Hasil Survei Capres Berbeda dengan Litbang Kompas, Ini Penjelasan SMRC

Bangun Santoso | Ria Rizki Nirmala Sari
Hasil Survei Capres Berbeda dengan Litbang Kompas, Ini Penjelasan SMRC
Capres nomor urut 01 Joko Widodo dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto berjabat tangan seusai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Berdasarkan hasil survei SMRC elektabilitas Jokowi dengan Prabowo selisih 25,8 persen, sementara Litbang Kompas hanya 11,8 persen

Suara.com - Pemilik Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani menjelaskan soal perbedaan selisih elektabilitas kandidat Pilpres 2019 antara hasil survei SMRC dan Litbang Kompas yang berbeda.

Dalam hasil SMRC, selisih antara dua pasangan calon ialah 25,8 persen. Sementara dari hasil survei Litbang Kompas justru menyempit yakni 11,8 persen.

Saiful menjelaskan, hasil survei Capres - Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi - Maruf Amin makin meningkat karena beberapa faktor. Dalam survei itu, SMRC menerapkan sejumlah survei berdasarkan berbagai variable seperti ekonomi, politik, intesitas mobilisasi hingga sikap responden pasca debat pilpres.

"Dari semua itu saya tidak menemukan tanda-tanda yang membuat 01 turun dalam kurun waktu itu," kata Saiful dalam akun Twitter pribadinya @saiful_mujani pada Kamis (21/3/2019).

Saiful menyebut, elektabilitas Jokowi - Maruf Amin sempat turun. Penurunan itu terjadi kala adanya agenda besar bertajuk Reuni Akbar 212 pada Desember 2018 lalu. Namun demikian, elektabilitas keduanya tetap di atas Capres - Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

Elektabilitas Jokowi - Maruf Amin kembali naik pada Januari hingga Maret 2019 dengan berbagai faktor, salah satunya ialah debat pilpres.

"Apa yang membuat naik? pemirsa menilai 2 debat pertama dan kedua lebih positif ke 01. Mobilisasi 212 menurun pada Februari dibanding pada Desember," ujarnya.

Terkait dengan gap yang begitu jauh dengan hasil survei Litbang Kompas, Saiful mengatakan, bahwa perbedaan itu berasal dari jumlah responden yang memilih untuk tidak menjawab atau tidak tahu. Responden ini tidak bisa ditebak arah dukungannya.

"Dalam 4 kali survei terakhir sejak September, kenaikan 01 lebih karena menarik yang belum menentukan pilihan, bukan menggerogot 02. 02 relatif stabil di kisaran 29-33," cuitnya.

Responden yang memilih tidak menjawab atau tidak tahu bisa disebut sebagai pemilih yang belum menentukan pilihannya atau swing voters.

Saiful menyebut kalau swing voters bisa saja direbut seluruhnya oleh salah satu pasangan calon, namun tidak pada peluanganya. Pasalnya, bisa saja swing voters itu kemudian terbagi untuk kedua pasangan.

"Kalau kita prediksi kemungkinan ke mana yang belum memilih itu dengan menggunakan prediktor demografi misalnya, kalau berdasarkan pada data terakhir saya bulan Maret, yang belum menentukan pilihan itu tidak habis diambil oleh satu pasang," ungkapnya.

Saiful kemudian mengungkapkan kalau alasan elektabilitas Jokowi - Maruf Amin bisa menurun. Hasil dari penelitian komprehensif, penurunan itu tidak disebabkan oleh sikap kritis masyarakat hasil dari pemberitaan media dan menghasilkan sentimen negatif kepada petahana.

Akan tetapi, sikap kritis masyarakat yang benar-benar merasakan perekonomian semakin berat hingga keamanaan yang memburuk.

"Biasanya yang sensitif adalah ekonomi makin berat, keamanan memburuk, sikap yang melukai identitas mayoritas. terjadikah itu dalam 5 bulan terakhir?," ujar dia.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS