13 Hari Kritis sampai Berhalusinasi, Pasien 119 Sembuh dari Virus Corona

Reza Gunadha | Farah Nabilla | Suara.com

Rabu, 01 April 2020 | 16:13 WIB
13 Hari Kritis sampai Berhalusinasi, Pasien 119 Sembuh dari Virus Corona
Pasien corona. (Antara)

Suara.com - Pasien bernomor 119 itu berhasil melewati masa kritisnya setelah 13 hari berjuang melawan covid-19.

Mulanya, Ben mengalami demam 37,2 derajat celcius ketika memeriksakan diri ke dokter umum pada 27 Februari 2020.

Dua hari kemudian pada 29 Februari, dia kembali mengunjungi dokter dan mendapati demamnya naik menjadi 38 derajat cerlcius. Dia tak memiliki gejala lain.

Keesokan harinya, demam di tubuh Ben tak kunjung hilang. Ben kemudian memeriksakan diri ke Alexandra Hospital pada 1 Maret. Ia mendapat sertifikat medis dan diperbolehkan pulang.

Pada 5 Maret, Ben kembali lagi ke rumah sakit dengan demam 37,4 derajat celcius. Ia menjalani tes dan hasinya dia terinfeksi virus.

Meskipun dia tak mengalami sesak napas, namun pemeriksaan menunjukkan bahwa saturasi oksigennya sangat rendah.

Dokter memberinya oksigen tingkat tinggi melalui masker oksigen.

"Karena dia membutuhkan oksigen yang cukup banyak, kami memindahkannya ke UGD untuk pemantauan lebih dekat. Kami menduga dia menderita covid-19," kata Dr Liew Mei Fong, kepala UGD pada The Straits Times.

Suhu tubuh Ben tak kunjung stabil. Demamnya naik turun.

Enam jam kemudian, kondisinya memburuk di UGD. Dokter harus memberinya life support.

Hasil tes laboratorium Ben kembali menunjukkan bahwa dia positif terkena covid-19.

Kondisi Ben menurun drastis dalam waktu sehari.

Dr Liew kemudian memasang tabung pernapasan yang terhubung ke ventilator ke tenggorokannya melalui mulut.

Ia mengalami sindrom gangguan pernapasan akut atau Ards.

Selain itu, Ben juga memiliki diabetes dan tekanan darah tinggi. Penyakit bawaan ini menambah parah infeksi covid-19 padanya.

Laki-laki berusia 55 tahun ini pun menggunakan Kaletra, kombinasi obat HIV, untuk mengatasi sakitnya.

"Ketika saya mendengar kata life support, saya begitu ketakutan," kata Ben. "Pikiran menjadi kosong untuk beberapa saat."

Ben lalu mengirim pesan kepada keluarganya untuk memberitahukan keadaannya. Ia juga mengirim sms kepada salah seorang temannya untuk menunjukkan dimana surat wasiatnya berada.

"Jika sesuatu terjadi pada saya, tolong beri tahu keluarga saya tentang surat wasiat saya".

Pukul 11 malam, Dr Liew meninggalkan rumah sakit setelah menstabikan kondisi Ben.

"Ketika saya diintubasi, saya bangun di sebuah ruangan kantor yang tidak saya kenali," kata Ben.

Ben menatap ruang kantor yang berisi meja, lemari arsip, jam dan tak ada seorang pun di sana.

"Itu menakutkan, dalam artian aku tak punya kendali. Aku tidak bisa keluar," kisah Ben.

Dalam adegan halusinasi selanjutnya, kepalanya dikelilingi oleh bahasa-bahasa Korea yang ia sama sekali tak mengerti.

"Aku mencoba memejamkan mata, tetapi aku tak bisa menghindarinya," kata Ben yang mengalami halusinasi ini ketika dibius.

Ben melanjutkan, "Aku hanya bisa berpikiroh tolong, aku hanya ingin keluar dari sini, aku tidak bisa menerimanya! Lalu aku pindah ke adegan selanjutnya".

Dr Liew mengarakan, Ben menderita ICU delirium. Kondisi ini umum terjadi pada pasien yang kritis dan menerima sedasi dengan dosis tinggi.

"Jika mereka tidak dibius dengan benar, kita tidak akan bisa membebaskan mereka dari ventilator untu membantunya bernapas, dan itu akan semakin memperburuk peradangan paru-paru," kata Liew.

Ben bergantung pada alat bantu pernapasan hingga lima hari kemudian.

Perlaha, Dr Liew melepas secara bertahap dari alat bantu ventilator dans edasi tersebut.

"Aku ingat saat ditanya rasa sakit, dan aku bisa mengedipkan mataku," kenang Ben. "Aku harus mengatakan bahwa mereka sangat sabar. Mereka menanyaiku berkali-kali dan menunjuk tabung pernapasan. Saat itulah aku menyadari telah membaik karena bisa merespon perlahan pada dokter dan perawat."

Pada 12 Maret, Ben lepas dari ventilator.

Tabung pernapasannya telah dilepas dan dosis obat penenangnya telah dikurangi.

Ben menerima suplemen oksigen dari kanula hidung.

"Aku ingat mencoba mengatakan 'terima kasih' tetapi aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun," kata Ben.

Dokter memberi tahunya bahwa pita suara Ben terpengaruh hingga perlu beberapa saat untuk bisa mendapatkannya kembali.

Ben kemudian mencoba tidur. Namun, setiap kali ia memejamkan mata, dia melihat spesies luar angkasa dari film Predators di seluruh kamarnya.

Ben tersadar setelah melihat dokter dan perawat sibuk di luar.

Dia harus berada di UGD selama beberapa hari lagi, kalau-kalau kondisinya memburuk.

Ingatan Ben hanya tentang halusinasi. "Aku bahkan tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah aku dirawat di rumah sakit," kata Ben.

Perawat membantunya mengingat apa yang telah terjadi. Dia juga membaca pesan yang dia kirim kepada keluarganya.

"Sejujurnya aku tidak menyadari betapa kritisnya kondisiku. Aku hanya melihat dari pesan yang dikirim kakakku ke keluargaku. Satu pesan mengatakan kondisiku telah membaik tetapi aku tidak sadar."

Para perawat memanggil namanya. Mereka membantu membersihkan kotorannya.

"Mereka mengubah posisi saya ke kanan, ke kiri, dan memindahkan saya ke posisi yang lebih nyaman".

Ben merasa tak enak karena beberapa kali harus meminta bantuan setelah beberapa menit perawat meninggalkan kamarnya.

"Mereka harus mengenakan perlengkapan pelindung setiap kali mereka datang, tapi mereka tak pernah mengeluh," kata Ben.

Rambut Ben bahkan disisir oleh para perawat tersebut, "Berapa banyak orang yang benar-benar menyisir rambut untukmu?" kenang Ben.

"Ada suatu hari ketika saya bertanya apakah saya bisa mendapatkan alat cukur sekali pakai. Perawat itu benar-benar pergi mengambilkannya, sehingga saya benar-benar tersentuh," ucap Ben.

Para dokter dan perawat yang tak pernah ia kenal akan melambai dan tersenyum padanya ketika berjalan meewati kamarnya.

Dia mengatakan para perawat yang berasal dari Malaysia, Taiwan, Filipina, Vietnam, dan Singapura menginginkannya sembuh.

"Aku merasa tanpa mereka, aku tidak akan cepat sembuh," kata Ben.

Pada 17 Maret, Ben dipindahkan dari UGD ke bangsal isolasi karena ia sudah bisa bernapas tanpa alat bantu.

"Saya sadar covid-19 telah membunuh banyak orang di seluruh dunia, dan ditempatkan di UGD berarti ada kemungkinan bahwa saya tak bisa keluar selamat," katanya.

Sementara itu, Dr Liew mengatakan meskipun sistem kesehatan di Singapura kuat, kita tetap harus memperhatikan tanggung jawab sosial dan jarak sosial untuk menghentikan pandemi ini.

Setelah tiga kali melakukantes usap secara terspisah dan hasilnya menunjukkan negatif covid-19, Ben kembali ke rumahnya.

"Saya menangis berkali-kali. Saya juga menangis ketika seorang perawat mengatakan kepada saya bahwa dia berdoa untuk saya meskipun dia tidak mengenal saya. Saya juga menangis ketika saya melihat bahwa para perawat begitu sibuk dan belum, mereka merawat saya dengan baik, "kata Ben.

"Aku menyadari bahwa aku memiliki kesalahpahaman bahwa ICU seperti hukuman mati ... tapi aku menyadari bahwa itu mungkin satu-satunya tempat yang bisa menyelamatkanku. Aku adalah bukti hidup."

Ben kembali menangis saat wawancara ini karena dia sangat tersentuh dengan apa yang dilakukan para dokter dan perawat untuknya dan "sangat bersyukur karena masih hidup".

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sebut Kebijakan Menkumham Diskriminatif, DPR: Napi Tipikor Tak Dibebaskan?

Sebut Kebijakan Menkumham Diskriminatif, DPR: Napi Tipikor Tak Dibebaskan?

News | Rabu, 01 April 2020 | 15:48 WIB

Minta Warga Tak Tolak Jenazah Corona, Ganjar: Tolong Jaga Perasaan Keluarga

Minta Warga Tak Tolak Jenazah Corona, Ganjar: Tolong Jaga Perasaan Keluarga

Jawa Tengah | Rabu, 01 April 2020 | 15:44 WIB

Presiden Jokowi Tinjau RS Darurat Corona di Pulau Galang Batam

Presiden Jokowi Tinjau RS Darurat Corona di Pulau Galang Batam

Foto | Rabu, 01 April 2020 | 15:43 WIB

LIVE STREAMING: Update Covid-19 Rabu, 1 April 2020

LIVE STREAMING: Update Covid-19 Rabu, 1 April 2020

Video | Rabu, 01 April 2020 | 15:32 WIB

Sebut di Daerah Tak Ada Karantina Wilayah, Jokowi: Lockdown Itu Apa Sih?

Sebut di Daerah Tak Ada Karantina Wilayah, Jokowi: Lockdown Itu Apa Sih?

News | Rabu, 01 April 2020 | 15:30 WIB

Jokowi Tinjau Kesiapan RS Darurat Covid-19 di Pulau Galang

Jokowi Tinjau Kesiapan RS Darurat Covid-19 di Pulau Galang

Video | Rabu, 01 April 2020 | 15:30 WIB

Penerapan Pembatan Sosial Bersekala Besar Harus Dengan Persetujuan Menkes

Penerapan Pembatan Sosial Bersekala Besar Harus Dengan Persetujuan Menkes

News | Rabu, 01 April 2020 | 15:29 WIB

Akun Ustaz Maher Ngegas, Sindir Dokter Tirta soal 'Lockdown' Gegara Corona

Akun Ustaz Maher Ngegas, Sindir Dokter Tirta soal 'Lockdown' Gegara Corona

News | Rabu, 01 April 2020 | 15:26 WIB

Tetap Jaga Kebersihan, Virus Corona Bisa Bertahan 3 Hari di Permukaan Benda

Tetap Jaga Kebersihan, Virus Corona Bisa Bertahan 3 Hari di Permukaan Benda

Health | Rabu, 01 April 2020 | 15:26 WIB

Terkini

Jangkauan Rudal Iran Kejutkan Dunia, Kota di Israel Luluh Lantak

Jangkauan Rudal Iran Kejutkan Dunia, Kota di Israel Luluh Lantak

News | Minggu, 22 Maret 2026 | 08:00 WIB

Fasilitas Natanz Diserang Israel dan AS, Iran Waspada Bencana Nuklir

Fasilitas Natanz Diserang Israel dan AS, Iran Waspada Bencana Nuklir

News | Minggu, 22 Maret 2026 | 06:59 WIB

Tak Ada di Rutan KPK, Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah

Tak Ada di Rutan KPK, Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 22:25 WIB

Open House Anies Baswedan: Momen Sampaikan Aspirasi Hingga Karya Lukis

Open House Anies Baswedan: Momen Sampaikan Aspirasi Hingga Karya Lukis

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 22:21 WIB

Prabowo Minta Kasus Andrie Yunus Diusut Tuntas, Anies Baswedan: Aparat Harus Wujudkan

Prabowo Minta Kasus Andrie Yunus Diusut Tuntas, Anies Baswedan: Aparat Harus Wujudkan

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 22:15 WIB

4 Prajurit TNI Jadi Tersangka Kasus Andrie Yunus, Anies Baswedan: Selidiki Sampai Pemberi Perintah!

4 Prajurit TNI Jadi Tersangka Kasus Andrie Yunus, Anies Baswedan: Selidiki Sampai Pemberi Perintah!

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 22:08 WIB

Tak Hadir Open House Anies Baswedan, Tom Lembong Sudah Kirim Pesan Ucapan Lebaran

Tak Hadir Open House Anies Baswedan, Tom Lembong Sudah Kirim Pesan Ucapan Lebaran

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 22:02 WIB

Ngeri! Iran Tembakkan Rudal Balistik Sejauh 2500 Mil Serang Pangkalan AS-Inggris

Ngeri! Iran Tembakkan Rudal Balistik Sejauh 2500 Mil Serang Pangkalan AS-Inggris

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 22:00 WIB

Jangan Salah Paham! Begini Aturan Main Skema WFH 1 Hari Seminggu yang Sedang Digodok Pemerintah

Jangan Salah Paham! Begini Aturan Main Skema WFH 1 Hari Seminggu yang Sedang Digodok Pemerintah

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 21:55 WIB

Pemerintah Godok Skema WFH untuk ASN, Ini Alasannya

Pemerintah Godok Skema WFH untuk ASN, Ini Alasannya

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 21:49 WIB