"Tapi opini yang Anda bentuk tatkala Presiden ingin memutuskan menerbitkan perppu atau tidak, ini kan juga tendensius," tuduh Arteria Dahlan, yang dibantah Djayadi Hanan.
"Kita menangkap suara publik. Kita mencoba menangkap suara publik. Cara menangkap suara publik itu antara lain lewat survei. Nah soal pengambil kebijakan, mau mempertimbangkan atau tidak, itu soal lain, tetapi dalam negara demokrasi, salah satu yang dipertimbangkan adalah publik," balas Djayadi Hanan.
Lalu Arteria Dahlan melarang Djayadi Hanan berbicara soal demokrasi. Dia juga menanyakan metode yang dipakai LSI untuk melakukan survei.
"By phone-kah? Atau turun ke lapangan?" tanyanya.
"Anda mau diskusi metodologi sama saya?" tantang Djayadi Hanan.
"Iya dong. Anda jelasin. Jangan belagak intelek, jelasin dulu. Biasanya LSI turun ke lapangan, sekarang by phone. Saya ingin tanyakan, dari mana Anda tahu, orang itu mengetahui atau paham dengan muatan revisi?" tanya Arteria Hanan lagi, tak mau kalah.
Perdebatan antara keduanya pun mulai berlangsung seru, hingga Arteria Hanan mengaku kalau dirinya juga pernah menyewa lembaga survei.
Najwa Shihab juga ikut terlibat dalam perdebatan keduanya dan sambil bercanda meledek Arteria Hanan.
"Anda pernah survei?" tanya Djayadi Hanan.
"Ya pernahlah. Saya ini wakil rakyat. Ya dipilih pasti lewat survei, Pak," jawab Arteria Dahlan.
Najwa Shihab lalu menggoda, "Yang survei Anda sendiri?"
"Enggak, kita nyewa lembaga survei," aku Arteria Dahlan.
"Oh nyewa. Oh nyewa juga. Jadi bukan Anda sendiri?" kata Najwa Shihab, masih menggoda.
"Tapi kita paham," seru Arteria Hanan.
Sambil sedikit tertawa, Najwa Shihab pun berkata, "Oh iya, DPR kan paham segala hal, kita tahu."