Sebagian besar toko dan pasar di Wuhan tidak beroperasi sejak penyebaran virus corona. Dua buruh asal Indonesia mengaku mengandalkan persediaan makanan majikan mereka.
'Boleh pulang tapi harus dipenjara dulu'
Buruh migran Indonesia lain yang terisolasi di Wuhan adalah Asih. Perempuan asal Lampung itu bekerja di Wuhan sejak enam tahun terakhir.
Asih mengaku cemas dengan penyebaran virus corona, walau ia mengikuti saran untuk tidak keluar rumah majikan selama sepuluh hari terakhir.
"Yang namanya manusia, saya waswas. Saya cuma bisa berdoa dan tawakal," kata Asih saat dihubungi dari Jakarta.
"Majikan saya bilang, 'Kamu enggak usah khawatir, kamu tanggung jawab saya, pokoknya ikuti perkataan saya'."
"Makan seadanya, dengan garam pun saya bisa. Tapi hati tidak enak. Waswas. Majikan bilang nanti saya malah bisa sakit," ujarnya.
Sejumlah buruh migran Indonesia di China mengaku baru mengetahui penyebaran virus corona jelang perayaan Imlek lalu.
Asih mengaku sempat berkorespondensi dengan sejumlah WNI di Wuhan terkait pemulangan ke Indonesia. Ia mendapat informasi bahwa hanya yang berpaspor dan memegang visalah yang dapat dievakuasi.
Kalaupun berkeras ingin mengikuti evakuasi itu, Asih berkata ia perlu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing dan mengaku kesalahan bekerja tanpa visa ke pihak imigrasi China.
Wuhan dan Beijing berjarak sekitar 1.100 kilometer. Itu setara kurang lebih 11 jam perjalanan darat dan delapan jam penerbangan pesawat.
"Saya diminta bicara terus terang ke KBRI. Sedangkan saya keluar rumah saja tidak bisa, nanti sampai Beijing harus dipenjara setengah bulan, itu sama saja bunuh diri. Akhirnya saya tidak jadi hubungi KBRI," ujarnya.
Asih mengklaim saat ini terdapat setidaknya delapan hingga 12 buruh migran Indonesia di Wuhan. Sebagian dari mereka disebutnya enggan berbicara kepada pers karena khawatir dengan status hukum mereka.
Karena tidak memegang visa kerja, sebagian buruh migran Indonesia di China bergantung pada bantuan majikan jika harus memeriksakan diri ke rumah sakit.
'Harus lapor ke KBRI'
Direktur Perlindungan WNI di Kemlu, Judha Nugraha, menyebut KBRI di Beijing telah memberi pengumuman kepada seluruh warga Indonesia di China.
Saat dikonfirmasi terkait keberadaan sejumlah buruh migran ilegal asal Indonesia di Wuhan, Judha berkata "harus memverifikasi dahulu informasi itu".
"KBRI sebelumnya sudah memberikan pengumuman agar WNI yang tinggal di wilayah karantina, termasuk Wuhan, agar segera lapor diri melaliu hotline KBRI Beijing," ujar Judha, Rabu siang.
'Berdaya mandiri'
Indah Morgan, seorang pegiat buruh migran di Shanghai, menyebut pemerintah China tidak mengeluarkan visa kerja bagi pekerja domestik. Mayoritas buruh migran Indonesia di China disebutnya datang dengan visa turis dan bekerja tanpa dokumen resmi.
Izin keluar China bagi orang-orang tanpa visa, kata Indah, harus ditebus hukuman kurungan penjara. Durasinya tergantung waktu lebih tinggal di China.
Indah tergabung dalam grup perbincangan di aplikasi WeChat yang berisi buruh migran perempuan Indonesia dari berbagai kota di China.
Sejak Wuhan ditutup otoritas China, buruh migran asal Indonesia menyebut kota itu seperti kota mati, tanpa aktivitas massa di ruang publik.
Dalam beberapa pekan terakhir, Indah mengaku melihat kecemasan di antara asisten rumah tangga asal Indonesia tersebut.
"Setiap rabu pertama dan ketiga setiap bulan, ada konferensi online. Di situ kekhawatiran mereka jelas ada. Tapi mereka terbatas karena tidak memiliki paspor dan visa. Mereka tidak pegang apa-apa," kata Indah.
Namun dalam perbicangan di grup pesan singkat itu pula, kata Indah, para buruh migran asal Indonesia saling menguatkan psikologis satu sama lain, termasuk membantu rekan yang kesulitan biaya saat jatuh sakit.
"Kita seharusnya tidak mengikuti kekhawatiran itu dan segera mengganti pikiran bahwa kita punya agama dan tujuan untuk bertahan di China," kata Indah mengulang salah satu penggalan perbincangan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, satu buruh migran Indonesia di Singapura telah dinyatakan terinfeksi virus corona. Adapun sebanyak 238 WNI yang dipulangkan dari Wuhan kini masih menjalani observasi medis selama 14 hari di Natuna.
Merujuk catatan Badan Kesehatan Dunia, kasus infeksi virus corona pertama kali dilaporkan di Wuhan tanggal 31 Desember 2019.
Setidaknya 492 orang di berbagai negara dilaporkan meninggal akibat virus ini. Virus ini disebut telah menular ke lebih dari 24 ribu orang yang berasal dari sekitar 25 negara.