Orasi Budaya Garin Nugroho: 5 Paradoks Revolusi Industri Digital

RR Ukirsari Manggalani | Ummi Hadyah Saleh
Orasi Budaya Garin Nugroho: 5 Paradoks Revolusi Industri Digital
Garin Nugroho membacakan orasi budaya dalam ulang tahun AJI ke-25 [Suara.com/Ummi Hadyah Saleh].

Inilah orasi budaya dari Garin Nugroho pada HUT AJI ke-25, mulai "Negara Melodrama" sampai keindahan ombak pembawa tsunami.

Garin mengatakan sejarah menunjukkan, sejak revolusi Industri 1.0 menjadikan banyak negara Eropa bertumbuh pesat kesejahteraan ekonominya untuk membangun serta menata dasar struktur serta superstruktur peradaban baru.

Misalnya kata Garin, kekayaan VOC sebagai korporasi ekonomi liberal terbesar dalam sejarah, kekuasaan VOC melebihi kekuasaan ekonomi Microsoft sekarang ini ataupun Petro China hingga Arab.

Logo Microsoft (Shutterstock)
Logo Microsoft (Shutterstock)

Selain itu, Garin menyebut peradaban menunjukkan bahwa realitas ekonomi dan sosial di Hindia Timur saat itu menunjukkan sebaliknya, banyak aspek hilang dalam narasi abad itu.

Pertama kata dia, kaum Bumi Putera kehilangan tanahnya dan bekerja sebagi buruh di perkebunan untuk tanaman eksport, namun upah tidak cukup memadai untuk batas minimum kehidupan.

Kemudian kedua, akses terhadap modal, teknologi baru dan produktivitas dikuasai elit ekonomi dan politik, yakni China dan Barat.

Ketiga, beragam jenis pajak ditumbuhkan untuk menarik modal ekonomi lewat kerja sama dengan elit penguasa lokal, rakyat menjadi sapi perahan. Keempat, sebagian para pejabat pribumi bukan pemberdaya dan melayani rakyat, namun dilayani rakyat untuk kekayaan pribadi serta kesejahteraan korporasi global. Kelima, menjamurnya korupsi baik pejabat lokal ataupun VOC dalam pola kerjasama yang sistemik.

"Keenam, liberalisme ekonomi dan kapitalisme dengan daya pegas revolusi teknologi baru tenyata tidak cukup memberi kesejahteraan umum masyarakat pribumi. Mesin uap lewat kereta api dan kapal serta infrstruktur jalan justru menjadi kepanjangan global mengambil kekayaan dan memeras tenaga rakyat yang semakin tidak sejahtera," ucap Garin.

Warisan itu, kata Garin Nugroho layak diberi garis bawah sendiri di tengah awal revolusi 4.0.

"Inilah sebuah warisan sangat kompleks revolusi Industri 1.0 yang jejaknya pasti terus hidup hingga sekarang. Meski, harus diakui, revolusi indusri 1.0 melahirkan, manusia genuine, meski sedikit, mampu melahirkan negara ini beserta kelengkapan pertumbuhan sebagai sebuah bangsa, termasuk para jurnalis humanis yang kemudian banyak masuk di politik. Dengan kata lain, jurnalisme ditumbuhkan oleh, untuk dan dari humanisme," tuturnya.

Hilangnya Keseriusan Membangun Dasar Perubahan

Garin menyebut salah satu dasar pertumbuhan peradaban bangsa adalah kemampuan mengolah kebangkitan di setiap momentum perubahan untuk meletakkan dasar struktur dan superstruktur bagi peta baru peradaban.

Dengan bangunan dasar di setiap perubahan, kata dia, sebuah bangsa mampu mendobrak secara struktural ketidakadilan serta ketimpagan sosial ekonomi.

"Jika kerja serius dan struktural ini tidak terjadi, teknologi baru atau revolusi industri 4.0 sekedar menjadi euforia penuh jargon, kemudian menjadi iming–iming serta narasi semu menutupi ketidaksiapan dan ketidakmampuan menghadapi jaman baru atau hanya menjadi topeng alias hiasan permukaan," kata Garin Nugroho.

Tak hanya itu, Garin mengatakan lewat kekayaan yang bertumbuh exponensial era liberalisme ekonomi 1.0, sebagian besar bangsa Eropa mampu memanfaatkan momentum tadi untuk menumbuhkan masyarakat sipil yang produktif dan kritis sekaligus membangun manajemen talenta manusia beragam profesi.

Garin mengatakan salah satu bangunan menjaga masyarakat sipil kritis dan produktif adalah membangun institusi publik, guna warga bangsa mampu mengolah, mengkontruksi dan dekonstruksi narasi bangsanya, baik lewat sumber foto, film, lukisan hingga beragam bentuk data dan informasi.

"Sebutlah lewat tersedianya beragam museum dan galeri hingga institusi kajian data. Dengan demikian mampu secara produktif mengelola perubahan jaman," ucap Garin Nugroho.

Sementara di Indonesia, kata Garin ketidakmampuan serta ketidakseriusan membangun masyarakat sipil beserta institusinya di setiap periode pertumbuhan ekonomi, menjadikan revolusi industri berbasis teknologi tidak bertumbuh linear, namun campur aduk, paradoks serta penuh goncangan dengan dampak tak terkendali.

Sebutlah, meski abad 21 ini disebut sebagai revolusi industri 4.0, ditandai dengan internet thinking dan online, namun realitas sehari-hari didominasi campur aduk karakter industri 2.0 dan 3.0.

"Perlu dicatat, era 2.0 ditandai dengan listrik dan industri masal, sementara era 3.0 ditandai dengan komputerisasi dan otomatisasi," ucapnya.

Ia menduga situasi campur aduk penuh paradoks ini, melahirkan kehilangan panduan serta dasar pertumbuhan berbagai sendi kehidupan berbangsa yang kompleks, ditambah lagi warisan revolusi industri 1.0 yang belum terpecahkan.

Menurutnya, catatan khusus perihal kehilangan dan ketimpangan bisa dilihat di era Presiden Soeharto.

Menjadi kenyataan, bahwa institusi–institusi data, informasi dan narasi berbangsa dikuasi oleh pemerintah bukan oleh masyarakat sipil. Narasi menjadi tunggal dan seragam sesuai dengan keinginan kekuasaan, menutupi berbagai ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik.

Laman berikut berbincang soal televisi swasta dan globalisme lewat satelit.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS