Majelis Taklim Jaringan Sosial Paling Penting di Pemilu

Dwi Bowo Raharjo, Ummi Hadyah Saleh

Kamis, 18 Oktober 2018 | 17:06 WIB
Majelis Taklim Jaringan Sosial Paling Penting di Pemilu
Diskusi publik bertajuk "Dari Pilkada 2015-2018 dan Peta Baru Pilpres 2019" di Hotel Veranda, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Kamis (18/10/2018). (Suara.com/ Umay Saleh)

Suara.com - Founder dan CEO Polmark Indonesia Eep Saefulloh Fatah menyebut Majelis Taklim menjadi jaringan sosial paling penting di setiap Pemilu. Ini dipaparkan Eep dalam diskusi publik bertajuk "Dari Pilkada 2015-2018 dan Peta Baru Pilpres 2019" di Hotel Veranda, Pakubuwono, Jakarta Selatan, Kamis (18/10/2018).

"Jadi majelis taklim 34,5 persen itu rata-rata di lima survei nasional. Lalu Nahdlatul Ulama 29,2 persen dan Muhammadiyah 6, 6 persen,” kata Eep.

“Untuk survei provinsi ada 42 survei, ketika di rata-rata Majelis Taklim menjadi jaringan sosial paling penting 31,8 persen, NU 23,4 persen dan Muhammadiyah 6,2 persen," Eep menambahkan.

Hal itu disampaikan Eep berdasarkan olahan data dari 106 survei PolMark Research Center dan PolMark Indonesia di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam rentang waktu 20 Mei 2013 sampai dengan 6 Juni 2018 dengan jumlah responden 96.930 orang.

Eep menyebut Majelis Taklim memiliki kategori yang berbeda dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sebab NU dan Muhammadiyah merupakan organisasi, sedangkan Majelis Taklim merupakan jaringan sosial.

"Keikutsertaan dalam jaringan ini tumpang tindih. Orang NU tidak mungkin orang Muhammadiyah dan sebaliknya, tapi orang NU boleh jadi peserta Majelis Taklim begitu juga orang Muhammadiyah. Survei itu pertanyaannya satu persatu organisasi misalnya NU anggota aktif," kata dia.

Tak hanya itu, berdasarkan survei-survei nasional menjelang Pilkada 2015 dan Pilkada 2018 di kategori karakter provinsi, Majelis Taklim tetap berada di urutan teratas dibanding NU dan Muhammadiyah.

Di provinsi yang jumlah pemilih muslimnya di atas 80 persen, Majelis Taklim berada angka 35,2 persen, NU 26,6 persen dan Muhammdiyah mendapat 6,4 persen. Kemudian, di karaktersitik pemilih muslim yang jumlahnya 67 sampai 80 persen, Majelis Taklim mendapat 17, 7 persen, NU sebesar 11,6 persen dan Muhammadiyah 6,0 persen.

Kemudian di karakteristik provinsi yang pemilih muslimnya di bawah 67 persen, Majelis Taklim hasil surveinya sebesar 20,1 persen, NU mendapat 6, 1 persen dan Muhammadiyah mendapat 4,5 persen.

baca juga

"Begitu juga pemilih muslimnya dibawah 67 persen, 20,1 persen hitungan margin erorr dari survei provinsi dengan 1200 responden per provinsi 2.9 persen. maka kurang lebih 17,7 dengan 20,1 persen angkanya adalah sama karena ada margin of erorr. Di tempat mayoritas muslim adalah jaringan yang menjangkau lebih dari sepertiga pemilih. Tapi di ditempat yang pemilih muslimnya tidak semutlak itu Majelis Taklim mencapai 20 an persen dalam daya jangkauanya," kata dia .

Oleh karena itu, ia menyebut Majelis Taklim tidak boleh dipandang remeh di Pemilu. Sebab Majelis Taklim selalu lebih besar jangkauan politiknya dibanding NU dan Muhammadiyah.

"Di dalam semua kategori Majelis Taklim selalu lebih besar daya jangkau politiknya dibanding NU dan Muhammadiyah. Karena itu di berbagai Pilkada menurut kami juga Majelis nggak bisa dipandang remeh dan, banyak penggalangan Pilkada yang keliru. Di Indonesia hasil diskusi ternyata penggalangan Majelis Taklim yang efektif belum menggalang pimpinan dan pengurus tapi menggarap jamaahnya karena tingkat kemandirian pemilih," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Keluarga Gus Dur ke Jokowi, Sandiaga Tetap Dekati Basis NU

Keluarga Gus Dur ke Jokowi, Sandiaga Tetap Dekati Basis NU

News | Kamis, 27 September 2018 | 21:18 WIB

Rangkul Yenny Wahid, Jokowi Belum Tentu Dapat Semua Suara dari NU

Rangkul Yenny Wahid, Jokowi Belum Tentu Dapat Semua Suara dari NU

News | Kamis, 27 September 2018 | 13:00 WIB

Yenny Wahid Dukung Jokowi karena Kesamaan Narasi Keislaman

Yenny Wahid Dukung Jokowi karena Kesamaan Narasi Keislaman

News | Kamis, 27 September 2018 | 11:06 WIB

Yenny Wahid Masuk, Kubu Jokowi: Lengkap Sudah Dukungan NU

Yenny Wahid Masuk, Kubu Jokowi: Lengkap Sudah Dukungan NU

News | Rabu, 26 September 2018 | 18:51 WIB

Masuk Masa Kampanye, Sandiaga Minta Restu Kiai NU Jakarta

Masuk Masa Kampanye, Sandiaga Minta Restu Kiai NU Jakarta

News | Minggu, 23 September 2018 | 14:00 WIB

Jadi Cawapres, Ma'ruf Amin Resmi Mundur dari Rais Aam PBNU

Jadi Cawapres, Ma'ruf Amin Resmi Mundur dari Rais Aam PBNU

News | Sabtu, 22 September 2018 | 15:08 WIB

Terkini

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Siap Sambut Pengunjung Mulai 2 November, Eiger Nature Wadahi Konservasi dan Pemberdayaan Warga Bogor

Bogor | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:28 WIB

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Kapolres Bogor: Terduga Pelaku Pembunuh Bobotoh Cilik Bukan Suporter Bola

Jabar | Rabu, 28 Oktober 2026 | 00:05 WIB

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

13 Hari Kasus Pengeroyokan Jurnalis Palembang Belum Tuntas, Koalisi Pers Desak Kapolda Dicopot

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:58 WIB

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

Pimpinan Natura City Disebut Tak Akan Hadiri Mediasi Sengketa Tanah 14 Hektare di Bogor

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Palembang hingga OKI Diguyur Hujan Buatan, TNI AU Kerahkan Hercules dan Casa untuk Atasi Karhutla

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:38 WIB

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

Natura City Tolak Proposal Damai PT SIR dalam Sengketa Tanah 14 Hektare di Gunung Sindur

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Tekanan Outflow Asing, Investor Diminta Hati-hati Pilih Saham Perbankan

Bisnis | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:55 WIB

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet

Jawa Tengah | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sekolah IGM Palembang Tunggak PBB Sejak 2019, Tagihan Capai Rp2,18 Miliar

Sumsel | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

Satu Tahun Sekolah Rakyat Berjalan, Pemerintah Terus Berupaya Benahi Layanan Siswa

News | Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:32 WIB

×