Kasus Robertus Robet, LBH Pers: Penangkapan Janggal dan Pakai Pasal Karet

Agung Sandy Lesmana | Stephanus Aranditio
Kasus Robertus Robet, LBH Pers: Penangkapan Janggal dan Pakai Pasal Karet
Kepala Bidang Advokasi LBH Pers Gading Yonggar Ditya di kantor Aji Jakarta. (Suara.com/Tio)

Pada aksi Kamisan tanggal 28 Februari saat Robet menyampaikan orasi juga tidak ada tanda-tanda kesalahan yang menyinggung aparat kepolisian.

Suara.com - Kepala Bidang Advokasi LBH Pers Gading Yonggar Ditya menilai penangkapan Robertus Robet yang dilakukan polisi tidak sesuai dengan prosedur hukum. Sebab, menurutnya, Robet langsung ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka tanpa adanya proses pemanggilan dari pihak kepolisian.

"Kita enggak ada sinyal-sinyal untuk ditangkap, itu terjadi tiba-tiba tadi malam, pas kita pantau grup WA tiba-tiba bang Robet ditangkap begitu saja," kata Gading di kantor AJI Jakarta, Kalibata, Kamis (7/3/2019).

Pada aksi Kamisan tanggal 28 Februari saat Robet menyampaikan orasi juga tidak ada tanda-tanda kesalahan yang menyinggung aparat kepolisian.

"Saat aksi juga tidak ada wacana yang berkembang bahwa bang Robet akan ditangkap karena orasinya, karena nyanyian yang dilakukan oleh bang Robet adalah nyanyian yang dilakukan oleh aktivis lain juga," jelasnya.

Gading pun menyebut jika Robet adalah korban kriminalisasi. Selain soal upaya penangkapan paksa terhadap Robet, polisi juga menerapkan pasal karet untuk menetapkan Robet sebagai tersangka.

"Idealnya ya dipanggil dulu dong sebagai tersangka, tapi ini enggak, langsung seketika tengah malem dan dibawa langsung ke Mabes Polri, nah pola kriminalisasi seperti ini tidak hanya dilihat dari pengenaan pasal karetnya ya, nah proses penangkapannya juga sudah janggal," ujar Gading.

Sebelumnya, Robertus Robet ditangkap polisi di kediamannya di kawasan Depok, Jawa Barat, dini hari tadi. Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan Robet sebagai tersangka terkait dugaan telah melecehkan institusi TNI. Atas penetapan statusnya sebagai tersangka, Robet dijerat Pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia.

Kasus ini berawal saat Robet berorasi dalam aksi Kamisan ke-576 itu di depan Istana Negara pada 28 Febuari 2019. Robet dituduh telah menghina TNI melalui video yang viral di media sosial. Dalam video itu, Robet diduga menyanyi dengan memelesetkan lagu Mars Angkatan Bersenjata atau Mars ABRI yang pernah populer di kalangan aktivis dan mahasiswa saat mantan Presiden Soeharto masih berkuasa.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS