"Sangat menginspirasi. Setiap lagunya ada maknanya," kata Dafa, salah-seorang penggemarnya. Dia mengaku awal mula mengenal Didi melalui lagu Stasiun Balapan, tetapi lagu favoritnya adalah Suket Teki.
Mahasiswa salah-satu perguruan tinggi swasta di Solo ini mengaku rajin datang ke konser idolanya. "Kalau ada waktu, saya luangkan datang."
Dia juga mengaku merasa kehilangan. "Sekarang enggak ada lagi yang nyanyikan lagu Ambyar... Tidak akan tergantikan. Maestro." Ambyar adalah salah-satu lagu karya Didi.
Penggemar lainnya, Wiwin, mengaku pernah dijanjikan untuk bertemu idolanya pada lebaran Idul Fitri nanti untuk "nyanyi bareng". "Tapi Tuhan punya rencana lain," akunya kepada Fajar Sodiq.
Apa lagu karya Didi yang paling Anda suka? "Saya Tatu banget! Tatu adalah salah-satu judul karyanya. "Sampai mendalam, dan saya suka sekali."
Triono, anggota Sobat Ambyar lainnya, mengaku ada satu karya Didi yang mirip kisah hidupnya, sehingga membuatnya selalu tersentuh saat mendengarnya.
"Judulnya Suket Teki, itu kayak kisah hidup saya." Triono kemudian tertawa getir. "Saya sekarang kehilangan."
Mengapa anak-anak muda tertarik lagu-lagu Didi Kempot?Berbagai laporan menyebutkan bahwa sebagian lagu yang ditulis Didi Kempot semasa hidupnya bertemakan patah hati, yang kelak disebutkan digemari oleh kaum muda.
Dia juga seringkali menautkan kisah patah hati itu dengan lokasi atau tempat tertentu utamanya di Kota Solo.
Menurut Remy Sylado, lirik-lirik lagu karya almarhum yang disebutkan diwarnai kisah patah hati dan menimbulkan histeria dari penggemarnya, terjadi pula pada musik-musik pop di manapun.
"Kalau itu sangat mendunia. Ketika terminologi pop mulai dikenal, lagu-lagu pop di AS juga memanfaatkan (kisah) patah hati," ujarnya.
Hal ini juga jamak terjadi dalam sejarah musik pop di Indonesia, kata Remy.
"Jangan lupa, lagu populer di Indonesia pada 1960-an, yang dinyanyikan oleh Rachmat kartolo, itu juga tentang patah hati," ungkapnya.
Apa yang melatari sehingga lagu campur sari Didi Kempot digemari?Remy Sylado menganggap lagu yang dilantunkan Didi Kempot itu merupakan lagu rakyat (folk song) yang selaku memiliki penggemar.
Dia menganggap pula bahwa lagu-lagu karya almarhum menjadi populer tidak terlepas dari liriknya yang berbahasa Jawa.