Kompolnas Sebut Wajar Polisi jadi Target Ancaman Teror

Agung Sandy Lesmana | Welly Hidayat
Kompolnas Sebut Wajar Polisi jadi Target Ancaman Teror
Gerak-gerik pelaku teror bom Polrestabes Medan pada Rabu (13/11/2019) terekam CCTV (Facebook Tony Pratondoadi)

"Itu mereka (polisi) ada Bhabinkamtibmas, tapi Bhabinkamtibmas tidak bisa mendeteksi indikasi lone wolf yang hanya terinsipirasi," kata Adrian.

Suara.com - Komisioner Kompolnas, Adrian Pulungan menyebut fenomena aksi terorisme yang belakangan menyasar kepada aparat kepolisian bukan merupakan hal yang baru.

Menurut Adrian, ancaman aksi bom bunuh diri merupakan risiko yang harus dihadapi aparat kepolisian karena kerap bersinggungan langsung dengan penindakan terhadap kelompok teroris.

"Kalau kami lihat kenapa polisi jadi sasaran, saya pikir itu konsekuensi logis karena polisi berhadapan langsung dengan masyarakat dalam bidang penindakan hukum," kata Adrian, dalam diskusi Menguji, Efektifitas, Program, deradikalisasi, di Jalan Kebin Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu (23/11/2019).

Adrian menyebut, tindakan aparat yang kerap mempersempit ruang gerak para terduga teroris justru mendapatkan balasan dengan pelaku teror untuk menjadikan polisi sebagai target. Maka, dia pun menilai, antisipasi terhadap aksi teror ini juga harus melibatkan semua pihak termasuk peran masyarakat untuk bisa melaporkan jika di lingkungannya mencurigai kegiatan dari warga pendatang.

"Kalau penanganan polisi enggak bisa sendiri," ujar Adrian.

Menurut Adrian, polisi masih tampaknya masih kesulitan untuk menelisik aksi teroris yang tidak dilakukan secara berkelompok. Sebab, kata dia, terduga teroris lone wolf kerap tak terdeteksi oleh aparat kepolisian.

"Itu mereka (polisi) ada Bhabinkamtibmas, tapi Bhabinkamtibmas tidak bisa mendeteksi indikasi lone wolf yang hanya terinsipirasi," kata Adrian.

Diketahui, aksi bom bunuh diri terjadi di Mapolrestabes Medan, beberapa pekan lalu. Aksi teror itu dilakukan seorang pemuda bernama Rabbial Muslim Nasution (24). Dari aksi peledakan itu, ada sebanyak enam orang mengalami luka-luka. Aksi bom diri yang dilakukan Rabbial ini termasuk dalam kategori lone wolf.

Terkait hal itu, Adrian pun menyebutkan teroris lone wolf ini kerap beraksi melakukan teror untuk merepresentasikan rasa kebenciannya kepada aparat hukum. Adrian pun meminta kepada lembaga pemerintah yang membidangi terorisme, turut membantu dalam menangkal aksi terorisme di Indonesia.

"Tapi (teroris lone wolf) ini tujuannya mengungkapkan kebenciannya kepada Polri dalam penegakan hukum," ucap Adrian.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS