JK: Krakatau Steel Lunglai karena Masih Pakai Teknologi Jadul

Agung Sandy Lesmana | Ria Rizki Nirmala Sari
JK: Krakatau Steel Lunglai karena Masih Pakai Teknologi Jadul
JK dalam sebuah acara di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat. (Suara.com/Ria Rizki).

"Dulu baja 1000 dolar. Sekarang sisa 509 dolar. Jadi industri kita di atas itu. Jadi pilihannya apa. Mau efisien atau mahal?," sambungnya.

Suara.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyoroti soal kalahnya Indonesia berdasarkan kecanggihan teknologi negara lain sehingga banyak hasil dari BUMN yang sepi peminat. Ia mencontohkan soal kondisi PT. Krakatau Steel yang saat ini terus melemah.

JK menjelaskan bahwa Indonesia saat ini kalah saing dengan Cina karena teknologi yang digunakan berbeda jauh. Contoh saja dengan PT. Krakatau Steel, perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pembuatan baja.

JK dalam acara diskusi di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat. (Suara.com/Ria Rizki).
JK saat menghadiri sebuah acara di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat. (Suara.com/Ria Rizki).

"Bayangkan Indonesia bikin baja harganya 600 dolar pertahun. Tapi Cina bikin 400, kalau bikin 500, dia untung 100, kita rugi 100. Jadi makin banyak, karena Krakatau Steel teknologinya lama," jelas JK saat mengisi acara di Acara Smart Business Talk " Making Indonesia 4.0 vs Super Smart Society 5.0 di Hotel Aryadut, Jakarta Pusat, Kamis (11/07/2019).

"Dulu baja 1000 dolar. Sekarang sisa 509 dolar. Jadi industri kita di atas itu. Jadi pilihannya apa. Mau efisien atau mahal?," sambungnya.

JK juga menerangkan soal pabrik semen di Indonesia yang kalah saing lagi-lagi dengan pabrik semen Cina. Dengan masihnya menggunakan teknologi usang, pabrik semen di Indonesia menjual satu sak semen seharga Rp 40 ribu sedangkan pabrik Cina bisa lebih murah hingga selisih Rp 10 ribu.

Itulah yang menurutnya harus diperhatikan dari revolusi industri 4.0. JK menilai kalau masyarakat Indonesia hanya sering menggunakan revolusi industri untuk menjadi pembahasan dalam suatu seminar, atau diskusi semata tanpa ada praktiknya.

"Contohnya pabrik semen pegawainya 600 orang, tapi China hanya 70 orang," ujarnya.

"Jadi otomatis, jadi ini persoalannya kita, inilah namanya revolusi industri , ini revolusi efisiensi. Yang mana kita pilih rakyat yang mau murah atau industri yang tidak efisien," tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS