Senjakala Mainan Kayu di Era Maju

Bangun Santoso

Selasa, 23 Juli 2019 | 09:54 WIB
Senjakala Mainan Kayu di Era Maju
Perajin menyusun alat permainan edukatif berbahan dasar kayu, di Sanggar Anakita Toyz, Kampung Depok, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019). (Antara)

“Ya, karena lebih banyak yang minat barang impor, saya jadi dagang mainan ini,” kata Heru, pedagang di Pasar Gembrong, Senin.

Hal yang sama disampaikan oleh Sri yang juga pedagang mainan di pasar tersebut. Dia mengatakan bahwa harga jual mainan plastik impor jauh lebih murah jika dibandingkan dengan produk lokal.

“Saya juga jual mainan lokal tetapi ternyata pembeli lebih minat yang impor karena lebih murah. Padahal, yang lokal lebih awet,” katanya.

Pedagang lain, Adi, turut berpendapat bahwa sebenarnya kualitas mainan lokal jauh lebih bagus daripada mainan impor. Namun, itu tidak cukup membuat masyarakat tertarik untuk membelinya.

“Pembeli lebih memilih yang menarik. Kalau mainan plastik, 'kan lebih mencolok,” katanya.

Berbagai pendapat dari beberapa pedagang tersebut disetujui oleh pembeli mainan impor di Pasar Gembrong. Pertimbangan seperti harga mainan impor yang jauh lebih murah hingga model dan jenis yang lebih modern membuat mereka mengesampingkan mainan lokal.

“Banyak jenisnya, ya, terus modelnya juga lebih modern jadi anak senang,” kata Desi, pembeli mainan impor.

Di Pasar Gembrong, berbagai mainan impor tersebut dijual dengan harga mulai Rp5.000,00 hingga Rp800 ribu. Namun, untuk skala harga Rp250 ribu, para pembeli sudah bisa mendapat mainan berjenis mobil remot hingga drone.

Tentu saja hal itu berbeda dengan di kios mainan kayu milik Umar, seperti bus dan tronton dibanderol dengan harga Rp300 ribu, angkot Rp200 ribu, bus Tayo Rp95 ribu, dan yang paling murah adalah bajaj seharga Rp50 ribu.

baca juga

“Bahan baku, seperti kayu, cat, dan paku, sekarang harganya sangat mahal,” ujar Umar.

Terjangan mainan impor itu membuat UD Senang Anak yang dahulu memproduksi hingga 37 tipe mobil-mobilan, kini berkurang separuh menjadi 18 tipe saja. Bahkan, dari 200 pekerja pembuat mainan kayu sekarang hanya tinggal dirinya beserta anak dan cucunya.

“Sempat masih ada 40 orang yang bekerja membuat mainan kayu di sini, sekarang sudah tidak ada. Ya, paling cuma saya sama anak dan menantu saya saja, itu pun mereka membantu di kios, bukan bagian produksi mainan,” katanya.

Pelanggan Setia

Perajin menyusun alat permainan edukatif berbahan dasar kayu, di Sanggar Anakita Toyz, Kampung Depok, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019). (Antara)
Perajin menyusun alat permainan edukatif berbahan dasar kayu, di Sanggar Anakita Toyz, Kampung Depok, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (18/6/2019). (Antara)

Di balik banyaknya warga yang memilih mainan impor, ternyata karya Umar masih mendapat tempat di hati pembeli yang setia dengan produk lokal. Menurut dia, masyarakat yang tetap memilih mainan kayu adalah mereka yang mengetahui makna sesungguhnya di balik mainan tersebut.

Sebuah mainan yang tidak hanya menemani anak-anak ketika bermain, tetapi juga mampu memberikan edukasi kepada mereka tentang keselarasan antara mainan dan sang pembuat.

“Saya menyadari jika mainan plastik sedang sangat banyak di pasaran, apalagi harganya jauh lebih murah. Satu yang saya yakin, di antara jutaan pasang orang tua di dunia ini, pasti Tuhan menyisakan ratusan ribu orang tua yang sadar tentang makna sebuah mainan itu sendiri,” ujar Umar.

Ternyata makna itu benar dirasakan oleh beberapa pembeli, seperti Wawan Dagul yang merupakan pembeli mainan kayu di kios Umar.

“Sepadanlah antara harga dan produknya. Meskipun lebih mahal tetapi bagus, kualitasnya jelas di atas mainan plastik. Apalagi, pembuatannya yang lama dan benar-benar hasil karya tangan orang bukan mesin. Itu yang jadi ciri khas mainan kayu,” kata Wawan.

Senada dengan Wawan, Khoirul mengatakan bahwa karya buatan Umar mampu membawa generasi muda untuk belajar menghargai jerih payah seseorang.

“Melalui mainan kayu ini anak-anak muda tidak hanya tahu kalau ini mainan, tetapi mereka juga jadi belajar tentang menghargai jerih payah orang lain. Jerih payah pengrajin untuk membuat mainan ini contohnya,” kata Khoirul yang sedang membelikan mainan untuk cucunya.

Ratna yang datang untuk membeli mainan kayu bersama anaknya juga berpendapat bahwa seharusnya para orang tua harus bisa menanamkan tentang mencintai dan menghargai produk lokal kepada generasi muda.

“Harusnya kalau ingin Indonesia maju, ya, hargai produk lokal seperti mainan kayu punya Pak Umar ini, biar enggak punah,” katanya.

Harapan

Tidak mudah untuk mempertahankan karya klasik di tengah gempuran mainan anak yang serbacanggih dan modern. Umar melakukan berbagai upaya agar mampu bersaing dengan mainan impor itu, seperti memodifikasi mainan kayu dengan mengikuti perkembangan zaman.

“Ya, paling saya buat dengan desain lebih detail dan memilih warna yang menarik biar anak suka,” ujarnya.

Saat ini, kios Umar merupakan satu-satunya distributor mainan kayu yang masih bertahan di tengah serbuan jutaan mainan plastik impor di Jakarta.

“Kalau di Jakarta tinggal punya saya saja, pedagang lain biasanya ambil dari saya. Ada lagi di Karawang tetapi mereka hanya membuat kerangka mobilnya saja, cat dan penambahan detail pun masih di sini,” katanya.

Di sisi lain, Umar yang kini sudah tidak muda lagi mengaku terkadang tidak kuat untuk memproduksi mainan kayu sendiri. Hal itu makin membuatnya khawatir akan kelestarian mainan kayu itu.

“Sempat miris ketika dahulu mainan yang dibawa anak kecil ya mainan karya-karya langsung dari tangan, sekarang mainan mereka serba praktis, bahkan tidak mendidik,” katanya.

Namun, semangat Umar belum memudar, bahkan dia masih memiliki mimpi yang luar biasa besar. Umar ingin mendirikan lagi sebuah pabrik mainan kayu sederhana agar tetap bisa melihat anak-anak berlarian membawa hasil karya miliknya.

“Jika saya diberi rezeki berlebih, atau yang paling utama diberi Gusti Allah umur yang panjang, saya ingin mendirikan pabrik sederhana pembuatan mainan dari kayu. Saya ingin ketika saya berhenti kelak, saya masih bisa melihat dari jauh anak-anak yang berlarian tertawa sambil membawa mainan kayunya,” kata Umar. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Akhir Pekan Seru Sekeluarga yang Bernuansa Otomotif di GIIAS 2019

