejumlah Daerah, Waspada Efek Domino Harga Sembako Naik

Antrean BBM Mengular di Sejumlah Daerah, Waspada Efek Domino Harga Sembako Naik

News | Rabu, 16 September 2026 | 14:49 WIB

Fitch Pertahankan Rating INA di BBB, Outlook Masih Negatif

Fitch Pertahankan Rating INA di BBB, Outlook Masih Negatif

Bisnis | Rabu, 16 September 2026 | 14:48 WIB

Rumus Keliling Trapesium, Lengkap dengan Contoh Soal

Rumus Keliling Trapesium, Lengkap dengan Contoh Soal

Tekno | Rabu, 16 September 2026 | 14:46 WIB

Kondisi Terkini Jay Idzes Usai Terancam Gagal Bela Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Kondisi Terkini Jay Idzes Usai Terancam Gagal Bela Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Rabu, 16 September 2026 | 14:41 WIB

7 Perbedaan Helm Modular dan Helm Full Face yang Perlu Diketahui Pengendara Motor

7 Perbedaan Helm Modular dan Helm Full Face yang Perlu Diketahui Pengendara Motor

Lifestyle | Rabu, 16 September 2026 | 14:41 WIB

TNI Perkuat Pengamanan dan Buru Kelompok OPM Pembunuh Sopir di Wamena

TNI Perkuat Pengamanan dan Buru Kelompok OPM Pembunuh Sopir di Wamena

News | Rabu, 16 September 2026 | 14:40 WIB

Hasil Ekshumasi Sutrimo Sudah Keluar, Polda Metro Jaya Segera Umumkan Minggu Ini!

Hasil Ekshumasi Sutrimo Sudah Keluar, Polda Metro Jaya Segera Umumkan Minggu Ini!

News | Rabu, 16 September 2026 | 14:40 WIB

×