Akhir Pekan Seru Sekeluarga yang Bernuansa Otomotif di GIIAS 2019

Otomotif | Senin, 22 Juli 2019 | 12:55 WIB

350 Perusahaan Mainan Anak Bakal Gelar Pameran di JIExpo Kemayoran

350 Perusahaan Mainan Anak Bakal Gelar Pameran di JIExpo Kemayoran

Bisnis | Jum'at, 12 Juli 2019 | 21:12 WIB

Asyik, Perusahaan Ponsel Xiaomi Terpikat Bikin Mainan Otomotif

Asyik, Perusahaan Ponsel Xiaomi Terpikat Bikin Mainan Otomotif

Otomotif | Rabu, 03 Juli 2019 | 13:01 WIB

Boneka Ini Jadi Teladan Anak Perempuan

Boneka Ini Jadi Teladan Anak Perempuan

Video | Rabu, 22 Agustus 2018 | 17:00 WIB

Fakta "Slime", Mainan yang Bikin Anak-anak Ketagihan

Fakta "Slime", Mainan yang Bikin Anak-anak Ketagihan

Video | Jum'at, 03 Februari 2017 | 21:03 WIB

Lima Mainan Ini Bermanfaat Bagi Tumbuh Kembang Anak

Lima Mainan Ini Bermanfaat Bagi Tumbuh Kembang Anak

Health | Jum'at, 15 Juli 2016 | 10:15 WIB

Terkini

Program 'Speling' Jateng di Banyumas, Wagub Taj Yasin Dekatkan Dokter Spesialis ke Tingkat Kecamatan

Program 'Speling' Jateng di Banyumas, Wagub Taj Yasin Dekatkan Dokter Spesialis ke Tingkat Kecamatan

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:49 WIB

Rencana Kemasan Rokok Polos Tuai Protes, Dinilai Rugikan Petani dan Industri Tembakau

Rencana Kemasan Rokok Polos Tuai Protes, Dinilai Rugikan Petani dan Industri Tembakau

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 20:00 WIB

Roy Suryo Ajukan Praperadilan Lagi, Padahal Putusan Gugatan Pertama Tinggal Hitungan Hari

Roy Suryo Ajukan Praperadilan Lagi, Padahal Putusan Gugatan Pertama Tinggal Hitungan Hari

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 19:00 WIB

OTT Diduga Bocor di Kasus Bupati Kuansing dan Langkat, KPK Bakal Evaluasi

OTT Diduga Bocor di Kasus Bupati Kuansing dan Langkat, KPK Bakal Evaluasi

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 18:39 WIB

Agus Jabo Minta Kader PRIMA Kawal Program Kerakyatan Pemerintahan Prabowo

Agus Jabo Minta Kader PRIMA Kawal Program Kerakyatan Pemerintahan Prabowo

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:59 WIB

Pengembalian Gratifikasi Tak Hapus Pidana, KPK Bakal Dalami Pernyataan Raja Juli

Pengembalian Gratifikasi Tak Hapus Pidana, KPK Bakal Dalami Pernyataan Raja Juli

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:27 WIB

Tawuran Remaja di Cengkareng Digagalkan Patroli Gabungan, Celurit hingga Petasan Disita

Tawuran Remaja di Cengkareng Digagalkan Patroli Gabungan, Celurit hingga Petasan Disita

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:22 WIB

Transportasi dan Wisata Jakarta Bakal Digratiskan 5 Hari Saat HUT Ke-500

Transportasi dan Wisata Jakarta Bakal Digratiskan 5 Hari Saat HUT Ke-500

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 16:54 WIB

Sambut HUT ke-80, BNI Hadirkan Program Terus Ada, Ada Terus bagi Pengabdian untuk Negeri

Sambut HUT ke-80, BNI Hadirkan Program Terus Ada, Ada Terus bagi Pengabdian untuk Negeri

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 16:47 WIB

Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik, DPR Minta Pemerintah Cari Celah Efisiensi

Biaya Haji 2027 Berpotensi Naik, DPR Minta Pemerintah Cari Celah Efisiensi

News | Sabtu, 04 Juli 2026 | 16:30 WIB

×